IITCF | Wihdan Hidayat | Republika

Pro-Kontra

Akan Ada Peralihan Moda Transportasi

RUDIANA WAKIL KETUA ASOSIASI PERUSAHAAN PERJALANAN WISATA INDONESIA (ASITA)

Oleh Akan Ada Peralihan Moda Transportasi

Kenaikan harga tiket pesawat belakangan apakah berdampak pada jumlah penumpang?
Sebagai agen perjalanan, kita melihat dari konvensionalnya, dari bookin-an. Memang berkurang, itu jelas penurunan ada, walaupun tidak signifikan. Kalau di Asita tidak terlihat jelas penurunan penumpang pesawatnya karena banyak juga orang yang memesan low cost carier(LCC) melalui online travel agent(OTA). Kita mendengar adanya laporan, orang yang naik di pesawatnya kosong. Yang paling parah adalah penerbangan ke Lombok yang kosong banget, hanya isi berapa orang saja katanya.

Artinya, kenaikan tiket pesawat justru membuat rugin maskapai?
Bicara kenaikan bagasi, maskapai tidak bisa memaksakan penumpang membayar bagasi. Apalagi dengan bersikeras kalau tidak mau bayar bagasi, ya sudah tidak usah terbang sama saya. Kalau gitu, yang rugi kan airlines-nya.Coba kalau sepekan terbang cuma tiga orang, empat orang, atau 10 orang, apa tidak bangkrut itu?

Sekali terbang biaya costberapa ratus juta? Bahan bakarnya apa bisa beli yang untuk empat orang kantidak.Bodypesawatnya sama, lalu biaya operasionalnya dari penanganan ground holding kansama saja. Nah, ini berdampak juga ke kargo.Naik nggak kar go nya, apakah tertutup dengan kargo?

Bagaimana kemudian kenaikan tiket dan tarif bagasi ini harus disikapi?
Jadi, kalau dibilang nanti bagaima na, kita semua hanya wait and see.
Semua menunggu, tapi saya yakin bahwa ini kalau kita biarkan berlarut- larut akan tambah dalam dan sulit dikem balikan. Kebanyakan masyara kat Indonesia sudah memiliki pema haman kalau LCC adalah harga murah.Misalnya ke Surabaya Rp 600 ribu, Rp 350 ribu-Rp 400 ribu ke Semarang, dulu kan segitu. Sekarang berapa harganya? Ada yang Rp 1,2 juta, Rp 1,4 juta untuk one way, loh.

Dulu itu bisa pulang pergi. Dulu penumpang sudah mengetahui berapa harga patokan tiket pesawat, tapi sekarang tidak bisa dipatok. Ini mau sampai kapan? Dulunya LCC itu sudah mencuci otak kita semua dengan mengklaim lebih murah dibandingkan naik kereta api.

Apa yang bisa dilakukan Asita untuk memperbaiki jumlah penumpang yang menurun?
Kita hanya agen, penghubung antara airlinesdengan end user. Namun, menjadi yang pertama dimarahi penum pang karena harganya naik. Anda (maskapai) tidak bisa melakukan secara drastis tiba-tiba harus mem bayar bagasi. Kalaupun harus bayar, pelan- pelan. Misalnya, Rp 100 ribu dari yang dulunya tidak bayar. Itu kanpelan dan mungkin sistem dengan tarif baru akan jalan. Tapi, kalau menaikkan seperti ini ujungnya akan lain. Jangan sistemnya itu tiba-tiba secara men dadak. Itu salah kalau tipe-tipe begitu.

Apa ada peralihan moda trans- portasi?
Dengan harga yang sekarang, orang-orang yang me miliki keperluan pernikahan, bisnis, kunjungan keluarga terpaksa juga terbang walau ma hal. Tapi, kalau leisure, untuk mencari kesenangan, mereka akan berpikir ulang. Apalagi kendaraan darat melalui jalan tol bisa ditempuh 12 jam hing ga Surabaya. Hitung-hi tung sekali an jalan-jalan. Yang tadinya 1-2 jam terbang ke Yogyarakara, sekarang 6-7 jam juga sudah sampai ke Yogyakarta. (ed:fitriyan zamzami)

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat