Atur pengeluaran dengan cermat (ilustrasi) | Freepik
26 Apr 2021, 11:56 WIB

Jangan Boros dan Lapar Mata, Ini Caranya

Agar tidak boros, buatlah daftar prioritas untuk berbelanja saat Ramadhan.

Melewati 10 hari pertama puasa, coba dihitung-hitung kembali berapa uang yang sudah dikeluarkan. Pasti banyak yang menjawab lebih besar dari pengeluaran harian di luar Ramadhan. Bahkan, bisa jadi kelebihannya bisa mencapai 50 persen. Biasanya uang banyak keluar untuk membeli makanan saat ngabuburit alias menunggu waktu berbuka.

Saat itulah biasanya kita akan lapar mata. Ada yang jual kolak, dibeli. Ada yang jual gorengan, langsung masuk kantong belanja. Ada yang jual es kelapa, sikat juga. "Enak-enak semua sih," ujar Putri Ashri (21 tahun).

Perencana keuangan OneShildt, Rahma Mieta Mulia menjelaskan, esensi dari Ramadhan itu adalah menahan nafsu. Maka sangat tidak sesuai jika saat Ramadhan, kita justru menjadi boros. “Agar tidak boros, mungkin bisa lakukan tiga hal ini,” ungkap dia kepada Republika.

Pertama, kita bisa membatasi belanja Ramadhan dengan mengalokasikan anggaran khusus Ramadhan. "Besaran angkanya disesuaikan dengan kebutuhan (bukan keinginan), dan berdasarkan pengalaman di Ramadhan tahun sebelumnya. Jika sudah dianggarkan, maka harus disiplin. Misalnya, untuk buka puasa dianggarkan Rp 25 ribu per hari," ujarnya.

Terkait

Kedua, selalu ingat kalau saat lapar, kita cenderung menjadi boros. Maka sebaiknya, saat berpuasa, jangan berbelanja kecuali memang sudah direncanakan atau dianggarkan. ''Artinya, ketika memang ingin belanja, buat dulu list apa saja yang akan dibeli,'' ujar Mieta.

Selain itu, jika sanggup, jangan membuka aplikasi marketplace. Aplikasi belanja daring ini merupakan kemudahan bagi kita untuk membeli barang apa pun yang kita inginkan. "Mulai dari harganya, bentuknya, warnanya, bisa pilih yang kita inginkan. Dan kadang ini membuat kita lebih mudah menghabiskan uang," kata Mieta.

photo
Atur pengeluaran dengan cermat (ilustrasi) - (Pixabay)

Untuk menyiasati harga-harga bahan makanan yang meningkat, Mieta menyarankan agar kita membeli bahan makanan sebelum Ramadhan. "Tentu tidak semua bahan makanan, beli yang bisa awet saja,” ujar dia lagi.

Jauhi juga penyebab utama yang membuat pengeluaran lebih besar, yakni impulsive buying atau membeli berdasarkan keinginan. Pembelian dadakan ini bisa menjerumuskan pada keborosan tak terkendali.

Di sisi lain, kita juga harus paham dengan karakter kita sendiri ketika memiliki uang banyak. Menurut Mieta, ada orang yang karakternya itu tidak bisa melihat uangnya banyak. "Jadi ketika belanja dia akan menghabiskannya karena dia pikir uang di ATM masih banyak. Ketika ingin membeli sesuatu untuk keluarga di kampung, kebablasan karena berpikir uang masih banyak," kata Mieta.

Untuk mereka yang seperti itu, Mieta menyarankan membuat daftar belanja secara rinci. "Mestinya didaftar dulu buat apa dulu yang paling prioritas. Kalau masih ada sisa, baiknya ditabung saja misalnya untuk dana darurat. Daripada dipakai untuk hal nggak penting. Karena kita enggak tahu pandemi ini ke depannya bagaimana,” ungkap Mieta.

 

 

 

Mestinya didaftar dulu buat apa dulu yang paling prioritas.

 

Rahma Mieta Mulia
 

 

Lebih Teliti Soal Keuangan

Cerita seorang warga Bogor, Hanifa (32 tahun), justru berbeda. Jika orang lain mungkin menghabiskan banyak uang untuk berbuka puasa, dia mengaku Ramadhan selama pandemi ini sangatlah berbeda. Intensitas buka puasa bersama (bukber) sudah jauh berkurang, bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Ini memang membuatnya jadi lebih menghemat uang, sekaligus membuatnya sedih.

“Memang uang untuk bukber jadi nggak ada, bisa ditabung. Tapi sedih juga karena tidak bisa silaturahmi. Bahkan Lebaran tahun lalu itu, biasanya rumah saya jadi tempat berkumpul keluarga besar, tahun lalu itu tidak ada yang datang sama sekali,” papar dia kepada Republika.

Alasan tak bisa berkumpul pun karena masing-masing orang memang tidak mau ambil risiko tertular atau menularkan. Kemudian, ada keluarga yang biasanya mengakses kendaraan umum membawa anak, tapi karena pandemi jadi sulit bepergian karena tak ada kendaraan lain.

Untuk pengaturan keuangan saat Ramadhan, Hanifa menyebut tidak terlalu banyak berbeda dengan hari biasa. Misalnya pembagian pendapatan yang diterima setiap bulan, 10 persennya untuk ditabung atau diinvestasikan, kemudian 35 persen untuk cicilan utang, lalu pengeluaran rutin sekitar 40-50 persen, dan sisanya untuk pengeluaran ekstra.

“Semua sudah saya lakukan dari sebelum Ramadhan. Memang harus seperti itu. Tapi saya jadi lebih teliti soal uang ini pas pandemi, karena terasa /banget/ sulitnya. Saya juga melihat orang sekitar juga kesulitan,” kata Hanifa.

Biaya tambahan saat Ramadhan yang juga menjadi fokusnya adalah biaya untuk zakat fitrah dan sedekah lainnya. Walaupun hari biasa ia juga sering melakukannya, tapi saat Ramadhan terasa sangat berbeda karena rasanya ia ingin selalu mengeluarkan uang untuk sedekah.

Terkadang, ia juga melakukan sahur on the road bersama beberapa temannya. Biasanya dilakukan saat menjelang akhir Ramadhan. Ia berharap agar pandemi segera berlalu. Dan untuk tahun ini, ia ingin agar aturan bisa lebih dilonggarkan agar bisa berkumpul dengan keluarga tetapi tetap dengan protokol kesehatan.


×