Pengurus PP Muhammadiyah dan 'Aisyiyah mengikuti vaksinasi Covid-19 di Gedung PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (9/3/2021). | Wihdan Hidayat / Republika
18 May 2021, 10:05 WIB

Refleksi Milad 'Aisyiyah, Merekat Persatuan Menebar Kebaikan

Menebar kebaikan kepada saudara-saudaranya, lintas agama, budaya, sebagaimana tema milad 104 kali ini

 

PROF DR MASYITOH CHUSNAN, Ketua Pimpinan Pusat 'Aisyiyah

Milad 'Aisyiyah tahun ini dan tahun lalu memiliki nilai historis yang takkan dilupakan sejarah. Sepanjang dua tahun ini, praktis perjuangan 'Aisyiyah tidak hanya menjalankan amanah Muktamar, tetapi juga bagamana 'Aisyiyah lentur dan beradaptasi dengan lingkungan dan keadaan yang harus dihadapi. Sebab, semua bidang kehidupan (sampai denyut nadi paling bawah) terkena dampak cukup signifikan karena wabah pandemi global yang melanda umat manusia.

Namun, apa yang sudah dilakukan 'Aisyiyah dan Muhammadiyah? Indonesia tahu, betapa besar kontribusi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah untuk kepentingan umat, masyarakat, dan bangsa tanpa harus bersuara “nyaring”. Namun pasti, negara sangat terbantu oleh Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

Terkait

Dari peran rumah sakitnya yang tersebar di seluruh Indonesia, tenaga kesehatannya, peran ta'awun sosialnya yang merebak dan merata ke seantero pelosok Tanah Air. Semua kerja 'Aisyiyah dan Muhammadiyah, dari pusat sampai ranting, semua bergerak tanpa pamrih, yang menilai hanya Allah SWT. Semua terpanggil untuk bahu-membahu, memberi kepada saudaranya, lintas agama, budaya, dan tentu juga dalam rangka eksistensi amal usahanya tetap berjalan.

Peran nyata ini terlihat dari jumlah Amal Usaha 'Aisyiyah yang tersebar di pelbagai pelosok. Peran tersebut tentu sangat membantu pemerintah dan masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras dan antargolongan. Menebar kebaikan kepada saudara-saudaranya, lintas agama, budaya, sebagaimana tema milad 104 kali ini, “Merekat Persatuan, Menebar Kebaikan”.

 
Peran tersebut tentu sangat membantu pemerintah dan masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras dan antargolongan. 
 
 

Di periode abad kedua ini, Allah menguji 'Aisyiyah dengan wabah Covid-19. Adakah dalam situasi seperti saat ini, 'Aisyiyah tetap solid dan tak tergoyahkan? Tetap dapat mencerahkan semesta?

Kita dapat saksikan bersama, Alhamdulillah, 'Aisyiyah tetap tegar, tetap kokoh karena para pemimpin di setiap jenjangnya bagai tak terpengaruh oleh badai, oleh hujan dan panas, karena sudah menjadi panggilan “hati nurani” berjuang atau berjihad.

Perkembangan amal usaha yang masif, tak lepas dari karakter jihad Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Mengutip Faiz Rafdhi di majalah Quadrum, tentang Tafsir Jihad dalam Perspektif Muhammadiyah (Faiz Rafdhi, Quadrum 2017, h. 5).

Pertama, ruh keikhlasan dan pengorbanan. Sebagaimana diakui oleh Prof Hyung Jun Kim PhD pada Pengajian Ramadhan 1442 H PP Muhammadiyah yang lalu bahwa keunggulan perkembangan amal usaha Muhammadiyah terletak di spirit keikhlasan dan pengorbanan. Dalam mengembangkan amal usaha, warga Muhammadiyah tidak berorientasi pada kemakmuran materi, tapi mengharap ridla Allah SWT.

 
Dalam mengembangkan amal usaha, warga Muhammadiyah tidak berorientasi pada kemakmuran materi, tapi mengharap ridla Allah SWT. 
 
 

Kedua, ruh kemaslahatan. Dalam pandangan Muhammadiyah, jihad yang ditegakkan berorientasi kepada kemaslahatan. Sebagaimana dinyatakan dalam rumusan Kepribadian Muhammadiyah, “Beramal dan berjuang untuk perdamaian (islah/maslahat) dan kesejahteraan”.

Lebih lanjut, Faiz menerangkan bahwa kemaslahatan di antaranya diarahkan kepada pembangunan manusia. Jika menilik Deklarasi PBB tentang Tujuan Pembangunan Millennium (Millennium Development Goals/MDGs), ada 8 butir tujuan MDGs yang jika dicermati teringkas menjadi lima hal, yaitu masalah kemiskinan dan kelaparan, masalah pendidikan, masalah kesetaraan gender, masalah kesehatan dan masalah kemitraan global.

Kelima hal ini justru dilakukan Kiai Dahlan pada masa awal berdirinya Muhammadiyah dan diteruskan hingga kini oleh Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Dalam aspek kesetaraan gender, justru Kiai Dahlan sering melibatkan istrinya dalam kegiatan Muhammadiyah serta mendorong istrinya, Nyai Walidah, mendirikan 'Aisyiyah sebagai organisasi wanita Islam.

Tercatat, 'Aisyiyah merupakan organisasi pelopor dan pertama yang terdaftar menjadi anggota Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Dalam kemitraan global, terdapat program internasionalisasi Muhammadiyah/'Aisyiyah. Tercatat, 'Aisyiyah mengembangkan sekolah di beberapa mancanegara, seperti Australia, Malaysia, Mesir, dan lain-lain.

Ketiga, ruh kesungguhan dan ketuntasan. Sebagaimana maknanya, jihad berarti sungguh-sungguh. Bagi Muhammadiyah/'Aisyiyah, dalam mengembangkan amal usahanya selalu dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang berarti fokus, serius, dan tuntas. Bukti karakter jihad ini berkembangnya jumlah amal usaha Muhammadiyah/'Aisyiyah se-Indonesia.

 
Melalui ibu, anak sudah dididik sejak dalam kandungan. Kecerdasan emosi, intelektual dan spiritual anak, bergantung ibunya.
 
 

Menurut hemat saya, ada karakter jihad keempat bagi 'Aisyiyah, yaitu ruh gerakan perempuan (harakah al-nisa) berkemajuan. Peran sentral ibu dalam keluarga memiliki arti penting dalam membangun peradaban. Melalui ibu, anak sudah dididik sejak dalam kandungan. Kecerdasan emosi, intelektual dan spiritual anak, bergantung ibunya.

Dalam bahasa Arab, ibu berarti “Umm” yang melahirkan “Imam” (pemimpin) dan “Ummat”. “Umm”, “Imam” dan “Ummat” berasal dari akar kata yang sama, yang bermuara kepada sesuatu yang diteladani.

“Umm” yang bisa diteladani, “Imam” dan “Ummat” yang bisa diteladani. Itulah mengapa, fokus utama gerakan 'Aisyiyah adalah membangun kesejahteraan keluarga, ibu, dan anak.

Selamat kepada 'Aisyiyah, selamat organisasi perempuan Indonesia yang diakui dunia dalam keadaan apa pun. Insya Allah 'Aisyiyah tak pernah goyah karena punya jihad atau semangat baja yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam berkemajuan, yang rahmatan lil 'alamiin dan mengikuti jejak tokoh panutan, Siti Aisyah, sang istri Rasul, wanita cerdas, didikan Rasul, tempat rujukan kaum mukminin. Oleh karenanya, beliau diberi gelar Ummul Mukminin.

Dari nama beliau, jejak 'Aisyiyah pun, identik dengan perjuangan Siti Aisyah, kumpulan para perempuan cerdas yang memiliki ghirah perjuangan yang luar biasa, tak pernah patah semangat, selalu berfikir cerdas, cerdas IQ, EQ, dan SQ-nya.

Selamat hari jadi wahai 'Aisyiyah yang ke 104 Miladiyah/107 Hijriyah. Selamat bermilad (untuk tasyakkur dan introspeksi diri), “Helwah Sanah” 'Aisyiyah, kau selalu di hati.


×