Nasional
Bapak Mengalami Kecelakaan Kerja, tapi Kamu Jangan Putus Asa
Negara hadir di tengah mereka yang mengalami kecelakaan kerja.
Gadis setinggi 160 cm itu berdiri dengan percaya diri. Dengan mengenakan seragam sekolah menengah atas, siswi bernama Stella tersebut tampil berdiri di hadapan kamera. Di sampingnya adalah Anastasia yang juga pelajar. Keduanya sekolah di sebuah SMA di Jayapura, Papua.
Usia mereka 16 tahun. Ini adalah masa remaja yang energik. Masa yang tidak sebatas meniru kepribadian, gagasan, dan keterampilan orang lain, tapi juga memilah segala yang mereka saksikan untuk kemudian menjadi pengetahuan dan sikap sendiri.
Pada masa ini, peran orang tua adalah yang paling strategis. Ayah dan ibu adalah figur yang mengarahkan Stella dan Anastasia harus berbuat apa dan harus meninggalkan perilaku macam apa. Kasih sayang kedua orang tua adalah gizi bagi pertumbuhan dua gadis berambut ikal tadi. Kasih sayang berupa perhatian, bimbingan, dan wejangan, yang terus diberikan sepanjang masa.
Namun, Stella dan Anastasia kini hanya mendapatkan kasih sayang dari sang ibu. Sebab ayah mereka: dua orang pekerja yang menjadi peserta Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek) mengalami kecelakaan kerja.
Awal mengetahui ayah mereka mengalami kecelakaan kerja adalah masa berat yang mereka lewati. Hari demi hari dilalui dengan air mata. Ayah yang biasa menyemangati mereka telah tiada. Mereka meninggal dunia dalam kerja untuk menghidupi keluarga. Jiwa dan raga mereka pertaruhkan demi membahagiakan Stella dan Anastasia.
Dalam kesendirian, dua gadis ini membisikkan harapan dalam hati. Mempertanyakan di manakah ayah sekarang. Apa yang sedang dilakukan. Lalu mereka menceritakan diri mereka yang kini terus melanjutkan sekolah. Dan akan terus sekolah hingga jenjang perguruan tinggi.
Ayah siswi di Provinsi paling timur Indonesia ini memang sudah terkubur. Tapi masa depan keduanya tidak boleh ikut mati. Dan mendiang dua pria ayah gadis ini sudah memikirkan itu. Bahwa sejak lama mereka sudah mengikuti program jaminan kecelakaan kerja. Manfaatnya dirasakan saat ini. Di saat dua pekerja Papua tadi mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan meninggal dunia, keluarga mereka tetap sejahtera. Ekonomi keluarga tetap stabil. Anak-anak tetap melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi.
“Terima kasih atas beasiswa ini. Sangat berarti bagi saya untuk melanjutkan pendidikan, mewujudkan cita – cita menjadi dokter, dapat membanggakan orang tua, khususnya almarhum bapak,” kata Stella.
Sedangkan Anastasia mengucap syukur dapat terus melanjutkan pendidikan. Dia bercita-cita pada masa yang akan datang juga menjadi dokter untuk melayani masyarakat.
Beasiswa tadi berasal dari program kecelakaan kerja BP Jamsostek. Diberikan kepada anak setelah peserta mengalami kejadian yang tak disangka, yaitu kecelakaan kerja. Beasiswa diberikan kepada dua anak peserta yang nominal maksimalnya mencapai Rp 174 juta.
Terhubung dengan Menaker dan Dirut BP Jamsostek
Kamera yang menyorot dua anak Siswi SMA Jayapura tadi terhubung dengan Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah dan Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) Anggoro Eko Cahyo di Jakarta. Bersama jajaran Kementerian Ketenagakerjaan dan BP Jamsostek, Ida dan Anggoro menyerahkan beasiswa untuk anak-anak yatim yang ditinggal orang tuanya akibat kecelakaan kerja secara simbolis di Jakarta pada Rabu, (21/4). Acara ini dilakukan serentak di 33 provinsi lainnya secara daring.
Ida mengelus dada mendengarkan isi hati dua gadis Papua tadi. Tak menyangka, Stella dan Anastasia begitu tegar melanjutkan hidup tanpa kasih sayang ayah. Mereka tetap belajar mengukir prestasi dan bersemangat mewujudkan cita-cita, meski bapak mereka sudah di alam baka. Mereka terus membaca buku, mengasah keterampilan, dan membangkitkan motivasi meraih yang terbaik, meski teladan mereka sudah di dunia yang berbeda. “Saya terharu,” kata Ida yang juga politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Bapak memang sudah meninggalkan Stella, tapi kamu tak boleh putus asa, ya nak. Tetap harus optimis, belajar yang serius, insya Allah nanti akan menjadi dokter.
IDA FAUZIAH, Menteri Ketenagakerjaan.
Menurut Ida, pendidikan adalah masa depan. Tidak hanya dimiliki anak yang orang tuanya masih hidup dan mampu bekerja. Anak-anak yang orang tuanya mengalami kecelakaan kerja sehingga mengalami cacat atau bahkan meninggal dunia, tetap berhak mendapatkan pendidikan.
“Negara hadir langsung meyakinkan keluarga bahwa masa depan anak-anak tadi harus gemilang. Negara juga memperhatikan kesejahteraan keluarga mereka,” imbuh Ida.
Pembayaran beasiswa ini ditunaikan setelah aturan turunan dari PP Nomor 82 Tahun 2019 yaitu Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 5 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Program JKK, JKM dan JHT, efektif berlaku pada 1 April 2021. Permenaker ini mengatur teknis pelaksanaan pemberian manfaat JKK, JKM dan JHT, dengan salah satunya adalah pembayaran beasiswa pendidikan bagi anak ahli waris peserta.
Berdasarkan Permenaker tersebut, beasiswa pendidikan anak diberikan pada ahli waris peserta yang mengalami risiko meninggal dunia, dan atau kecelakaan kerja yang berdampak cacat total tetap atau meninggal dunia. Manfaat beasiswa ini diberikan untuk 2 orang anak dengan nilai maksimal Rp174 juta, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga jenjang pendidikan Strata 1 (S1). Kriteria anak yang dapat menerima beasiswa dinyatakan belum bekerja, belum menikah, dan di bawah usia 23 tahun.
Ida bersyukur atas implementasi Permenaker Nomor 5 Tahun 2021, yang terlaksana bertepatan bulan Ramadan sekaligus Hari Kartini. "Permenaker Nomor 5 Tahun 2021 ini sangat dinantikan kehadirannya, karena merupakan pemutakhiran dari 4 Permenaker dan 1 Keputusan Menaker yang sebelumnya mengatur mekanisme pemberian manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan", jelas Ida.
Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo mengapresiasi kerja keras Kemnaker dan seluruh Kementerian/Lembaga yang terlibat dalam penyusunan Permenaker Nomor 5 tahun 2021, sehingga kenaikan manfaatnya sangat dirasakan ahli waris peserta program JKK dan JKM.
“Manfaat beasiswa ini naik signifikan, 1.350 persen, dari sebelumnya sebesar Rp 12 juta untuk satu orang anak, hingga menjadi maksimal Rp 174 juta untuk dua orang anak. Semoga dengan adanya beasiswa ini dapat mendukung mereka dalam menjalani proses belajar di sekolah, perguruan tinggi atau pelatihan,” ujar Anggoro.
Mantan Direktur Keuangan BNI ini menambahkan proyeksi total penerima manfaat beasiswa ini mencapai 10.451 anak, dengan total nilai yang dikucurkan sebesar Rp 115,64 Miliar.
"Saya berharap agar pembayaran beasiswa yang sempat tertunda ini sesegera mungkin kami tunaikan, paling lambat minggu pertama bulan Mei 2021 mendatang untuk mendukung pendidikan anak peserta,” tutur Anggoro.
Hal ini sudah menjadi komitmen BP Jamsostek untuk memberikan pelayanan terbaik dengan cepat dan tepat sasaran, agar kepercayaan masyarakat terus meningkat, sehingga akan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan dalam melindungi pekerja menjalani aktivitas pekerjaan sehari-hari. “Tentunya dengan kesadaran berjaminan sosial yang tinggi, kami harapkan akan mengakselerasi tercapainya perlindungan menyeluruh bagi seluruh pekerja Indonesia,” ujarnya.
Menyapa penerima beasiswa
Anggoro sempat menyapa penerima beasiswa lainnya, yaitu Ryan Alfitra. Dia adalah mahasiswa semester enam program studi MIPA Universitas Syah Kuala Aceh. “Saya akan memanfaatkan beasiswa ini sebaik mungkin. Belajar dengan giat, meraih prestasi gemilang, dan membangun negeri,” ujar pria berdarah Aceh tersebut.
Ida Fauziah dan Anggoro menepuk tangan. Anggoro kemudian bertanya, apa yang akan dilakukan Ryan setelah selesai kuliah. “Insya Allah mau berwirausaha,” jawab Ryan.
Kalau jadi wirausaha, jangan lupa nanti pekerjanya ikut program jamsostek.
ANGGORO EKO CAHYO, Dirut BP Jamsostek.
Dengan mengikuti program jamsostek, pekerja merasa tenang melaksanakan kewajibannya. Mereka tak lagi mengkhawatirkan masa depan keluarganya jika nanti mengalami hal yang tidak diinginkan akibat kecelakaan kerja.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
