Sejumlah calon penumpang berjalan menuju bus yang akan mengangkut mereka di Terminal Bus Terpadu Pulo Gebang, Jakarta, Selasa (4/5). Sejumlah warga memilih melakukan perjalanan ke kampung halaman dengan armada bus dari terminal tersebut sebelum pemerintah | Prayogi/Republika.
05 May 2021, 03:50 WIB

Waspada Puncak Mudik Jelang Pelarangan

Puncak pergerakan mudik jelang Lebaran diperkirakan jatuh pada Rabu ini.

SEMARANG— Pergerakan manusia menjelang pelarangan total mudik Lebaran pada 6-17 Mei 2021 kian ramai. Puncak pergerakan tersebut diperkirakan jatuh pada Rabu (5/5) ini.

Hingga kemarin, melalui jalur darat sedikitnya sudah ada 3.800 pemudik telah masuk ke wilayah Jawa Tengah, melalui berbagai pintu masuk perbatasan dengan daerah lain. Hal ini terungkap saat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melakukan pemantauan di pos penyekatan pemudik, yang berlokasi di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung, Kota Semarang, Selasa (4/5).

Diprediksi, gelombang pergerakan pemudik antar daerah menuju Jawa Tengah masih akan berlangsung dalam dua hari sebelum tanggal 6 Mei 2021 saatdimuainya larangan kegiatan mudik oleh Pemerintah. “Maka saya lakukan pengecekan untuk memastikan kesiapan pos penyekatan menjelang berlakunya larangan 6 Mei nanti,” kata Ganjar di GT kalikangkung, Selasa (4/5).

Gubernur meminta masyarakat untuk menahan diri dan tidak mudik pada Lebaran tahun ini karena aturan-aturannya telah dibuat pemerintah dan harapannya bisa dipatuhi demi kebaikan bersama.

Terkait

photo
Sejumlah calon penumpang berada dalam bus yang akan mengangkut mereka di Terminal Bus Terpadu Pulo Gebang, Jakarta, Selasa (4/5/2021). Sejumlah warga memilih melakukan perjalanan ke kampung halaman dengan armada bus dari terminal tersebut sebelum pemerintah memberlakukan pelarangan mudik mulai tanggal 6 hingga 17 Mei 2021.  - (Prayogi/Republika.)

Ia menegaskan, kalaupun harus meninggalkan tempat, pastikan syarat melakukan perjalanan di masa pandemi harus dilengkapi. “Sebab hingga kemarin kita masih dapati banyak yang nekat, menerobos dan justru membahayakan keluarga di rumah kampung halamannya,” kata Ganjar.

Ia menekankan, sudah banyak contoh munculnya penularan akibat pergerakan orang antar daerah seperti halnya dari kerumunan yang muncul setiap libur panjang. “Jadi saya minta masyarakat bersabar dahulu untuk tidak melakukan aktivitas mudik agar Covid-19 bisa dikendalikan,” tegasnya.

Sementara, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyampaikan hasil survei terbarunya terkait kemungkinan masyarakat akan melakukan mudik Lebaran tahun ini. Dari hasil survei tersebut, 20,8 persen responden menyatakan tetap akan mudik meski pandemi Covid-19 masih berlangsung.

"Yang mengatakan kemungkinan besar mudik, meskipun dalam situasi wabah, 20,8 persen. Ini bukan angka yang kecil, apalagi situasi pandemi belum selesai," ujar Burhanuddin dalam rilis daringnya, Selasa (4/5).

Sementara itu, 38,6 persen responden mengatakan kecil kemungkinan akan melakukan mudik Lebaran pada tahun ini. Sedangkan 34,2 persen lainnya sangat kecil kemungkinan melakukan mudik. "Jadi ada masyarakat Indonesia yang maju tak gentar mudik apapun alasannya," ujar Burhanuddin.

Ditanya terkait kebijakan larangan mudik oleh pemerintah, 45,8 persen responden mengaku setuju dengan kebijakan tersebut. Namun, ada 28,0 persen responden yang tidak setuju dengan kebijakan yang disebut untuk mengurangi potensi penyebaran Covid-19.

"Jadi ini masukan buat pemerintah, termasuk komite penanganan Covid bahwa larangan itu jika sekedar indah di atas kertas itu mudah sekali dilanggar. Karena potensinya besar karena ada 28 persen yang tidak setuju larangan mudik," ujar Burhanuddin.

Indikator Politik Indonesia melakukan survei ini pada medio April 2021, dengan 1.200 responden menggunakan metode simple random sampling. Adapun toleransi kesalahan atau margin of error sebesar kurang lebih 2,9 persen. Sampel responden berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional, dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. 

Apel akbar

Sementara, persiapan penyekatan jalur-jalur mudik menjelang masa larangan mudik terus dimatangkan. Jajaran Polda Metro Jaya berencana menggelar apel gelar pasukan pada Rabu (5/5). Apel tersebut dilaksanakan bersama-sama dengan Korlantas Mabes Polri untuk persiapan Operasi Ketupat 2021 yang digelar mulai 6-17 Mei 2021 mendatang.

"Ini tahun kedua melaksanakan operasi ketupat di masa pandemi Covid-19," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (4/5).

Dalam Operasi Ketupat 2021, Yusri menjelaskan, pihaknya membentuk 31 titik pos penyekatan dan pengamanan. Masing-masing sebanyak 17 pos pengamanan berada di dalam kota dan 14 pos penyekatan tersebar di area pinggir kota wilayah hukum Polda Metro Jaya. Ia menjamin pihaknya akan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap jalur-jalur tikus.

"Kami sudah belajar dari tahun lalu, bagaimana jalur-jalur tikus, kami sempat kecolongan. Sekarang ini sudah kita tutupi semua kita bentuk pos pengamanan dan penyekatan," ungkap Yusri.

Lanjut Yusri, pihaknya akan menurunkan sebanyak 4.379 personel gabungan TNI-Polri untuk menjalankan Operasi Ketupat 6-17 Mei 2021. Kemudian juga pihaknya menyiapkan 1162 pos kegiatan dari 10 kegiatan yang ada.

Namun, ia mengingatkan bahwa larangan mudik bukan untuk menyusahkan masyarakat. "Perlu dipahami adalah upaya pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 diharapkan masyarakat mau disiplin," kata Yusri.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by


×