Akses informasi dan perawatan terhadap anak autisme saat ini boleh jadi berkat andil besar Ismunawaroh. | DOK Pribadi
18 Apr 2021, 03:41 WIB

Ismunawaroh, Dampingi Anak Autis Dhuafa

Akses informasi dan perawatan terhadap anak autisme saat ini boleh jadi berkat andil besar Ismunawaroh.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Bagi Ismunawaroh (40 tahun), hidup adalah lahan dakwah yang dapat dilalui dengan beragam cara. Dakwah bisa dilakukan lewat berkontribusi bagi kemaslahatan orang banyak. Muslimah yang akrab disapa Isti ini mengingat bagaimana dia bersama beberapa orang temannya pada 2000-an silam diinggapi gelisah.

Rasa itu muncul saat Isti dan kawannya menjalani profesi sebagai terapis anak-anak berkebutuhan khusus. Saat itu, akses informasi serta sarana pendampingan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus seperti autisme belum dapat diakses masyarakat luas.

Mayoritas anak yang diterapi berasal dari kalangan keluarga kelas menengah ke atas. Padahal, kata dia, tak sedikit anak-anak autisme yang berasal dari kalangan keluarga menengah ke bawah.

Terkait

“Ada yang anak satpam, anak pedagang, jadi beragam sekali kelas sosial mereka. Sehingga saya gelisah ketika itu, bagaimana bisa memberikan perawatan kepada mereka sementara saya sendiri saat itu adalah anak rantau yang masih ngekos,” kata Isti saat dihubungi Republika, Rabu (14/4).

Setelah hampir satu tahun mengalami pergulatan batin, Isti bersama kawan-kawannya akhirnya memantapkan diri untuk membentuk sebuah komunitas yang menaungi anak-anak autisme bagi kalangan dhuafa. Keyakinannya itu boleh dikatakan nekat.

Namun, Isti merasa apabila ada niat baik yang harus diperjuangkan, kelak Allah SWT akan memberikan jalan terbaik.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Rumah Autis (rumahautis)

Bak gayung bersambut, sejumlah orang yang memiliki niat serupa pun seolah didatangkan kepadanya. Mereka lantas berkolaborasi mendirikan Rumah Autis pada November 2004 silam.

Pada awal berdiri, Rumah Autis hanya menyewa sebuah rumah sederhana yang ditinggali Isti sekaligus sebagai kosan pribadinya. “Dua ruangan dipakai untuk tempat terapi, sederhana sekali. Di tahun-tahun pertama itu tantangannya luar biasa sekali, nangis lah istilahnya kami,” kata dia.

Meski dengan segala keterbatasan, Isti percaya sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Untuk membiayai perawatan gratis dan terjangkau Rumah Autis bagi kaum dhuafa, Isti pun mengambil sejumlah pekerjaan. 

Lambat laun, kegigihan dan ketekunan Isti membuahkan dukungan. Dia mengenang, ada seorang donatur dari kalangan menengah atas yang merasa ikut terpanggil lantaran anaknya juga mengalami autisme.

“Alhamdulillah 1-2 bulan berjalan itu ada orang tua anak autis dari kalangan atas cukup respek dengan apa yang kami kerjakan. Beliau memberikan alat terapi bekas anaknya secara cuma-cuma, ini sangat membantu,” kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Rumah Autis (rumahautis)

Membuka mata

Akses informasi dan perawatan terhadap anak-anak autisme saat ini boleh jadi berkat andil besar Isti. Pada 2004 silam, belum banyak orang yang menyuarakan pentingnya pendidikan kepada anak-anak autisme. Isti bersama Rumah Autis justru menggebu-gebu memberikan pendidikan bagi mereka.

Dalam perjalanannya membimbing anak-anak autisme, hal paling berat adalah proses penerimaan dari orang tua. Jika orang tua belum menerima kondisi anaknya, perawatan autisme akan menjadi sulit.

Di sisi lain, Isti mengingatkan, hadirnya anak-anak autisme justru memberikan pelajaran berarti bagi dia. Kesabaran, kegigihan, dan juga perhatian yang ia pahami banyak ia dapatkan pelajaran itu dari anak-anak autisme. “Mereka (anak-anak autisme) itu spesial, istimewa sekali. Mereka mengajarkan banyak hal untuk saya, ada banyak hikmah dari mereka,” kata Isti.

 
Mereka mengajarkan banyak hal untuk saya, ada banyak hikmah dari mereka.
 
 

Isti menjelaskan, Rumah Autis diibaratkan sebagi cinta yang tumbuh kuat untuk insan berkemampuan khusus di Indonesia. Hingga 2021, Rumah Autis telah berdiri sebanyak tujuh cabang di daerah-daerah di Tanah Air. “Kami ingin  rumah ini  dipenuhi cinta dan harapan,” kata dia.

 

Profil

Nama lengkap: Ismunawaroh

Tempat, tanggal, lahir: Purworejo, 30 Maret 1980

Riwayat aktivitas: Terapis/Pengajar Anak Berkebutuhan Khusus (2002-2004), Salah Satu dari 4 pendiri Rumah Autis Cagar Foundation 2004 (Lembaga Nirlaba untuk Pusat Terapi, Sekolah Khusus, BLK untuk IBK Dhuafa), Direktur Rumah Autis, Kepala Pusat Pelatihan Pendamping dan Pengajar Anak Berkemampuan Khusus (P3ABK) Rumah Autis Institute, dan lainnya.

Prestasi: Penghargaan untuk Dedikasi Rumah Autis

She Can Tupperware 2013, LSPR Autism Activist 2013, Casa Herbalife Rumah Autis Bekasi 2014 – Sekarang, Kemenkes 2016 LSM Sosial yang Aktif dalam memperjuangkan Kesehatan Jiwa, Salah satu dari 10 Lembaga Sosial terbaik dalam pelayanan Masyarakat (Jawa barat).


×