Sejumlah calon penumpang KA Brantas tujuan Pasar Senen-Blitar mengantre menaiki kereta di Stasiun Senen, Jakarta, Kamis (20/5/2021). Fakta empiris menunjukkan kenaikan kasus Covid-19 secara signifikan pascalibur Lebaran. | Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
22 May 2021, 03:40 WIB

Satgas: Kami Hati-Hati Antisipasi Pasca Lebaran

Fakta empiris menunjukkan kenaikan kasus Covid-19 secara signifikan pascalibur Lebaran.

JAKARTA – Fakta empiris menunjukkan terjadinya kenaikan kasus Covid-19 secara signifikan pascalibur panjang. Pengalaman ini membuat Satgas Penanganan Covid-19 menyiapkan berbagai langkah antisipasi jika lonjakan kasus benar-benar terjadi, termasuk mempersiapkan fasilitas kesehatan (faskes) yang menangani Covid-19.

“Kami berharap (jumlah kasus Covid-19) bisa terkendali, tapi kami harus hati-hati dan mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 pasca liburan,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro, dalam diskusi virtual, Jumat (21/5).

Reisa mengatakan, pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia masih tinggi, yakni di kisaran 5.000-an kasus sehari. Karena itu, belajar dari pengalaman sebelumnya, setiap kali ada masa liburan pasti ada lonjakan kasus yang cukup signifikan. Pemerintah mengantisipasi dengan faskes yang memadai kalau sampai terjadi lonjakan kasus.

Terkait

Tenaga kesehatan (nakes) merasa khawatir lonjakan kasus Covid-19 benar-benar terjadi usai libur Lebaran. Dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan, Erlina Burhan mencatat, terjadi sedikit peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia pada pekan keempat April yang diduga faktor utamanya adalah kelalaian protokol kesehatan.

“Kemudian ada dugaan akan memburuk setelah tradisi mudik dan kemungkinan ada euforia vaksin. Jadi, kami nakes agak deg-degan menyongsong dampak mudik Lebaran,” kata dia.

Sebab, Erlina melanjutkan, tren kasus Covid-19 biasanya naik usai liburan. Apalagi, ia melihat orang-orang merasa euforia usai mendapatkan vaksin. Ia meminta semua pihak belajar dari negara lain seperti India yang mengalami tsunami Covid-19 sehingga sistem kesehatannya mulai kolaps.

“Padahal, kasus Covid-19 (di India) sangat turun, sangat melandai di akhir tahun 2020. Bahkan di awal 2021 juga landai tetapi masyarakat dan pemerintahnya mulai longgar dan mengabaikan protokol kesehatan,” ujar dia.

Akibatnya, ia melanjutkan, kasus di India naik drastis, melonjak tinggi bahkan di atas 400 ribu kasus per hari dengan angka kematian 3.000 hingga 4.000 kasus per hari.

Tak hanya India, ia mencatat negara-negara lain juga mengalami peningkatan kasus Covid-19, seperti Singapura, Kamboja, Malaysia, hingga Jepang.


×