Petugas kesehatan menjemput pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh di Gedung BLK Manggahang, Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (9/6). Bandung merupakan salah satu kota yang mask daftar mengkhawatirkan. | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
10 Jun 2021, 03:55 WIB

Kasus Covid-19 di Sembilan Daerah Mengkhawatirkan

Satgas sebut kasus Covid-19 di sembilan daerah berada dalam kondisi mengkhawatirkan.

JAKARTA – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menyebut kasus Covid-19 di sembilan daerah berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Pada tiga pekan setelah libur Lebaran 2021, kasus Covid-19 di sembilan daerah naik lebih dari 100 persen dan keterisian tempat tidur (BOR) telah melebihi 70 persen per Selasa (8/6).

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan di daerah-daerah tersebut mulai tak terkendali. Apabila terus dibiarkan seiring dengan bertambahnya kasus Covid-19, kata dia, maka rumah sakit (RS) akan penuh dan pasien dengan gejala sedang, berat, tidak dapat ditangani dengan cepat. "Kondisi ini dapat meningkatkan potensi kematian,” ujar Wiku saat konferensi pers, Rabu (9/6).

Enam dari sembilan daerah yang tergolong mengkhawatirkan berada di Jawa Tengah, yaitu Kudus, Jepara, Demak, Sragen, Semarang, Pati. Lalu, dua daerah di Jawa Barat, yaitu Bandung dan Cimahi. Sisanya adalah Pasaman Barat, Sumatra Barat.

Di Kabupaten Kudus, misalnya, Satgas mencatat kenaikan kasus mencapai 7.594 persen dengan BOR mencapai 90,2 persen. Lalu, di Jepara, kasus naik 685 persen dan BOR tercatat 88,18 persen.

Terkait

Wiku menekankan, tingginya kenaikan kasus di Kudus dalam beberapa hari terakhir harus menjadi pelajaran bersama, sehingga kenaikan kasus benar-benar dapat diantisipasi. “Antisipasi dengan mengenali karakter baik itu tradisi, budaya, kelemahan maupun kekuatan dari masing-masing wilayah sangatlah penting agar kasus dapat terkendali dan tidak meningkat secara signifikan,” jelas dia.

Meskipun kasus di berbagai daerah sedang melonjak, Wiku menyebut kenaikan kasus Covid-19 tahun ini pada tiga pekan setelah Lebaran tak separah dibandingkan tahun lalu. Pada 2020, kenaikan kasus tercatat mencapai 80,5 persen, sedangkan tahun ini sebesar 53,4 persen. Pada tahun ini, kenaikan kasus Covid-19 tertinggi terjadi di Jawa Tengah yang mencapai 120 persen.

Satgas mensinyalir kenaikan kasus di beberapa daerah dalam tiga pekan terakhir disebabkan meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur Lebaran lalu. Khusus di Kudus, lonjakan kasus Covid-19 diyakini karena adanya budaya Kupatan pada H+7 Lebaran dan ziarah. 

Di tengah tingginya lonjakan kasus, daerah dengan tingkat BOR isolasi tinggi diminta mengubah peruntukan tempat tidur reguler menjadi layanan pasien Covid-19. Dengan begitu, peningkatan jumlah kasus Covid-19 bisa diantisipasi lebih dini dengan ruang perawatan yang cukup.

photo
Vaksinator dari Tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polrestabes Bandung menyuntikkan vaksin Covid-19 ke warga lanjut usia (lansia) di Perumahan Taman Holis Indah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Rabu (9/6/2021). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

"Atau bisa mentransfer pasien ke rumah sakit di wilayah terdekat. Untuk pasien dengan gejala ringan dan tanpa gejala diusahakan isolasi mandiri di kediaman masing-masing jika memungkinkan. Atau di tempat isolasi terpusat jika tersedia," katanya. Secara nasional, Wiku menyebut angka BOR di 13 kabupaten/kota telah melebihi 70 persen.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi saat dihubungi Republika pada Selasa (8/6) malam juga menyebutkan, beberapa wilayah berada di zona merah karena BOR ruang ICU yang menangani Covid-19 naik hingga 100 persen. "Misalnya di Sumatra, ada Ogan Komering dan Musi Rawas yang BOR-nya 100 persen," kata Nadia.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan telah membuat tempat isolasi terpusat di berbagai daerah di Jateng. Salah satu tempat isolasi itu adalah Asrama Haji Donohudan Kabupaten Boyolali yang juga menjadi tempat untuk menampung pasien Covid-19 tanpa gejala dari Kabupaten Kudus dan Solo Raya.

Menurut dia, isolasi terpusat di Asrama Haji Donohudan efektif menahan laju penyebaran Covid-19. "Karena mereka yang tanpa gejala akan terkontrol semua. Lokasinya juga steril orang keluar-masuk," kata Ganjar, kemarin.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi masyarakat asal Solo Raya dan Kabupaten Kudus yang mau menjalani isolasi terpusat di Asrama Haji Donohudan. "Penyebaran Covid-19 di Kudus masih tinggi, sampai kami merayu-rayu dan ada yang tidak mau dipindahkan," kata Gubernur.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dinas Kominfo Bangkalan (kominfobkl)

Lonjakan kasus Covid-19, antara lain, juga sedang terjadi di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Bupati Bangkalan R Abdul Latif Amin Imron menyampaikan, kasus Covid-19 di daerahnya dipicu penularan pada klaster keluarga setelah mereka melakukan mudik Lebaran.

Pada kurun 10 April-7 Juni 2021, kasus Covid-19 di empat kecamatan di Bangkalan melonjak drastis. Satgas Covid-19 Kabupaten Bangkalan mencatat, kenaikan kasus konfirmasi positif dari 12 kasus menjadi total 322 kasus. “Pasien Covid-19 tertinggi ada di empat kecamatan, yakni Kecamatan Arosbaya, Klampis, Geger, dan Kecamatan Kota,” kata Abdul Latif, Rabu (9/6).

Abdul Latif menambahkan, dari 150 tempat tidur di RSUD Syarifa Ambami Ratoh Ebu, sudah terpakai 93 tempat tidur. Kemudian dari 74 tempat tidur di Balai Diklat, terpakai 35 tempat tidur dan di Balai Latihan Kerja (BLK) dari 30 tempat tidur sudah diisi oleh 17 pasien tanpa gejala.

Agar Covid-19 tak meluas ke daerah lain, pihaknya melakukan penyekatan wilayah. "Penyekatan masih diberlakukan di wilayah Arosbaya, di penyeberangan Kamal dan akses masuk Suramadu sisi Madura,” ujarnya.

‘Baru Bekerja Sudah Nganggur Lagi’

Melonjaknya kasus Covid-19 di Jawa Tengah kembali memukul sektor pariwisata. Para pengelola dan pekerja pariwisata di Kabupaten Semarang, misalnya, lagi-lagi harus menganggur karena tempat wisata kembali ditutup.

Jateng merupakan salah satu provinsi yang dihadapkan pada lonjakan kasus Covid-19. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 per Rabu (9/6), Jateng menempati urutan kedua sebagai provinsi dengan penambahan kasus harian terbanyak, yaitu 1.457 kasus.

Satgas juga merilis bahwa kasus Covid-19 di enam daerah Jawa Tengah berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Ini karena terjadi penambahan kasus lebih dari 100 persen, sementara tingkat keterisian rumah sakit (BOR) di atas 70 persen. Menurut Satgas, kondisi itu mencerminkan Covid-19 mulai tak terkendali.

photo
Sejumlah pasien orang tanpa gejala (OTG) Covid-19 berjemur di halaman Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (9/6/2021). Berdasarkan data pengawas isolasi pasien OTG Covid-19 Asrama Haji Donohudan, pasien yang berada di asrama per Rabu (9/6/2021) tercatat sebanyak 293 dari Kudus dan 190 dari Solo Raya. - (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Untuk menekan laju penularan Covid-19, Pemkab Semarang mengeluarkan Instruksi Bupati Semarang Nomor 14 Tahun 2021 tentang Perpanjangan PPKM Mikro. Menurut salah satu pengelola objek wisata, wahana wisata kini harus ditutup lagi.

“Setelah ada larangan operasional tempat wisata dalam mengantisipasi libur Lebaran, wahana wisata kami baru sepekan beroperasi lagi. Namun, sekarang harus tutup kembali,” kata pengelola objek wisata Umbul Sidomukti, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Bambang Ari Wijanarko, Rabu (9/6).

Meski begitu, ia mengaku akan mematuhi kebijakan Pemkab Semarang dalam upaya mengendalikan kasus baru Covid-19. Ia menceritakan, beberapa wahana wisata di Umbul Sidomukti telah ditutup kembali.

Saat ini, tempat wisata yang dikelolanya hanya mengandalkan pemasukan dari hunian resort serta restoran, yang jam operasionalnya juga harus menyesuaikan dengan instruksi bupati. “Sesuai instruksi bupati Semarang yang terbaru, kegiatan tempat usaha restoran dan sejenisnya, operasionalnya kembali dibatasi hanya sampai pukul 21.00 WIB,” kata Bambang.

Keluhan terkait dengan pembatasan kegiatan wisata dan tempat hiburan juga disampaikan kalangan pekerja wisata di Kecamatan Bandungan, seperti diungkapkan oleh Pujiwati (31 tahun). Dia baru bekerja kembali sekitar 10 hari, tapi kini harus kembali menganggur.

photo
Petugas Pemerintah Desa (Pemdes) Satgas Jogo Tonggo membersihkan meja Rumah Karantina Pemudik di Desa Sepat, Masaran, Sragen, Jawa Tengah, Senin (3/5/2021). - (MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA FOTO)

Ibu tiga anak yang sehari-hari bekerja di bagian kasir tersebut mengaku, tempatnya bekerja sebelumnya tidak beroperasi selama satu bulan penuh selama Ramadhan. Dia pun tidak mendapatkan pemasukan dari tempatnya bekerja.

Setelah Ramadhan berlalu, ia belum bisa bekerja kembali karena adanya pembatasan kegiatan wisata dan hiburan untuk mencegah lonjakan kasus Covid-19 pada libur Lebaran beberapa waktu lalu.

“Kini baru bekerja sekitar 10 hari, kembali ada kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat, dan mengharuskan wahana wisata dan tempat usaha hiburan ditutup kembali,” katanya.

Menurut dia, kebijakan tersebut kembali menjadi pukulan bagi para pekerja wisata dan sejenisnya di Kabupaten Semarang. Dengan adanya kebijakan itu, para pekerja seperti dirinya tidak bisa mendapatkan gaji penuh dari tempatnya bekerja.

Untuk menyambung hidup, ia mencoba untuk mencari pendapatan dengan berjualan secara daring. “Namun, bukan skala besar. Jadi hasilnya juga tidak seberapa,” katanya.

photo
Seorang pekerja tempat hiburan memasang pengumuman penutupan tempat usaha hiburan karaoke di wilayah Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Rabu (9/6/2021). Tempat hiburan menjadi sakah satu usaha wisata yang ditutup untuk mengendalikan Covid-19 sesuai Instruksi Bupati Semarang. - (Bowo Pribadi/Republika)

Ketua Asosiasi Karyawan Pariwisata (Akar) Kabupaten Semarang, Pujiono mengatakan, semua tempat usaha wisata dan hiburan di Kabupaten Semarang mendukung kebijakan pemerintah, terkait pandemi Covid-19. Namun, para pekerja pariwisata umumnya sepakat menginginkan adanya kepastian sampai kapan penutupan dilakukan. Sebab, instruksi penutupan usaha pariwisata dan hiburan tidak boleh beroperasi sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Ia berharap, ada kebijakan khusus bagi usaha pariwisata agar perekonomian pekerja di sektor ini tetap bisa bergerak. “Selama ini kami pun sudah tertib untuk melaksanakan protokol kesehatan yang ketat dan menerapkan SOP pencegahan Covid-19,” katanya.

Bupati Semarang Ngesti Nugraha sebelumnya menegaskan, penutupan operasional tempat wisata dan pembatasan dilakukan untuk melindungi masyarakat dari risiko penyebaran Covid-19. Terlebih, lonjakan kasus Covid-19 saat ini sedang terjadi di sejumlah daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Semarang.

“Jadi, larangan dan pembatasan bukan untuk mempersulit masyarakat, melainkan sebenarnya untuk melindungi masyarakat dari risiko penyebaran pandemi yang lebih luas,” kata dia.

Sumber : Antara


×