Personel Brimob Polri melakukan penyisiran pada lokasi yang diduga menjadi lokasi persembunyian saat melakukan pengejaran terhadap terduga teroris di Kelurahan Mamboro, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Sabtu (7/11/2020). | Mohamad Hamzah/ANTARA FOTO
13 May 2021, 03:45 WIB

MUI Kecam Terorisme di Poso

Empat petani disebut dibunuh para teroris di Poso.

JAKARTA -- Ketua Badan Penanggulangan Ekstrimisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammad Syauqillah menyampaikan, peristiwa teror kembali terjadi di Poso, Sulawesi Tengah pada Selasa (11/5), tepatnya di Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur. 

Syauqillah mengatakan, korban teroris tersebut empat orang petani kebun. Mereka mati dibunuh oleh sekelompok anggota teroris mujahidin Indonesia timur (MIT). "Terkait peristiwa tersebut Majelis Ulama Indonesia menyampaikan kecaman keras," kata Syauqillah melalui pesan tertulis yang diterima Republika, Rabu (12/5).

Syauqillah menegaskan bahwa perilaku tersebut sangat jauh dari norma agama apapun, termasuk Islam. Apalagi peristiwa tersebut dilakukan di bulan Ramadhan.  Menurutnya perilaku mereka selain keji juga menodai kesucian Ramadhan. Mereka seperti tindakan teror kelompok Zionis Israel di Palestina.

Syauqillah juga menyampaikan bela sungkawa terhadap para keluarga korban dan menghimbau agar mereka khususnya dan warga Poso secara umum untuk tidak terprovokasi maupun reaktif menyikapi hal tersebut. "Serta menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada aparat keamanan," ujarnya.

Terkait

photo
Sejumlah prajurit TNI AD melakukan penyisiran untuk memburu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), di Desa Lembangtongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selassa (1/12/2020). - (ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)

Ia menyampaikan, seharusnya pemerintah melakukan langkah-langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Pemerintah menurutnya harus melakukan penegakan hukum yang tegas dan serius agar persoalan terorisme di Poso ini tidak berlarut-larut. 

Pemerintah juga seharusnya memperkuat deteksi dini dan mitigasi aksi terorisme, di mana aksi terorisme seringkali terjadi di bulan Ramadhan, jelang Idul Fitri dan menyasar kelompok agama tertentu.  "Menghimbau masyarakat untuk senantiasa waspada dan melaporkan setiap kejadian yang mencurigakan kepada aparat keamanan," kata Syauqillah.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat agama, adat, dan komunitas etnis di Poso bersatu padu melawan ekstrimisme dan terorisme yang sangat mengganggu sendi-sendi keharmonisan sosial.

Sebelumnya, Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah membunuh empat orang petani warga Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (11/5). Saksi warga setempat melaporkan bahwa pelaku tindakan keji ini adalah Qatar bersama empat orang teroris lainnya yang merupakan anggota organisasi teroris Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Ali Kalora.

photo
Personel Brimob Polri melakukan penyisiran di lokasi yang diduga menjadi persembunyian terduga teroris di kawasan perbukitan di Kelurahan Mamboro, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Ahad (8/11/2020). - (Mohamad Hamzah/ANTARA FOTO)

Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Pendeta Jetrozon Rense MTh meminta Presiden Joko Widodo untuk menghentikan aksi teror di Poso dan memberikan jaminan rasa aman bagi warga di daerah itu dalam beraktivitas sehari-hari.

"Kami meminta pemerintah pusat khususnya Bapak Presiden yang kami hormati untuk memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat di wilayah dimana dari tahun ke tahun selalu terjadi pembunuhan secara sadis dan menimbulkan trauma di tengah masyarakat," kata Pendeta Jet Rense kepada Antara, kemarin.

"Kita semua sangat berduka, sedih dan marah atas jatuhnya korban pembunuhan yang sangat sadis, keji dan biadab dari mereka pelaku teror yang telah berulang kali beraksi di tengah-tengah masyarakat Poso," ujarnyamenambahkan.

Ia juga mengimbau kiranya umat dan masyarakat tetap tenang dan waspada dan mendoakan dan mendukung pemerintah khususnya aparat keamanan Satgas Madago Raya, agar mereka tetap dimampukan oleh Tuhan Yang Maha kuasa dalam menghentikan tindak kekerasan ini dengan cara menumpas secara tuntas para pelaku.

Pihak gereja juga terus mendoakan keluarga para korban kiranya Tuhan memberi penghiburan sejati dan menguatkan mereka dalam menghadapi duka ini."Air mata mereka adalah air mata kita semua. Duka mereka adalah duka kita semua," ujarnya lagi.

Sumber : antara


×