Pekerja menyelesaikan pembuatan mukena di Pabrik Mukena Siti Khadijah, Cinere, Depok, Rabu (7/4/). Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia normal pada kuartal pertama tahun ini | MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO
04 May 2021, 04:00 WIB

Tren Pemulihan Ekonomi Berlanjut

Indeks PMI Indonesia naik ke level 54,6 dan berada di zona ekspansi.

JAKARTA -- Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia normal pada kuartal pertama tahun ini. Hal ini didukung dengan tren pemulihan ekonomi yang berlanjut di tengah pandemi Covid-19. Meski penguatan kinerja ekonomi terus terjadi, lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah negara tetap perlu diwaspadai.

Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, perbaikan perekonomian terjadi seiring membaiknya kondisi ekonomi global. Tren penguatan kinerja perekonomian juga berlanjut pada awal tahun ini.

"Hal tersebut tercermin dengan menguatnya PMI (purchasing managers index) juga meningkatnya pertumbuhan volume perdagangan global, serta membaiknya harga komoditas," ujar Sri dalam konferensi pers KSSK secara virtual, Senin (3/5).

 
Produksi manufaktur Indonesia terus meningkat pada April di tengah-tengah ekspansi permintaan baru yang sangat kuat.
Direktur Ekonomi IHS Markit Andrew Harker
 

Sri mengatakan, Dana Moneter Internasional (IMF) juga merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dari sebelumnya 5,5 persen menjadi enam persen. Meski demikian, Sri mengakui, melonjaknya kasus Covid-19 di beberapa negara menjadi tantangan bagi perekonomian.

Terkait

Di Indonesia, kasus Covid-19 mulai menunjukkan penurunan. Hal ini menurutnya didukung oleh program vaksinasi yang terus dilakukan pemerintah. Indeks manufaktur (PMI) Indonesia yang dirilis IHS Markit pada April 2021 juga kembali mengalami kenaikan. PMI Indonesia naik pada level 54,6 dari bulan sebelumnya 53,2.

"Data PMI kita baru saja keluar ada di level 54,6 dan ini berada di zona ekspansif, melanjutkan tren penguatan, sementara kinerja ekspor juga membaik," katanya.

Cadangan devisa Indonesia juga sebesar 137,1 miliar dolar AS atau setara dengan 10,1 bulan impor. Tingkat inflasi pun masih terkendali yakni 0,13 persen pada April 2021.

Kinerja sektor manufaktur menunjukkan percepatan pada bulan lalu. IHS Markit mengatakan, indikator produksi, permintaan baru, dan pembelian semua naik pada tingkat yang belum pernah terjadi selama survei tersebut dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir. Sementara itu, permintaan ekspor baru kembali tumbuh setelah 16 bulan periode penurunan.

"Produksi manufaktur Indonesia terus meningkat pada April di tengah-tengah ekspansi permintaan baru yang sangat kuat. Yang menggembirakan, total bisnis baru didukung oleh kenaikan pertama pada ekspor sejak pandemi Covid-19 melanda karena permintaan internasional menunjukkan tanda-tanda perbaikan," ujar Direktur Ekonomi IHS Markit Andrew Harker.

Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan, laju inflasi pada April 2021 sebesar 0,13 persen. Angka inflasi tersebut mengalami kenaikan dari posisi Maret  2021 maupun April 2020 yang masing-masing sebesar 0,08 persen.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Badan Pusat Statistik (@bps_statistics)

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan, dengan angka inflasi tersebut, angka inflasi secara tahunan (//year on year///yoy) sebesar 1,42 persen. "Komoditas yang menyumbang inflasi adalah daging ayam ras dengan andil 0,06 persen, ada juga komoditas lain seperti minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, buah jeruk, anggur, pepaya, emas perhiasan, rokok kretek, ikan, serta ayam sear yang memberi andil inflasi 0,01 persen," kata Setianto dalam konferensi pers.

Ia menyampaikan, ditinjau dari kelompok pengeluaran, kelompok yang memberikan andil terbesar yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,05 persen. Kelompok tersebut pada bulan lalu mengalami inflasi 0,20 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah mengatakan, kenaikan inflasi terjadi karena adanya momentum Ramadhan yang meningkatkan belanja masyarakat. Ia memperkirakan kenaikan inflasi akan kembali terjadi pada Mei 2021 dan kembali turun seperti sebelum Ramadhan.

"Inflasi ini hanya karena ada pengungkit Ramadhan sehingga lebih kepada efek temporer. Daya beli saat ini memang naik karena misalnya ada THR," kata Rusli.

Kendati demikian, Rusli menilai, kondisi perekonomian belum sepenuhnya pulih. Menurutnya, dengan masih adanya fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) di dunia usaha maka situasi perekonomian belum membaik. 


×