Hikmah Republika Hari ini | Republika
10 Jun 2021, 03:30 WIB

Nasihat Si Kecil

Hanya orang yang berhati bersih yang siap menerima nasihat.

 

OLEH IMAM NUR SUHARNO

 

Ketika Abu Yazid Al-Busthami mempelajari firman Allah SWT yang berbunyi, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit.” (QS al-Muzzammil [73]: 1-2).

Terkait

Padahal, saat itu dia masih kecil, dia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, berdasarkan ayat tersebut siapa sebenarnya yang diperintahkan Allah untuk bangun?”

Ayahnya menjawab, “Wahai anakku, dia adalah Nabi SAW.” Dia bertanya lagi, “Ayah, lalu mengapa engkau tidak melakukan sesuatu sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW?”

Dia menjawab, “Wahai anakku, perintah tersebut ditujukan khusus kepada Nabi SAW. Hukum shalat malam (Tahajud) wajib bagi Nabi, tapi tidak bagi umatnya.” Kemudian si kecil terdiam.

Kemudian ketika dia hafal firman Allah SWT yang berbunyi, “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (QS al-Muzzammil [73]: 20).

Dia bertanya lagi kepada ayahnya, “Wahai ayah, sesungguhnya aku pernah mendengar ada sekelompok orang secara berjamaah melakukan shalat malam, lalu siapakah mereka?”

Si ayah dengan sabar menjawab, “Mereka adalah para sahabat Nabi SAW.” Dia bertanya lagi, “Terus mengapa ayah tidak melakukan apa yang telah dilakukan para sahabat?” Sang ayah menjawab, “Kamu benar wahai anakku, aku insyaAllah tidak akan meninggalkannya lagi.”

Setelah itu, sang ayah selalu bangun malam dan melaksanakan shalat Tahajud. Pada suatu malam Abu Yazid terjaga dari tidurnya dan saat itu dia melihat ayahnya sedang melaksanakan shalat Tahajud. Lalu dia berkata, “Ajari aku wahai ayah, bagaimana cara mengambil air wudhu dan melakukan sesuatu yang telah engkau perbuat, dan aku ingin melaksanakannya bersamamu.”

Kemudian sang ayah berkata, “Wahai anakku, tidurlah, sesungguhnya engkau masih sangat kecil.” Dia menjawab, “Wahai ayahku, jika suatu hari ada segerombolan orang datang untuk memperlihatkan amal-amal mereka, maka aku akan melaporkan pada Tuhan, bahwa aku sudah meminta kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci sehingga aku bisa shalat bersamanya, namun dia malah menolakku dan menyarankan aku agar tidur saja karena dianggapnya aku masih kecil.”

Sang ayah kaget dan sepontan menjawab, “Demi Allah, jangan kamu lakukan itu wahai anakku.” Akhirnya sang ayah mengajarinya wudhu dan melaksanakan shalat bersamanya.

Kisah di atas memberikan pelajaran kepada kita tentang sebuah nasihat. Tidak penting dari siapa nasihat itu. Nasihat atau masukan dari siapa pun selayaknya diterima dengan lapang dada.

Masalahnya, tidak semua orang siap menerima nasihat, apalagi jika nasihat itu berasal dari seorang anak, atau dari orang yang status sosialnya lebih rendah, atau dari orang yang usianya lebih muda. Di sinilah kelapangan dada diuji. Hanya orang yang berhati bersih yang siap menerima nasihat.

Ketahuilah bahwa salah satu kunci keselamatan itu adalah saling menasihati. (QS al-Ashr [103]: 1-3).

Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita kaum Muslimin agar siap menerima nasihat dari siapapun nasihat itu berasal. Amin.


×