Hikmah Republika Hari ini | Republika
30 Apr 2021, 03:30 WIB

Nuzulul Quran dan Literasi Keumatan

Mari menjadikan Nuzulul Quran sebagi ajang perenungan bersama. Evaluasi diri tingkat literasi.

 

OLEH KHOFIFAH INDAR PARAWANSA

Nuzulul Quran merupakan sejarah turunnya ayat Alquran pertama kali. Peristiwa tersebut diperingati setiap 17 Ramadhan. Hasil dari ikhtiar Rasulullah berkhalwat di Gua Hira.

Menurut risalah, kala itu, Malaikat Jibril menghampiri Rasulullah. Wujudnya membuat Rasulullah yang berusia 40 tahun itu terkejut. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu berupa ayat Alquran, seraya  mengucapkan, "Iqra" yang artinya bacalah. 

Terkait

Rasulullah yang memang tidak bisa membaca pun terkejut. Malaikat Jibril kembali mengatakan "Iqra". Diulang sampai tiga kali. Dan selanjutnya diteruskan hingga lima ayat tersampaikan kepada Rasulullah. Cerita sejarah yang hampir dipahami semua umat Islam, tapi belum mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

"Iqra" yang berarti bacalah. Sepenggal ayat yang memiliki makna mendalam. Lewat baca, manusia paham segala hal. Lewat baca pula, manusia bisa menuliskan sebuah naskah. Perintah ini yang jarang sekali diterapkan pada kehidupan sehari-hari. 

Dulu ada ilmuwan Muslim bernama Aljabbar. Dia menulis buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Dia juga berperan penting dalam memperkenalkan angka Arab yang kemudian diadopsi sebagai angka standar pada sistem penomoran posisi desimal di dunia Barat. Itu terjadi pada abad ke-12. 

Aljabbar juga merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi. Sayangnya, peran heroisme keilmuan Aljabbar redup. Itu karena literasi umat Islam masih lemah. Perlu dikuatkan. 

Nuzulul Quran kali ini adalah momentum bersama. Mengingatkan kita semua untuk bersama-sama menguatkan kemampuan literasi. Paling tidak, ada tiga tahapan yang perlu ditekankan bersama. Pertama, listening society, yakni mendengar. Ini juga bagian dari literasi. Menyerap semua informasi dari apa yang di dengar. 

Lalu menelaah melalui tahap berikutnya, yakni reading society. Era sekarang lebih dimudahkan. Literatur pustaka bisa diakses melalui internet. Siapa pun bisa mengakses, dan membacanya dengan mudah. Tahap terakhir adalah writing society, yakni menulis sebuah karya.

Perlahan namun pasti. Diawali dengan mendengar kemudian membaca. Lalu menarik kesimpulan dan menuangkan dalam bentuk naskah baru. Dengan begitu, ada informasi baru yang merupakan hasil literasi keumatan masa kini. Tradisi itulah yang sebenarnya diperintahkan Allah melalui Surah al- Alaq. 

Perkembangan teknologi semakin pesat.  Sekarang sudah mengarah ke Artificial Inteligent.  Ke depan akan ada teknologi baru. Umat Islam harus mampu mengikutinya. Di saat semua orang berlari, Umat Islam harus melakukan lompatan. Yakni melalui inovasi dan terobosan. Modalnya berasal dari kekuatan literasi setiap pribadi Muslim.

Mari menjadikan Nuzulul Quran sebagi ajang perenungan bersama. Evaluasi diri tingkat literasi.


×