Petugas kesehatan membawa jenazah korban Covid-19 untuk dikremasi di New Delhi, India, Senin (19/4/2021). | AP/Manish Swarup

Internasional

23 Apr 2021, 03:45 WIB

Kasus Harian India Cetak Rekor Dunia

Rekor kasus tertinggi dalam satu hari sebelumnya dipegang AS.

NEW DELHI -- India mencatat rekor baru dalam pandemi Covid-19 dengan melaporkan 314.835 kasus baru dalam 24 jam, Kamis (22/4). India sedang diterpa gelombang wabah virus korona kedua dan lonjakan kasus ini dikhawatirkan akan mengguncang sistem kesehatan negara itu.

Rumah sakit di seluruh utara dan barat India termasuk ibu kota New Delhi sudah mengeluarkan notifikasi. Mereka mengatakan, oksigen medis hanya memiliki beberapa jam untuk mempertahankan pasien Covid-19 tetap hidup.  

Berdasarkan data Pemerintah New Delhi yang dipublikasikan di internet, lebih dari dua pertiga rumah sakit di kota yang sudah tidak memiliki ranjang rawat inap. Para dokter pun meminta pasien untuk tinggal di rumah.

"Situasinya sangat kritis," kata presiden Asosiasi Medis Dr Kirit Gadhvi di Kota Ahmedabad, Kamis.

"Pasien-pasien kesulitan mendapatkan ranjang di rumah sakit Covid-19, kekurangan oksigen juga sangat parah," tambahnya.

photo
Warga mengenakan APD saat menjemput jenazah kerabat mereka yang meninggal akibat Covid-19 di New Delhi, India, Senin (19/4/2021) - (AP/Manish Swarup)

Pada Kamis, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan mencicit di Twitter, “Permintaan dan pasokan (oksigen) dipantau 24 jam.”  

Ia menanggapi permintaan oksigen yang melejit dan berlipat ganda. Pemerintah diklaim telah meningkatkan kuota oksigen di tujuh negara bagian terparah.

Pemerintah pun bergerak dengan mengerahkan tank-tank oksigen untuk mengisi pasokan di rumah sakit. Sementara rekaman video televisi menunjukkan orang-orang membawa tabung oksigen yang kosong berkerumun di sebuah fasilitas pengisian ulang di Negara Bagian Uttar Pradesh.

Pada Rabu (21/4), Pengadilan New Delhi memerintahkan pemerintah untuk mengalihkan produksi oksigen untuk dunia usaha ke rumah sakit. “Kita tidak boleh membiarkan orang meninggal karena kehabisan oksigen. Mohonlah, meminta, atau bahkan mencurilah sekalipun, ini darurat nasional,” kata hakim, menanggapi petisi dari sebuah rumah sakit di New Delhi.

Menurut Kementerian Kesehatan India, negaranya memproduksi total oksigen 7.500 metrik ton per hari. Sebanyak 6.600 metrik ton oksigen dialokasikan untuk kepentingan medis.   

Saat ini 75 gerbong kereta di New Delhi telah diubah menjadi rumah sakit. Mereka bisa menyumbang 1.200 tempat tidur untuk pasien Covid-19.

Asisten profesor Divisi Penyakit Menular University of South Carolina, Amerika Serikat Krutika Kuppali mengatakan di Twitter, krisis ini akan mendorong sistem kesehatan ambruk. Rekor kasus tertinggi dalam satu hari sebelumnya dipegang AS.

Negeri Paman Sam pernah melaporkan 297.430 kasus infeksi baru dalam satu hari pada bulan Januari lalu. Tapi sejak saat itu angka infeksi turun drastis.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan India, total kasus infeksi India pada Kamis sekitar 15,93 juta kasus sementara kasus kematian bertambah 2.104 menjadi 184.657.

photo
Pekerja menyusun tabung oksigen untuk dikirim ke rumah sakit di Bengaluru, India, Rabu (21/4/2021) - (AP/Aijaz Rahi)

Penguncian wilayah atau lockdown dan pembatasan ketat telah menciptakan kesulitan, rasa takut, dan marah pada sebagian besar warga New Delhi dan sejumlah kota lain.

Sementara ambulans yang melaju kencang menjadi pemandangan yang terasa akrab di jalan. Ambulans itu kerap berpacu dengan waktu, mencari tempat kosong dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Sementara anggota keluarga yang berduka mengular di luar krematorium, tempat jenazah pasien Covid-19 dikremasi.

“Saya mendapat panggilan telepon setiap hari dari pasien-pasien yang putus asa tak mendapat tempat tidur. Jumlah permintaan jauh lebih banyak dari pasokan,” ujar dr Sanjay Gururaj, yang bertugas di a doctor Shanti Hospital and Research Center di Bengaluru. “Sungguh membuat frustrasi saat tidak bisa menolong mereka.”

Awl pekan ini, Yogesh Dixit, warga Negara Bagian Uttar Pradesh, mengatakan, sudah membeli dua tabung oksigen seharga 12 ribu rupee untuk ayahnya. Harga tersebut dua kali lipat dari harga normal. Demi memenuhi kebutuhan ini, ia terpaksa meminta istrinya menjual perhiasannya.

photo
Pekerja mengambil sampel dari seorang perempuan di Kashmir, Srinagar, Rabu (21/4/2021). - (AP/Dar Yasin)

Tak Ada Gencatan Senjata Semasa Pandemi

Sementara, orang sakit parah dengan cepat mendorong rumah sakit Gaza mendekati kapasitasnya. Kondisi ini akibat lonjakan kasus Covid-19 di wilayah Palestina tersebut.

Selain rumah sakit, tempat pemakaman juga merasakan ketegangan di Gaza. Penggali kubur Mohammad al-Haresh mengatakan telah mengubur hingga 10 korban Covid-19 per hari, meningkat dari satu atau dua bulan lalu.

"Masa perang sulit, tetapi virus korona jauh lebih sulit bagi kami," katanya yang menggali kuburan selama perang Israel-Gaza 2014.

"Dalam perang, kami akan menggali kuburan atau menguburkan orang mati selama rehat atau gencatan senjata. Dengan virus korona, tidak ada gencatan senjata," ujar Haresh.

Warga Palestina khawatir bahwa kombinasi kemiskinan, kekurangan medis, skeptisisme vaksin, data Covid-19 yang buruk, dan pertemuan selama Ramadhan dapat mempercepat peningkatan.

photo
Petugas kesehatan mensterilisasikan ruangan isolasi psien Covid-19 di Ramallah, beberapa waktu lalu.. - (AP/Nasser Nasser)

"Rumah sakit hampir mencapai kapasitas penuh. Mereka belum cukup sampai, tetapi kasus yang parah dan kritis telah meningkat secara signifikan dalam tiga minggu terakhir, yang menjadi perhatian," kata kepala Kedaruratan Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tim di Wilayah Palestina, Dr Ayadil Saparbekov.

Pejabat kesehatan Gaza mengatakan, sekitar 70 persen tempat tidur unit perawatan intensif penuh, naik dari 37 persen pada akhir Maret. Ada 86 kematian selama enam hari terakhir, meningkat 43 persen selama seminggu sebelumnya.

Hasil tes positif harian Gaza mencapai setinggi 43 persen pekan ini. Meskipun Saparbekov mengatakan, jumlah itu bisa meningkat karena kurangnya tes, berarti tes tersebut sebagian besar diberikan kepada orang-orang yang sudah menunjukkan gejala.

Saparbekov juga mengatakan, Gaza tidak memiliki kapasitas untuk mengidentifikasi varian Covid-19 yang sangat menular saat pengujian. Kondisi ini menunjukkan keterbatasan data.

Pejabat kesehatan mengatakan faktor-faktor yang menyebabkan lonjakan saat ini termasuk pelanggaran pedoman untuk memakai masker dan menjaga jarak sosial. Terlebih lagi pembukaan perbatasan Gaza dengan Mesir pada Februari, yang mungkin memungkinkan adanya varian baru.

Kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini membuat Hamas akan memulai jam malam pada Kamis (22/4). Masjid yang menampung ratusan jamaah untuk shalat Ramadhan pun akan ditutup.

Kini ada sekitar 49 persen warga Gaza menganggur. Menjelang pemilihan parlemen yang dijadwalkan pada 22 Mei, Hamas menahan diri dari langkah-langkah drastis yang dapat semakin merusak ekonomi.

"Kami mungkin memberlakukan langkah-langkah tambahan, tetapi kami tidak berharap pada fase ini akan melakukan penguncian penuh," kata juru bicara Hamas, Eyad Al-Bozom.

Sumber : Reuters


×