Ilustrasi dai wanita menyampaikan pesan takwa kepada masyarakat. | Republika/Putra M. Akbar
10 Jun 2021, 09:18 WIB

Dorong Kaderisasi Dai Wanita

MUI berencana mengadakan pelatihan dakwah untuk dai wanita.

JAKARTA — Keikutsertaan penceramah perempuan dalam program dakwah di televisi masih minim. Hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan, penceramah pada program dakwah di televisi didominasi laki-laki, yakni sebesar 88,8 persen. Karena itu, upaya mencetak penceramah perempuan (daiyah) perlu digalakkan.

Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Siti Ma'rifah mengakui, jumlah ulama perempuan memang belum banyak. Hal ini juga terlihat dari ulama perempuan yang aktif di MUI, baik di Komisi Dakwah maupun Komisi Fatwa.  

Menurut dia, selama ini para pendakwah perempuan lebih banyak berkecimpung di bidang pendidikan atau pendampingan. “Banyak ulama perempuan yang berkecimpung di bidang pendidikan, baik di pesantren, sekolah, maupun hal lain di bidang pendampingan,” kata Ma’rifah kepada Republika, Rabu (9/6).

Untuk mengatasi minimnya jumlah pendakwah perempuan di media televisi, dia melanjutkan, perlu disiapkan kader-kader ulama perempuan. Komisi PRK MUI, misalnya, berencana mengadakan semacam pelatihan dakwah khusus untuk perempuan agar mereka mampu berdakwah di media.

Terkait

“Media ini tidak hanya televisi, tapi juga ada podcast dan Youtube. Hal ini sudah banyak dilakukan, termasuk saya di podcast di rumah sakit memberikan penjelasan soal fikih perempuan," ujar dia.

Media dakwah saat ini sangat luas. Namun, televisi merupakan salah satu media yang menjadi perhatian Komisi PRK MUI. Pendakwah pun perlu dibimbing agar mampu tampil di televisi. Salah satu yang perlu dilatih, menurut Ma’rifah, adalah kemampuan berbicara di depan publik.

“Insya Allah bersama Komisi Dakwah MUI, kami akan memperhatikan dan menyiapkan ulama perempuan ini. Selain itu, akan dibangun juga kerja sama dengan lembaga perempuan dari ormas-ormas Islam di Indonesia," ujar Ma'rifah.

Dalam pandangan Koordinator Bidang Dakwah Pimpinan Pusat Fatayat NU Miftahul Janah, masih minimnya daiyah yang tampil di media massa seperti televisi disebabkan banyak faktor. Dari sisi internal, khususnya di kalangan perempuan NU, masih banyak daiyah yang merasa sungkan.

"Kalau bahasa pesantren sikap tawadhu didahulukan, yaitu sikap merasa belum yang terbaik. Sehingga mempersilakan mereka yang lebih mumpuni untuk tampil," kata dia.

Sementara, secara eksternal, menurut Miftah, penyebabnya adalah media massa, khususnya televisi, yang belum banyak memberi kesempatan kepada daiyah untuk tampil.

Karena itu, Fatayat NU berupaya melakukan pengaderan internal, dengan cara memotivasi dan mendorong daiyah yang bernaung di bawah organisasi ini agar mau tampil dan membuat konten dakwah digital. Daiyah Fatayat juga melakukan pengaderan kepada daiyah pemula di majelis taklim dengan acuan modul yang dimiliki Fatayat.

Miftah menekankan, sebenarnya sangat penting bagi perempuan untuk berdakwah yang tidak saja kepada keluarga, tetapi juga dakwah keluar, yakni kepada publik. Hal ini merupakan bagian dari upaya daiyah Fatayat ikut serta membangun karakter atau akhlak anak bangsa.

Sebelumnya, peneliti PPIM UIN Jakarta Aptiani Nur Jannah mengungkapkan, penceramah pada program dakwah di televisi didominasi laki-laki, yakni 88,8 persen, jauh melebihi penceramah perempuan yang hanya 11,2 persen.

“Rendahnya porsi perempuan yang menjadi narasumber pengetahuan agama, berbanding terbalik dengan mayoritas target penonton yang adalah perempuan dengan profesi ibu rumah tangga," kata dia, Selasa (8/6).


×