News
Penyintas di Palu Minta Segera Direlokasi
Oleh Penyintas di Palu Minta Segera Direlokasi
PALU - Para penyintas korban bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, berharap proses pem bangunan hunian tetap (huntap) dipercepat. Sebagian warga menyatakan sudah bersedia untuk direlokasi ke kawasan eks hak guna bangunan milik sebuah perusahaan di Kelurahan Tondo dan Talise.
Koordinator Posko Pengungsi Kelu rahan Layana, Asmir, mengungkapkan, saat ini ada sekitar 130 kepala keluarga (KK) da ri Kelurahan Tondo, Mamboro, dan Layana yang masih tinggal di pengungsian. Seba gian besar pengungsi berprofesi sebagai ne layan dan perajin me bel.
Dia mengatakan, war ga setuju dipindahkan tempat tinggalnya karena jarak tempat relo kasi tak jauh dari lo kasi usaha mereka. "Pengungsi siap meng hu ni hu nian tetap (hun tap) di lokasi relokasi seluas 150 hek tare itu dan semoga segera terlaksana," ujar Asmir, di Palu, Selasa (12/2).
Rencananya, akan dibangun 2.000 huntap di eks kawasan HGB milik PT Lembah Palu Nagaya. Pembangunan huntap dijadwalkan dimulai pada bulan ini dan ditargetkan selesai dalam dua bulan.
Nantinya, pengungsi korban bencana yang menempati huntap yang berada di belakang Universitas Tadulako itu akan diberi kuasa atas bangunan dan tanah melalui penerbitan sertifikat tanah oleh pemerintah daerah setempat.
Penanggung jawab warga Kelurahan Tondo, Moh Thaher, mengatakan, para pengungsi gempa dan tsunami di Kelurahan Tondo Ngapa mendukung sepenuhnya upaya dari pemerintah untuk merelokasi mereka ke kawasan yang sudah disiapkan tersebut.Penyintas di Palu Minta Segera Direlokasi Bentuk dukungan warga telah tertuang dalam surat du kung an dan pernyataan sikap masyarakat Kelurahan Tondo yang diwakili Tim 10 tertanggal 25 Januari 2019 seusai meng gelar pertemuan dengan Pemkot Palu.
"Salah satu poin dukungan kami, yakni perencanaan pel e ta kan batu pertama huntap oleh Presiden RI sepenuhnya men da pat dukungan dari masyarakat di Kelurahan Tondo," kata Ta her.
Poin lain yang disepakati warga selain pembangunan hun tap dan fasilitas umum oleh Pem kot Palu adalah eks lahan HGB yang dikuasai PT Lembah Palu Nagaya akan dikembalikan kepada masyarakat Kelurahan Tondo.
Sejumlah KK korban gempa dan tsunami di Kelurahan Talise pun demikian. Ketua RT 1, RW 1, Kelurahan Talise, Abdillah, menyambut baik upaya langkah pemerintah setempat. Abdillah dan beberapa pengungsi yang kehilangan tempat tinggal dan keluarga akibat bencana tersebut berharap dapat segera menempati hunian tetap tersebut.
"Saya secara pribadi siap dire lokasi ke sana. Saya juga berharap ada ganti rugi oleh pe merintah atas tempat tinggal saya yang hilang," kata dia.
Selain tempat tinggal, proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Palu juga mencakup perbaikan jaringan pipa air bersih. Peru sahaan Daerah Air Minum (PDAM) Ko ta Palu, Sulawesi Tengah, mengaku mendapat bantuan pipa air dari pemerintah pu sat. "Bantuan itu untuk memper baiki kembali jaringan pipa air yang rusak karena bencana alam," kata Pjs Direktur PDAM Kota Palu, Alfian, di Palu, Selasa.
Ia menjelaskan, Pemkot Palu memperoleh bantuan pipa berdia meter enam inci dan delapan inci masing-masing 300 batang dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Menurut dia, bantuan tersebut dapat mengatasi kesulitan pendis tribusian air bersih pasca bencana alam gempa, tsunami, dan likuefaksi di Ibu Kota Provinsi Sulteng.
Dia mengaku selama empat bulan terakhir pascabencana alam, para pelanggan PDAM di Pa lu mengalami kekurangan pasokan air bersih karena banyak jaringan pipa air rusak. Namun, kata dia, pihak PDAM sebagai pengelola air bersih untuk kebutuhan masyarakat di ibu kota provinsi itu, terus berusaha mempercepat proses perbaikan jaringan agar suplai air bersih kepada para pelanggan yang selama ini bergantung pada PDAM segera kembali normal. "Kami upayakan bulan depan, pendistribusian air bersih di Palu sudah kembali normal," ujar Alfian.
Dia menambahkan, di Kota Palu ada tiga sumber air bersih yang dikelola oleh PDAM. Ketiga sumber air itu adalah sumber air Sungai Pondo di Kelurahan Paboboya dengan produksi 30-40 liter per detik, sumber air Sungai Kawatuna dengan debit airnya 10 liter per detik, dan sumber air Sungai Vatutelah juga mampu memproduksi air bersih 10 liter per detik. Saat ini, lan jutnya, perbai kan pipa air bersih di Kota Palu masih dalam proses pengerjaan oleh Kementerian PUPR.
Huntara
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) mengatakan, bantuan hunian bagi warga terdampak bencana di Sulawesi Tengah terdiri atas hunian sementara (huntara) dan hunian tetap.Hun tara diutamakan bagi masyarakat yang harus direlokasi karena rumahnya tak bisa ditempati kembali.
Hal itu disampaikan JK menyu sul baru ada 36 unit dari 414 unit huntara di Sulawesi Tengah yang ditempati masyarakat. Semen tara, ada 40 ribu masyarakat yang masih tinggal di tenda pengungsian.
"Yang disiapkan tempat hunian sementara itu bagi yang direlokasi akibat likuefaksi," ujar JK di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (12/2).
Menurut JK, untuk ma syarakat korban gempa yang rumah nya masih dapat diperbaiki, tidak dikategorikan menempati huntara, tetapi tetap berada di tenda pengungsian untuk menunggu perbaikan rumah. "Dia yang rumahnya masih ada, maka dia hanya tetap di tenda. Untuk memperbaiki rumahnya.
Karena itu, tempat hunian sementara memang tidak diperuntukkan untuk orang yang rumahnya rusak, tapi diperbaiki. Yang diperuntukkan untuk yang direlokasi," ujar JK.
JK pun memastikan Pe merintah Sulawesi Tengah dan peme rintah daerah setempat sudah mendata masyarakat yang ma suk kategori relokasi ataupun per baikan rumah. Karena itu, ia me minta masyarakat untuk ber sabar.
"Pemerintah sudah mendata bersama pemda, BNPB, TNI, polisi, dan tim lainnya," kata JK. (antara ed:satria kartika yudha)
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
