Ibu hamil dengan bayi tabung (ilustrasi) | Freepik

Sehat

19 Apr 2021, 10:28 WIB

Harapan Baru dengan Bayi Tabung

Ada delapan tahapan penting yang perlu dilakukan dalam proses bayi tabung.

Sekitar 10-15 persen pasangan usia subur di Indonesia mengalami gangguan kesuburan (infertilitas). Kehadiran teknologi reproduksi berbantu dapat memberikan harapan bagi pasangan dengan gangguan kesuburan untuk memiliki keturunan.

Spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi dari RS Pondok Indah IVF Centre dr Aida Riyanti SpOG-KFER MRepSc mengatakan pasangan suami istri bisa dikatakan mengalami gangguan kesuburan bila memenuhi kriteria tertentu.

‘’Kriteria tersebut adalah sudah melakukan hubungan seksual secara benar dan rutin selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi, namun belum berhasil mendapatkan kehamilan. (Hubungan seksual yang rutin) yaitu sekitar dua sampai tiga kali seminggu," jelas dr Aida dalam konferensi pers pada Februari lalu.

Gangguan kesuburan bisa disebabkan oleh faktor istri, faktor suami, atau kombinasi dari keduanya. Masalah-masalah pemicu gangguan kesuburan dari faktor istri bisa berupa gangguan pematangan sel telur, sumbatan saluran telur, atau gangguan pada rahim dan indung telur.

Sedangkan dari faktor suami, masalah yang dapat memicu gangguan kesuburan adalah masalah sperma. Masalah sperma ini bisa berkaitan dengan jumlah, bentuk, gerakan, atau materi gentik dari sperma.

Penyebab tersering gangguan kesuburan adalah gangguan sperma (35 persen) dan sumbatan saluran telur sebesar (35 persen). Selain itu, penyebab gangguan kesuburan lain yang cukup sering adalah gangguan pematangan sel telur (15 persen). "Dan ada faktor yang tidak bisa dijelaskan sebesar 10-15 persen," ungkap dokter yang juga berpraktik di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya ini.

 

 

 

Ada faktor yang tidak bisa dijelaskan sebesar 10-15 persen.

dr Aida Riyanti SpOG-KFER MRepSc
 

 

 

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi dan reproduksi dari RS Pondok Indah IVF Centre dr Yassin Yanuar Mohammad SpOG-KFER MSc mengatakan terapi untuk gangguan kesuburan adalah terapi berjenjang. Lini pertama dalam terapi gangguan kesuburan adalah pemberian obat-obatan pemicu ovulasi dan mengatur hubungan seksual yang dilakukan pasangan suami dan istri.

Terapi pada lini kedua untuk gangguan kesuburan adalah inseminasi intrauterine. Terapi lini kedua ini bisa dilakukan setelah terapi lini pertama tidak membuahkan hasil. Terapi ini juga bisa dilakukan pada beberapa kasus yang menjadi indikasi.

Inseminasi intrauterine atau inseminasi buatan merupakan tindakan noninvasif untuk menempatkan sperma yang telah dipersiapkan langsung ke rongga rahim dengan menggunakan kateter khusus. Tindakan ini bertujuan untuk mendekatkan jarak tempuh perjalanan sperma menuju sel telur dengan saluran telur.

Lini ketiga dari terapi untuk gangguan kesuburan adalah in vitro fertilization (IVF) atau lebih dikenal sebagai bayi tabung. IVF merupakan sebuah teknologi reproduksi berbantu untuk mempertemukan sel telur matang dengan sperma yang telah dipersiapkan, sehingga terjadi pembuahan di luar tubuh manusia. Setelah itu, embrio yang terbentuk akan ditanamkan kembali ke rongga rahim calon ibu agar terjadi kehamilan dan berkembang seperti kehamilan pada umumnya.

Secara umum, ada delapan tahapan penting yang perlu dilakukan dalam proses bayi tabung. Tahap pertama biasanya dilakukan pada hari kedua haid. Pada tahap ini, akan dilakukan pemeriksaan USG dan bila diperlukan juga akan dilakukan pemeriksaan hormonal. "Untuk memastikan bahwa kondisi rahim dan kondisi indung telurnya siap untuk dirangsang dan distimulasi," jelas dokter yang juga berpraktik di RS Pondok Indah ini.

Tahap kedua juga dilakukan pada hari kedua haid. Pada tahap ini dilakukan penyuntikan obat hormonal yang disebut rFSH/hMG. Penyuntikan ini bertujuan untuk merangsang folikel yang mengandung sel telur agar menjadi matang.

Tahap ketiga adalah penyuntikan obat penekan hormon. Tahap ketiga dilakukan pada hari keenam haid. Penyuntikan ini bertujun untuk untuk menjaga agar sel telur tidak "pecah", sehingga nantinya bisa diambil untuk kemudian dibuahi.

Pada tahap keempat akan dilakukan ovum pick up atau petik oosit. Ini merupakan proses pengambilan sel telur dari calon ibu melalui cara yang minimal invasif. Pada proses ini, calon ibu akan dibius sehingga tidak merasa kesakitan. "Tindakannya hanya berlangsung selama lima sampai 10 menit, paling lama 15 menit," tutur dr Yassin.

Pada hari yang sama, pihak suami juga akan diminta untuk mengeluarkan sperma. Namun bila pihak suami memiliki masalah seperti azoospermia atau tidak ada sperma pada air mani, maka perlu dilakukan pembedahan untuk pengambilan sperma di hari tersebut.

Setelah mendapatkan sel telur dan sperma yang baik, proses bayi tabung akan berlanjut pada tahap kelima yaitu fertilisasi atau pembuahan di luar tubuh. Pembuahan ini dilakukan melalui prosedur bernama intracytoplasmic sperm injection (ICSI). Proses ini akan dikerjakan di laboratorium khusus oleh ahli embriologi yang berkompeten. "(Pada tahap ini) sperma disuntikkan ke dalam sel telur langsung," timpal dr Yassin.

Proses ini akan dilanjutkan dengan tahap keenam yaitu kultur embrio. Di tahap ini, perkembangan sperma dan sel telur yang sudah dipertemukan akan dipantau hingga terbentuk embrio.

Tahap ketujuh adalah transfer embrio. Pada tahap ini, embrio yang sudah siap akan ditanamkan kembali ke dalam rahim calon ibu. Embrio akan dimasukkan melalui selang ke bagian tengah rongga rahim calon ibu. "Selanjutnya (tahap kedelapan) kita akan menunggu hasil," tukas dr Yassin.

 

photo
Ibu hamil dengan bayi tabung (ilustrasi) - (Freepik)

Dukungan Teknologi Canggih

Tahap-tahap penting dalam proses bayi tabung tersebut tentu perlu ditunjang oleh teknologi yang memadai. Alasannya, keberhasilan bayi tabung ditentukan oleh kualitas embrio. Selanjutnya, kualitas embrio ditentukan oleh kualitas sperma dan sel telur.

"Teknologi bisa memilih mana sperma terbaik, sel telur terbaik, dan embrio terbaik," jelas dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi dan reproduksi dari RS Pondok Indah IVF Centre Prof Dr dr Budi Wiweko SpOG-KFER MPH.

Sebagian teknologi yang dapat membantu adalah ICSI dan intracytoplasmic morphologically selected sperm injection (IMSI). Teknologi ICSI dapat menghasilkan perbesaran gambar sperma 600 kali lipat, sedangkan IMSI dapat menghasilkan perbesaran gambar sperma hingga 6.000 kali lipat. Dengan gambar yang lebih jelas, sperma terbaik bisa dipilih sebelum kemudian disuntikkan ke sel telur.

Contoh teknologi lain yang dapat membantu meningkatkan keberhasilan bayi tabung adalah time lapse incubator. Dalam proses bayi tabung, inkubator diperlukan untuk menyimpan sel telur yang sudah dibuahi dengan sperma.

Kualitas inkubator akan sangat menentukan kualitas embrio yang berkembang. Idealnya, satu inkubator hanya digunakan oleh satu pasien. Inkubator juga tidak boleh terganggu stabilitas suhunya.

Time lapse incubator terdiri dari enam buah inkubator single. Tiap embrio yang disimpan akan memiliki "kamar" sendiri sehingga tidak akan terganggu ketika ahli embriologi sedang memeriksa embrio pasien lain.

Kelebihan lainnya, time lapse incubator memungkinkan ahli embriologi untuk melakukan pemantauan perkembangan embrio detik demi detik. Teknologi ini sangat penting untuk membuat penilaian mengenai mana embrio yang memiliki perkembangan terbaik.

"Melalui teknologi kita bisa melihat perilaku embrio yang pembelahannya lambat, normal, atau terlalu cepat. Kalau terlalu cepat atau lambat, embrio tersebut kemungkinan besar akan memiliki kelainan kromosom, kelainan kromosom bisa sebabkan kegagalan kehamilan," jelas Prof Budi.

Contoh teknologi lain yang tak kalah penting dalam menunjang keberhasilan bayi tabung adalah Pre-implantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A). Pada teknologi ini, ahli embriologi akan melakukan biopsi pada embrio yang sudah memasuki fase blastokista.

Dari pemeriksaan ini, ahli embriologi dapat melihat apakah suatu embrio memiliki kromosom yang normal atau tidak. Embrio dengan kromosom yang tidak normal perlu dihindari untuk ditanam karena kemungkinan tidak akan berlanjut menjadi kehamilan atau janin akan mengalami kelainan. "Ini membantu tingkatkan angka kehamilan bayi tabung," tutur Prof Budi.


×