Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika
22 May 2021, 03:45 WIB

Halal Bihalal dan Penguatan Ukhuwah

Dalam suasana Idul Fitri dan halal bihalal ini, mari kita tingkatkan ukhuwah Islamiyah dan solidaritas.

OLEH PROF KH DIDIN HAFIDHUDDIN

Sampai dengan hari ini, Sabtu, 22 Mei 2021 M, bertepatan dengan 10 Syawal 1442 H, berbagai komunitas Muslim masih menyelenggarakan halal bihalal Idul Fitri 1442 H. Halal bihalal itu paling tidak memiliki dua maksud utama, yaitu saling menghalalkan/saling memaafkan antara satu dan yang lainnya, serta memperkuat silaturahim antara sesama dan terutama antara sesama orang-orang yang beriman.

Saling memaafkan antara sesama menjadi sangat penting karena berkaitan dengan penghapusan dosa adami. Allah SWT tidak akan mengampuni dosa seseorang pada orang lain sebelum yang bersangkutan memaafkannya (HR Thabrani).

Orang takwa itu adalah orang yang kalau melakukan dosa dan kesalahan ia segera beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT, meminta maaf kepada sesama, dan mampu memberikan maaf pada orang yang melakukan kesalahan kepadanya. 

Terkait

Sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah SWT dalam QS Ali Imran (3) ayat 134-135: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (134). Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (135).”

 
Salah satu doa yang dianjurkan dibaca oleh orang beriman adalah memohon ampunan Allah untuk orang-orang yang sudah meninggal dalam keadaan beriman.
 
 

Salah satu doa yang dianjurkan dibaca oleh orang yang beriman adalah memohon ampunan Allah untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia dalam keadaan beriman, dan dihilangkan sifat iri, dengki, serta tidak mau memaafkan kesalahan orang lain (ghillan).

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Hasyr (59) ayat 10: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (muhajirin dan ansar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’”

Pada saat ini juga, sebagaimana diketahui, saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina sedang menghadapi tindakan brutal dan kejam yang dilakukan oleh Zionis Israel. Mereka menggempur permukiman kaum Muslimin dengan rudal-rudal yang sangat banyak sehingga mengakibatkan lebih dari 300 orang meninggal dunia yang sebagian besar masyarakat sipil kaum wanita dan anak-anak.

Sebagai sesama Muslim, kita tidak boleh berdiam diri dengan kondisi ini. Sebab, penderitaan mereka harus dirasakan sebagai penderitaan kita juga. 

Rasulullah SAW menyatakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau bersabda: “Engkau lihat orang-orang mukmin dalam keadaan saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuhnya sakit maka anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dingin (demam).” (HR Bukhari).

 
Solidaritas kemanusiaan yang dibingkai oleh ajaran Islam harus terus-menerus digaungkan.
 
 

Di samping doa dan qunut nazilah yang harus kita lakukan, donasi dan bantuan yang bersifat material harus juga kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup mereka. Solidaritas kemanusiaan yang dibingkai oleh ajaran Islam harus terus-menerus digaungkan agar jangan sampai perilaku zalim ini dianggap sesuatu yang wajar dan biasa.

Membunuh dan membuat kerusakan dalam kehidupan ini adalah perbuatan yang sangat dimurkai oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam QS an-Nisa’ (4) ayat 93: “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah (neraka) jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Bahkan, dalam surah yang lain Allah SWT menegaskan bahwa orang yang sengaja membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan adalah sama dengan membunuh semua manusia. Demikian pula sebaliknya, yang menolong atau menyelamatkan jiwa seseorang sama dengan menyelamatkan jiwa seluruh manusia.

 
Orang yang sengaja membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan adalah sama dengan membunuh semua manusia.
 
 

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Maidah (5) ayat 32-33: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi (32). 

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (33).”

Bahkan, kebrutalan dan kebiadaban Zionis Israel masuk ke dalam masjid dengan memakai sepatu dan membawa senjata yang lengkap serta membunuh orang-orang yang sedang shalat dan iktikaf akhir Ramadhan di Masjid al-Aqsha.

Sangat sulit menggambarkan dengan kata-kata kejahatan dan kebiadaban mereka, sangat sulit diterima oleh akal yang sehat. Sebab, hanya orang-orang yang tidak punya nurani dan perasaan yang mau melakukan perbuatan keji tersebut. 

Allah SWT menyebutnya sebagai perbuatan paling zalim. Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Baqarah (2) ayat 114: “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah) kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.”

 
Masjid al-Aqsha adalah salah satu dari tiga masjid yang diperintahkan untuk dikunjungi dan diziarahi oleh kaum Muslimin.
 
 

Masjid al-Aqsha adalah salah satu dari tiga masjid yang diperintahkan untuk dikunjungi dan diziarahi oleh kaum Muslimin. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan yang jauh, kecuali ke tiga Masjid, yaitu masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram (di Makkah), dan Masjid al-Aqsha." (HR Muslim).

Masjid al-Aqsha diabadikan oleh Allah di dalam Alquran berkaitan dengan peristiwa Isra Mi’raj Rasulullah SAW. Sebagaimana firman-Nya dalam Alquran surah al-Isra’ (17) ayat 1: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Karena itu, dalam suasana Idul Fitri dan halal bihalal ini, mari kita tingkatkan ukhuwah Islamiyah dan solidaritas antara sesama muslim untuk saling membantu, saling menolong, dan saling menguatkan. Sesama orang yang beriman harus berkolaborasi, ber-ta’awun, dan bersinergi agar mendapatkan rahmat dan pertolongan-Nya.

Firman-Nya dalam QS at-Taubah (9) ayat 71: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” 

Wallahu a’lam bi ash-shawab.


×