Tenaga kesehatan memeriksa suhu tubuh sebelum menyuntikan vaksin Covid-19 Astrazeneca kepada pekerja ritel di GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat, Senin (24/5). | Republika/Thoudy Badai
25 May 2021, 03:45 WIB

Ujian Pertama Vaksinasi Massal

Apakah efek vaksinasi itu bisa mengerem lonjakan kasus Covid-19 usai arus mudik kali ini.

Perkembangan kasus Covid-19 di berbagai daerah mulai berbalik arah. Beberapa kota terus melaporkan peningkatan kasus sampai naiknya angka kematian akibat Covid 19.

Zona merah merebak di mana-mana. Tren lonjakan kasus Covid-19 ini seiring dengan sejumlah faktor utama: terus abainya publik melakukan protokol kesehatan, temuan varian baru Covid-19 yang lebih cepat menyebar, hingga pada arus mudik dan arus balik Idul Fitri 1442 H.

Lonjakan kasus di pengujung Mei ini bukannya luput dari prediksi. Pemerintah sejak April terus mengingatkan publik soal kemungkinan penyebaran Covid-19 yang makin cepat. Kebijakan komunikasi pemerintah pun awalnya sempat tegas, melarang mudik, untuk menurunkan laju lalu-lalang publik dari satu kota ke kota lainnya. Namun, gelombang pulang kampung masih terlalu besar untuk ditahan.

Rekam jejak data lonjakan kasus pada 2020 sudah begitu terang memperlihatkan situasi 'kengerian' itu. Presiden Joko Widodo sampai berpidato khusus soal data kasus ini pada akhir April kemarin. Presiden menggarisbawahi empat puncak kasus, yang semuanya dipicu oleh libur panjang pada 2020.

Terkait

Puncak kasus pertama yang dihadapi Indonesia pada 2020 adalah arus mudik dan arus balik. Pemerintah mencatat lonjakan kasus harian Covid-19 di periode ini sampai 90 persen! Untuk pertama kalinya ketika itu, Indonesia menghadapi 'kengerian' nyata di depan mata.

 
Rekam jejak data lonjakan kasus pada 2020, sudah begitu terang memperlihatkan situasi 'kengerian' itu.
 
 

Pasien terus berdatangan ke rumah sakit. Kebanyakan pasien tanpa gejala, yang kemudian memburuk dengan cepat. Persediaan masker, baju khusus, hingga ventilator menipis dengan cepat di berbagai kota besar. Perawat dan dokter mulai bertumbangan, kian hari kian banyak yang tertular.

Puncak kasus kedua, yang tertinggi, terjadi pada libur panjang Agustus 2020. Lonjakan kasus hariannya mencapai 113 persen! Dua puncak kasus lainnya sepanjang 2020 terjadi pada libur panjang Oktober 2020 dan libur akhir tahun 2020-2021.

Namun, tampaknya pemerintah belajar dari dua periode libur panjang sebelumnya, lumayan bisa menekan lonjakan kasus harian di bawah 80 persen. Tapi tentu, kita harusnya bisa belajar dari peristiwa tahun lalu, melakukan persiapan-persiapan lebih baik, dan menyiapkan solusi lebih menyeluruh.

Pertama, pemerintah sudah melakukan vaksinasi ke petugas medis, lansia, pekerja publik, masyarakat, dan karyawan. Meski begitu, lajunya terlihat melambat akibat pasokan vaksin menipis.

Vaksinasi adalah upaya awal dari mencapai kekebalan kelompok, yang dibutuhkan untuk 'mengalahkan' penyebaran Covid-19. Tercatat sudah lebih dari 14,8 juta orang mendapat vaksinasi pertama, dan 9,8 juta orang mendapat vaksinasi kedua. Secara total, Indonesia baru mencapai 10 persen dari target vaksinasi sebesar 181,5 juta jiwa.

Kedua, rumah sakit dan tenaga kesehatan sudah belajar banyak dari lonjakan-lonjakan kasus pada 2020. Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan di daerah terus melakukan tes antigen ataupun genose, baik secara acak maupun terfokus pada target tertentu.

Selain itu, pelacakan meski masih di bawah standar internasional, dicoba terus diperluas. Infrastruktur ruang isolasi terpusat atau ruang rawat kini pun lebih disiapkan.

 
Tapi tentu, kita harusnya bisa belajar dari peristiwa tahun lalu, melakukan persiapan-persiapan lebih baik, dan menyiapkan solusi lebih menyeluruh. 
 
 

Ketiga, rekatan sosial publik yang makin terasah bilamana di lingkungannya ada pasien Covid-19 yang harus isolasi mandiri. Kini satuan rukun warga dan rukun tetangga sudah disiapkan petunjuk teknis, harus bagaimana menangani bila ada anggota masyarakatnya yang tertular.

Yang masih menjadi problem sekarang adalah tren lonjakan kasus Covid-19 ini terjadi di tengah upaya Kemendikbud Ristek menggelar pembelajaran tatap muka. Malah Mendikbud Nadiem Makarim sebelumnya sudah menargetkan, pada Juli, sekolah-sekolah di sejumlah daerah bisa menggelar belajar tatap muka terbatas, dengan sejumlah syarat ketat protokol kesehatan. Ini akan menambah ketidakpastian dan kengerian para orang tua.

Publik kini menunggu, apakah efek vaksinasi itu terutama terlihat bisa menangkal, paling tidak mengerem sedikit lonjakan kasus arus mudik dan arus balik kali ini. Kita berharap yang terbaik, sambil bersiap untuk yang terburuk terjadi.


×