Kisah Dalam Negeri
Menerka Nasib PAN Pasca-Amien
Secara organisasi, PAN bisa menjadi partai elektoral profesional.
OLEH FEBRIANTO ADI SAPUTRO
Partai Amanat Nasional (PAN) menegaskan tak mendukung poros Islam yang diwacanakan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bahkan, Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno membeberkan partainya hampir bergabung dengan parpol koalisi pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.
Kondisi ini sangat berbeda saat pendiri PAN Amien Rais masih berada di partai berlambang matahari terbit. Amien selalu terkesan menjadi oposisi bagi pemerintahan Jokowi. Bahkan, Amien yang membuat PAN gagal merapat di barisan PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, dan PPP yang mengusung Jokowi-Amien.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPO) Ujang Komarudin menilai, berbagai dinamika yang terjadi di partai berlambang matahari tersebut dapat berpengaruh terhadap nasib di Pemilu 2024. "Bisa eksis dan bisa juga turun," kata Ujang kepada Republika, Selasa (1/6).
Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia itu menilai, ada sejumlah pekerjaan rumah agar PAN tetap eksis. PAN harus memastikan basis suara dari ormas Muhammadiyah tak pindah ke partai Islam lainnya, terutama ke Partai Ummat yang dibentuk Amien.
"Saat ini basis massa Partai Ummat sama dengan basis massa PAN. Jika PAN mengecewakan basis massanya, yang akan untung Partai Ummat. Jadi, bergantung pada PAN untuk me-maintenance basis massanya itu," katanya.
Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS) Nyarwi Ahmad menilai, ada sejumlah konsekuensi atas sikap politik yang diambil PAN. Pertama, secara ideologis, PAN tampak akan bertransformasi menjadi partai dengan basis ideologi keislaman yang lebih moderat dan memiliki warna nasionalisme kebangsaan yang lebih kental.
"Keluarnya figur Amien Rais dari PAN menjadikan partai ini lebih longgar dalam mereformulasikan positioning ideologisnya sehingga tidak lagi berbasis pemilih dengan orientasi ideologi keislaman saja, tetapi juga kelompok-kelompok pemilih yang memiliki orientasi ideologi di luar itu," kata Nyarwi.
Secara organisasi, Nyarwi juga menilai PAN akan menjadi partai elektoral profesional karena tidak lagi bergantung pada bayang-bayang figur tertentu, khususnya Amien Rais. Nyarwi melihat hal tersebut menjadi peluang sekaligus juga tantangan.
Berdasarkan data IPS pada April 2021, Nyarwi mengatakan, elektabilitas PAN hanya berkisar di angka dua persen. Nyarwi menyebut angka ini lebih rendah dibandingkan partai-partai yang berbasis pemilih Islam lainnya yang saat ini memiliki kursi di DPR RI, seperti PPP (3 persen), PKS (4,8) dan PKB (6,4 persen).
"Elektabilitas PAN tersebut masih berada di bawah angka parliamentary threshold (PT). Ini artinya, nasib partai ini untuk Pileg 2024 mendatang masih belum sepenuhnya," ujarnya.
PAN sendiri mengaku kini mengedepankan politik Islam substansial. Sekjen PAN Eddy Soeparno mengatakan, melalui politik Islam substansial, PAN ingin menjadi partai yang hadir untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. PAN juga ingin mengedepankan politik kemajemukan dan politik yang merangkul seluruh elemen.
"Jadi, itu yang ingin kita kedepankan, betul-betul substansi, betul-betul hal yang riil yang bisa dilihat bukan hanya sekadar simbol-simbol belaka," ujarnya.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
