Marks LinkedIn di California, Amerika Serikat. Foto bertanggal 7 Mei 2013. | AP Photo/Noah Berger
14 May 2021, 04:11 WIB

LinkedIn Tersandung Konten Politik

Tersandungnya LinkedIn di Cina tentu saja sedikit mengejutkan.

OLEH SIWI TRI PUJI B

 

Tak akan ada penambahan anggota baru si situs jejaring sosial para pekerja, LinkedIn. Situs jejaring sosial LinkedIn mengumumkan pekan lalu bahwa mereka menutup keanggotaan baru bagi netizen Cina. 

Rumors yang beredar, regulator internet Cina menegur eksekutif LinkedIn pada April 2021 terkait kegagalan mengontrol konten berbau politik di situsnya. Meskipun tidak jelas secara pasti materi apa yang membuat perusahaan bermasalah, regulator mengatakan telah menemukan postingan tidak pantas yang beredar dalam periode sekitar pertemuan tahunan anggota parlemen Cina, kata tiga sumber anonim The New York Times di Cina.

Terkait

Sebagai hukuman, kata mereka, para pejabat meminta LinkedIn untuk melakukan evaluasi diri dan menawarkan laporan ke Cyberspace Administration of China, regulator internet negara tersebut. Layanan tersebut juga dipaksa untuk menangguhkan pendaftaran pengguna baru di Cina selama 30 hari. Namun kata mereka, jangka waktu itu dapat berubah tergantung pada keputusan administrasi.

Tersandungnya LinkedIn di Cina tentu saja sedikit mengejutkan. Selama tujuh tahun, perusahaan ini membuat "cemburu" banyak perusahaan teknologi asal AS, mulai dari Microsoft hingga Facebook dan Google. Bagaimana Cina -- tempat yang sulit bahkan tidak mungkin untuk perusahaan teknologi bukan berbendera mereka -- tampak begitu terbuka bagi jaringan sosial LinkedIn.

Perusahaan teknologi lainnya memperhatikan dengan penuh minat, bertanya-tanya apakah LinkedIn akan menemukan keseimbangan antara kebebasan berbicara dan hukum Cina yang ketat.

 
Tahun pertama operasinya di negara itu, 2014, LinkedIn telah menarik empat juta anggota tanpa mendapatkan banyak perhatian dari pemerintah Cina.
 
 

 

Tahun pertama operasinya di negara itu, 2014, LinkedIn telah menarik empat juta anggota tanpa mendapatkan banyak perhatian dari pemerintah Cina. Saat itu, mereka menetapkan target ambisius; menjangkau lebih dari 140 juta pekerja profesional Negeri Tirai Bambu, dan karenanya mulai memperkenalkan LinkedIn versi bahasa Cina. Pada saat yang sama, Instagram dan Yahoo, tumbang. 

Salah satu kunci sukses LinkedIn menjajal pasar internet terbesar di dunia ini adalah karena perusahaan ini melepaskan 7 persen dari operasi lokalnya kepada dua perusahaan modal ventura Cina. Memiliki hubungan seperti itu dengan perusahaan lokal sangat penting bagi perusahaan web asing yang ingin beroperasi di Cina, kata para ahli.

photo
Jeff Weiner, kedua dari kanan, CEO LinkedIn, meluapkan ekspresi gembira saat perusahaannya melantai di bursa New York Stock Exchange, Kamis (19 Mei 2011).  (AP Photo/Mark Lennihan) - (AP)

“Pemerintah perlu tahu siapa yang dapat mereka hubungi, dan sebagai perusahaan asing Anda perlu tahu sebelum situs Anda ditutup sehingga Anda memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu,” kata Duncan Clark, pendiri BDA China, sebuah perusahaan konsultan yang memberi nasihat kepada perusahaan asing di sektor teknologi Cina. Juru bicara LinkedIn, Hani Durzy, saat itu menimpali, “Memiliki saluran itu sangatlah berharga.” 

Seperti banyak perusahaan teknologi Amerika, LinkedIn, yang berbasis di Mountain View, California, telah mempromosikan dirinya sebagai perusahaan yang didedikasikan untuk prinsip pasar bebas. Terlalu banyak sensor dapat menyebabkan pengguna melarikan diri.

Namun pada praktiknya, tak selalu demikian. Situs ini beberapa kali membuat marah pelanggan non-China, yang menemukan bahwa postingan yang mereka buat dalam bahasa Inggris saat berada di Cina diblokir secara global sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk melindungi pengguna Cina.

 
Situs ini beberapa kali membuat marah pelanggan non-China, yang menemukan bahwa postingan yang mereka buat dalam bahasa Inggris saat berada di Cina diblokir secara global
 
 

 

Misalnya, Bill Bishop, seorang komentator media dan investor teknologi di Cina, mengatakan konten yang dia posting tentang Cina dari koneksi di AS diblokir oleh layanan tersebut. Ketika dia menanyakan alasannya, perusahaan tersebut menjawab secara tidak akurat bahwa itu karena dia telah memposting barang tersebut dari Cina, padahal masalah sebenarnya adalah dia telah mendaftarkan Cina sebagai lokasi kerjanya.

Google pernah tersandung karena hal ini, yang berujung pada dicabutnya operasi dari negara ini. Pada 2010, situs ini memberikan hasil pencarian tanpa sensor kepada pengguna Cina dari server mereka di Hong Kong. Ujung-ujungnya, langkah ini memperburuk hubungannya dengan pihak berwenang Cina hingga hari ini.

Twitter telah lebih dulu "tewas" di Cina setelah mengatakan tidak akan menyensor postingan karena langkah itu bertentangan dengan prinsip dasar platform mereka yang mengedepankan kebebasan bersuara. 

Analis mengatakan LinkedIn berada pada posisi yang baik untuk dapat diterima di Beijing karena dapat berargumen bahwa hal itu membuat pasar kerja lebih efisien, yang pada akhirnya memacu perekonomian. Regulator internet Cina sering berpendapat bahwa tujuan utama pengembangan internet seharusnya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 
Regulator internet Cina sering berpendapat bahwa tujuan utama pengembangan internet seharusnya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
 
 

Karenanya, ontrang-ontrang terbaru ini mengejutkan banyak pihak. Banyak yang menilai, LinkedIn hanya pelanduk di tengah pertikaian dua "gajah", Amerika Serikat dan Cina. Bagi Barat, "hukuman" dari otoritas Cina ini menggarisbawahi perpecahan yang dalam antara Amerika Serikat dan Cina tentang bagaimana seharusnya internet bekerja. 

Selama bertahun-tahun, pemerintah Cina dan AS saling berbeda pendapat terkait bagaimana seharusnya internet bekerja. Cina dituding enggan untuk mengikuti norma global yang mengatur internet dan teknologi secara lebih luas.

Layanan LinkedIn Cina, yang memiliki lebih dari 50 juta anggota, membuatnya rentan terhadap ketegangan antara kedua kekuatan tersebut. Perselisihan dengan regulator terjadi hanya beberapa minggu sebelum pertemuan yang dijadwalkan antara pejabat Cina dan AS di Alaska, pertemuan tatap muka pertama pemerintahan Presiden Joe Biden.

Persaingan atas teknologi, mulai dari chip komputer hingga teknologi pesawat jet, telah menjadi poin penting kedua negara. Penangguhan anggota baru Cina di situs LinkedIn hanya salah satunya.

Sebelumnya, AS mengaitkan Cina dalam peretasan yang secara tentatif atas Microsoft, perusahaan induk LinkedIn, yang ditujukan untuk bisnis dan lembaga pemerintah yang menggunakan layanan email perusahaan. LinkedIn juga dituding menjadi jalan bagi dinas rahasia Beijing dalam merekrut agen mata-mata. Tuduhan mahaklasik dalam spionase siber.

 
Bukan rahasia, pasar tertutup Cina hanya memberi peluang besar pada empat perusahaan lokal yang mendominasi internet di sana.
 
 

Hal sebaliknya, sebetulnya bisa saja ditudingkan Cina. Mengapa LinkedIn bersedia repot hadir di Cina dengan "hanya" puluhan ribu anggota saja? Bukan rahasia, pasar tertutup Cina hanya memberi peluang besar pada empat perusahaan lokal yang mendominasi internet di sana: Alibaba dalam e-commerce, Baidu dalam penelusuran, Tencent dalam permainan video dan pesan instan, dan Sina dalam jejaring sosial. Dibandingkan dengan situs sejenis, Zhaopin dan 51Jobs.comLinkedIn jauh di belakang.

Yang pasti, Cina memang tengah berancang-ancang untuk memperketat pengawasan di jagat maya. Januari lalu, negara ini mengumumkan amendemen aturan yang mengelola layanan online, pertama dan terbesar sejak tahun 2000.

Aturan baru akan menggandakan jumlah artikel menjadi 54 dari 27 untuk mengakomodasi munculnya smartphone, media sosial, dan situs berbagi video. Tak hanya LinkedIn yang kena; layanan pesan Signal bahkan dinyatakan terlarang tak sampai sebulan sejak kehadirannya.

photo
Aplikasi LinkedIn di telepon pintar seorang pengguna di Berlin, Jerman, 7 Juli 2020. - (EPA-EFE/HAYOUNG JEON)

Sudah Ketat, Semakin Diperketat

Memperbaharui  aturan di ranah maya menjadi "kado" tahun baru 2021 dari pemerintah Cina buat rakyatnya. Januari lalu, negara ini memperketat undang-undang untuk pertama kalinya dalam dua dekade terkait pengawasan internet.

Draf amendemen aturan yang mengelola layanan online ini adalah revisi besar pertama dari jenisnya sejak arahan pertama kali diberlakukan pada 2000. Ini akan menggandakan jumlah artikel menjadi 54 dari 27 untuk mengakomodasi munculnya smartphone, media sosial, dan situs berbagi video.

Aturan baru ini tak main-main. Denda maksimum untuk menyebarkan informasi yang dianggap palsu dan mengganggu ketertiban sosial akan naik menjadi 1 juta yuan (setara 154 ribu dolar AS). Hukuman tersebut terutama akan menargetkan informasi yang salah terkait virus Covid-19, serta postingan yang dinilai berbahaya bagi keamanan nasional.

Aturan baru tersebut juga akan melarang layanan yang menghapus postingan media sosial dengan biaya tertentu dan melarang perdagangan akun online yang tidak semestinya. Pihak berwenang akan meminta pendapat para ahli, tapi keputusan tersebut diharapkan berlaku akhir tahun ini.

Regulasi dunia maya di Cina diatur secara ketat sejak Xi Jinping mengambil alih kekuasaan pada 2012 sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis. Undang-undang keamanan siber mulai berlaku pada 2017.  Pada 2020, pihak berwenang meluncurkan rancangan undang-undang keamanan data untuk mengatur secara ketat bagaimana perusahaan menangani informasi digital.

 
Regulasi dunia maya di Cina diatur secara ketat sejak Xi Jinping mengambil alih kekuasaan pada 2012 sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis.
 
 

Pemerintah menilai, tingkat "kenakalan" di ranah maya kian meningkat. Materi ilegal dan tidak pantas yang dicatat oleh pihak berwenang berjumlah 163 juta kasus pada 2020, naik hampir 20 persen pada tahun tersebut.

Di Cina, individu harus memberikan informasi identitas pribadi utama untuk menggunakan media sosial dan atau layanan internet lainnya. Mendaftarkan informasi palsu atau menggunakan layanan dengan nama orang lain dilarang. Transaksi kartu SIM juga diatur; dokumen harus diisi sebelum meminjamkan kartu kepada orang lain.

Layanan yang menyediakan berita dan informasi akan beroperasi di bawah rezim perizinan. Pihak berwenang akan membuat daftar hitam, dan organisasi serta individu yang ditunjuk akan dilarang menyebarkan informasi selama tiga tahun.

Aturan baru tampaknya menjadi bagian dari penegakan yang lebih keras yang diberlakukan oleh Presiden Xi Jinping dan pemerintahannya pada pidato online sebelumnya. Saat itu, pada November, pihak berwenang mengumumkan peraturan baru yang mengatur streaming video langsung sebagai tanggapan atas lonjakan konsumsi.

 
Anak di bawah umur dilarang menyumbangkan uang kepada influencer yang melakukan streaming langsung.
 
 

Aturan ini mengharuskan perusahaan streaming langsung untuk mendaftar ke pemerintah, dan anak di bawah umur dilarang menyumbangkan uang kepada influencer yang melakukan streaming langsung. 

Cina mengikuti sensor internet yang sangat ketat, yang dikenal sebagai Great Firewall of China, yang sudah ada sejak lebih dari satu dekade lalu. Intenet di Cina adalah dunia tersendiri, di mana pemerintah memantau konten dan situs web serta aplikasi paling populer di dunia.

Meskipun China tidak pernah secara terbuka mengungkapkan dan mengakui detail tentang cengkeraman ketatnya di internet, kebijakan tersebut dilaporkan mencakup pemblokiran alamat IP tertentu, menyaring URL dan kata kunci tertentu.

photo
Warga mengenakan masker untuk melindungi dari penularan virus Covid-19 sedang menggunakan telepon pintar mereka sebelum memasuki jalan tempat berbelanja di Beijing, Sabtu (16/5/2020). - (AP Photo/Mark Schiefelbein)

10 Aplikasi "Haram" di Cina

1. GOOGLE

Ya, Anda tidak dapat menggunakan Google di Cina. Baidu adalah saingan Google di negara ini. 

2. FACEBOOK

Jejaring sosial nomor wahid di dunia ini juga tidak dapat diakses di Cina. WeChat adalah platform media sosial terbesar di Cina saat ini. 

3. TWITTER

Situs mikro-blogging populer Twitter juga dilarang di Cina. Weibo adalah padanan Twitter di negara ini. 

4. YOUTUBE

Platform video milik Google ini juga diblokir di Cina. Saingan YouTube di China adalah Youku.com, anak perusahaan Alibaba dan Tencent Video.

5. INSTAGRAM

Seperti perusahaan induknya Facebook, platform berbagi foto Instagram juga diblokir di Cina. WeChat milik Tencent dikatakan sebagai campuran Facebook, WhatsApp, dan Instagram menjadi aplikasi sosial media populer saat ini. 

6. GMAIL

Layanan e-mail terpopuler di dunia ini juga diblokir di Cina. Jika situs lain yang dilarang bisa diakses melalui "jalan tikus", Gmail sama sekali tidak bisa. 

7. WHATSAPP

Aplikasi perpesanan instan WhatsApp diblokir di Cina tak lama setelah pendiriannya. Aplikasi olah pesan instan milik Tencent, QQ, cukup populer di negara ini.

8. GOOGLE MAPS

Seperti semua layanan Google yang populer, Google Maps juga dilarang di Cina. Peta yang dikembangkan oleh mesin pencari Baidu secara luas dianggap sebagai peta yang paling populer digunakan di Cina.

9. QUORA

Situs dan aplikasi tanya jawab ini juga tidak dapat diakses di Cina. Salah satu saingan utamanya di Cina adalah Zhihu.

10. TINDER

Aplikasi kencan paling populer saat ini, Tinder, juga tidak dapat diakses di Cina. Versi lokal Cina untuk situs ini adalah Momo.


×