Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka pada hari pertama di SD Negeri Kenari 08 Pagi, Jakarta, Rabu (7/4). Pemprov DKI Jakarta melakukan uji coba pembelajaran tatap muka terbatas di 85 sekola dari jenjang SD hingga SMA mulai tanggal 7 April hing | Republika/Thoudy Badai
08 Apr 2021, 03:45 WIB

Sukacita Siswa Kembali ke Sekolah

Kuliah tatap muka harus memperhatikan dua hal, yakni bersyarat dan bertahap.

OLEH FEBRYAN A, FLORI SIDEBANG

Setelah delapan bulan menjadi siswa SMKN 15 Jakarta Selatan, Yuliana (15 tahun), akhirnya bisa merasakan belajar secara langsung di sekolahnya. Bersama teman-teman barunya, Yuliana mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) yang digelar di 85 sekolah di Jakarta selama dua pekan mulai Rabu (7/4). 

Yuliana tampak duduk dengan tenang di bangku paling belakang. Ia dan 13 siswa lainnya sedang belajar korespondensi. Mereka merupakan siswa kelas X jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP) SMKN 15.

Mereka duduk berjarak satu sama lain. Setiap siswa juga menggunakan masker. PTM yang baru pertama kalinya digelar sejak pandemi Covid-19 melanda dilangsungkan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Terkait

Meski ada rasa cemas bakal tertular Covid-19, Yuliana mengaku senang bisa belajar langsung di sekolah yang berlokasi di Kebayoran Baru itu. Baginya, materi pelajaran lebih mudah dimengerti saat belajar tatap muka dengan guru.

"Selama satu tahun terakhir enggak enak belajar online. Enggak ngerti pelajarannya. Makanya aku udah nunggu-nunggu banget belajar di sekolah ini," kata Yuliana saat berbincang dengan Republika, kemarin.

photo
Siswa SMKN 15 Jakarta Selatan sedang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) hari pertama di sekolah, Rabu (7/4). - (Republika/Febryan. A)

Siswa lainnya, M Prayogi, yang duduk di bangku paling depan, juga mengaku senang belajar langsung di sekolah. Selain lebih mengerti pelajaran yang diajarkan guru, ini juga kali pertamanya Prayogi bertemu teman-teman sekelasnya.

Sejak masuk SMKN 15 pada Agustus 2020, ia bersama teman-temannya selalu belajar secara daring di rumah. Mereka hanya saling mengenal lewat aplikasi perpesanan.

"Bahagia sih ketemu teman-teman sekelas untuk pertama kalinya. Belajarnya juga jadi ngerti. Kalau online kan kurang," kata Prayogi yang seperti siswa lainnya mengenakan baju seragam pramuka.

Meski senang, ada juga rasa canggung. Salah satunya dirasakan Medina. "Aku senang mulai sekolah langsung. Tapi, rasanya canggung juga karena baru pertama kali ketemu teman-teman sekelas," kata gadis berambut ikal itu.

Kepala Sekolah SMKN 15 Prihatin Gendra Priyadi mengatakan, PTM diikuti 114 siswa. Mereka terdiri atas siswa kelas X dan kelas XII. Setiap kelas, kata dia, maksimal diisi 18 siswa.

Untuk kelas XII, pada Rabu (7/4) kemarin, ruangan kelas hanya diisi 10 siswa karena sedang mengikuti ujian. Sedangkan kelas X diisi 12-18 siswa. Durasi belajar hanya empat jam.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dinas Pendidikan DKI Jakarta (disdikdki)

Menurut Prihatin, para siswa kelas X memang cenderung "malu-malu" pada hari pertama sekolah tatap muka ini. Ini adalah kali pertamanya mereka bertemu teman sekelas. "Jadi, ini kesempatan mereka untuk saling kenal," kata Prihatin kepada wartawan. 

Di sekolah lainnya, yaitu SMKN 2 Jakarta, para siswa tampak antusias mengikuti PTM. PTM juga diikuti siswa yang berdomisili di luar Jakarta. Di hari pertama kembali ke sekolah, dua orang siswa SMKN 2 Jakarta diketahui sempat nyasar saat hendak menuju ke sekolah. "Tadi ada dua siswa yang sempat nyasar ke sini (SMKN 2)," kata seorang guru SMKN 2 Jakarta, Sri Murni. 

Sri menjelaskan, dua siswa tersebut berdomisili di luar wilayah Jakarta dan menggunakan KRL sebagai transportasi utama untuk menuju ke sekolah. Namun, kedua siswa itu justru salah turun stasiun. "Mereka ini malah turun di stasiun yang jauh dari SMKN 2. Maklum saja, sudah satu tahun murid-murid tidak mengikuti pembelajaran di sekolah,” katanya 

Sementara itu, seorang siswi kelas 12 SMKN 2 Jakarta bernama Farah mengaku senang bisa kembali belajar di sekolah. "Senang banget karena kami sudah bosan setahun belajar dari rumah," tutur dia. 

Penerapan prokes 

Uji coba sekolah tatap muka juga dilakukan di SDN Palmerah 03 Pagi, Jakarta Barat. Para peserta didik yang mengikuti pembelajaran tatap muka hari pertama merupakan siswa kelas 5. 

Berdasarkan pantauan Republika di lokasi, jalan menuju gedung sekolah terbagi menjadi dua dengan diberi pembatas tali. Sehingga mobilitas orang yang hendak masuk dan keluar sekolah terpisah. 

Kemudian, saat tiba di gerbang sekolah, guru terlebih dahulu mengecek suhu tubuh siswa dan tenaga pendidik lainnya dengan menggunakan thermo gun. Setelah itu, mereka diarahkan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir di dekat pintu gerbang. 

Tempat cuci tangan tersebut dioperasikan dengan menginjak dua pedal yang terdapat di bawah wastafel. Pihak sekolah pun membedakan akses tangga yang bakal digunakan para siswa dan guru sehingga tangga yang digunakan untuk naik menuju dan turun dari ruang kelas berbeda. Setiap anak tangga pun telah diberi tanda panah naik maupun turun.

Setiap ruang kelas hanya diisi 50 persen dari kapasitas sebenarnya. Saat uji coba hari pertama, terdapat dua ruang kelas yang digunakan. Masing-masing kelas diisi sebanyak 11 dan 10 siswa. 

photo
Petugas mengukur suhu tubuh siswa SMP sebelum ujian Asesmen Nasional (AN) di SMPN 2 Yogyakarta, Rabu (7/4). Sebanyak 240 siswa mengikuti Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional. Waktu ujian dibagi ke dalam dua sesi dan dijalankan dengan protokol kesehatan Covid-19 ketat. Ada 16 sekolah menengah pertama negeri di Yogyakarta yang menggelar AN dengan tatap muka. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Kepala Sekolah SDN Palmerah 03 Pagi Elly Herawati mengatakan, selain menyiapkan sarana dan prasarana, pihaknya juga telah melakukan pertemuan dengan para orang tua murid. Menurut dia, ada orang tua yang setuju dan tidak dengan pelaksanaan uji coba tersebut. 

Dia mengungkapkan, sebagian besar orang tua murid kelas 5 dan 6 setuju dan mendukung uji coba tersebut. Namun, kata dia, orang tua murid kelas 4 justru banyak yang menolak dengan alasan takut penyebaran Covid-19.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ariza Patria | Tiga M (arizapatria)

Kemarin, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria meninjau pelaksanaan uji coba PTM di SMKN 2 Jakarta. Ariza pun sempat memasuki ruang kelas untuk menyaksikan langsung kegiatan belajar mengajar.

Dalam kesempatan tersebut, Ariza sempat melontarkan pertanyaan kepada para siswa. "Lebih suka belajar dari rumah atau sekolah?" tanya Ariza. "Di sekolah," jawab siswa dengan semangat. 

Ariza lalu melontarkan pertanyaan perihal transportasi yang digunakan para siswa untuk kembali mengikuti pelajaran di sekolah. Jawaban yang dilontarkan para siswa pun beragam. Ada yang mengaku menggunakan transportasi umum, yakni KRL dan bus Transjakarta. 

 
photo
Siswa SMP menunggu jadwal ujian Asesmen Nasional (AN) di SMPN 2 Yogyakarta, Rabu (7/4). Sebanyak 240 siswa mengikuti Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional. Waktu ujian dibagi ke dalam dua sesi dan dijalankan dengan protokol kesehatan Covid-19 ketat. Ada 16 sekolah menengah pertama negeri di Yogyakarta yang menggelar AN dengan tatap muka. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Politikus Partai Gerindra itu kemudian mengingatkan para siswa untuk menaati protokol kesehatan selama berada di transportasi umum.  "Tetap menjaga jarak ya di transportasi umum," ujarnya. 

DKI bukan satu-satunya daerah yang mulai menggelar uji coba PTM. Di Solo, Jawa Tengah, uji coba PTM bahkan sudah digelar untuk jenjang pendidikan tinggi. Salah satu kampus yang mulai menjajal PTM pada Rabu (7/4) adalah Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. 

Pada tahap pertama, ada tiga fakultas yang melakukan uji coba kuliah tatap muka, yakni Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Keolahragaan (FKOR). Uji coba tersebut hanya melibatkan mahasiswa semester II lantaran belum pernah masuk kampus sejak diterima di UNS.

Rektor UNS Jamal Wiwoho mengatakan, kuliah tatap muka harus memperhatikan dua hal, yakni bersyarat dan bertahap. Bersyarat maksudnya, dijalankan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.  Sedangkan bertahap, artinya pelaksanaan perkuaiahan tatap muka tidak langsung melibatkan semua mahasiswa dari semester awal sampai semester akhir. 

"Kami coba dulu berapa hari, nanti akan kami evaluasi lagi. Karena ya jangan sampai terjadi sebuah klaster tentang pembukaan kampus," terang Jamal.

Awasi PTM Secara Ketat

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mendorong agar sekolah yang melanggar protokol kesehatan saat pembelajaran tatap muka (PTM) ditindak tegas. Mestinya, tidak ada toleransi sedikit pun terhadap pelanggaran karena menyangkut keamanan dan kesehatan siswa dan guru.

"Tidak ada toleransi sedikit pun atas pelanggaran. Sebab, sekolah dan guru adalah entitas edukatif yang berfungsi mendidik dan menjadi teladan publik," kata Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, Rabu (7/4).

P2G meminta dinas pendidikan memaksimalkan peran Satgas Khusus PTM Sekolah serta pengawas untuk melakukan inspeksi mendadak PTM. Evaluasi kedisiplinan warga sekolah dalam menerapkan protokol kesehatan harus selalu dilakukan.

Sidak, menurut Satriwan, mesti dilakukan setiap hari demi memastikan semua sekolah terawasi dengan baik. Pelanggaran terhadap 3M (menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker) dan prokes di sekolah maupun luar sekolah harus betul-betul tidak ditoleransi.

"P2G menilai selama ini tidak ada sanksi tegas dari pemerintah daerah atau Satgas Covid-19 Daerah ketika sekolah melakukan pelanggaran prokes," kata dia.

photo
Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka pada hari pertama di SD Negeri Kenari 08 Pagi, Jakarta, Rabu (7/4). Pemprov DKI Jakarta melakukan uji coba pembelajaran tatap muka terbatas di 85 sekola dari jenjang SD hingga SMA mulai tanggal 7 April hingga 29 April 2021 dengan kapasitas ruangan maksimum 50 persen dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. - (Republika/Thoudy Badai)

Kabid Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri mengatakan, P2G sudah melakukan evaluasi terhadap 16 provinsi yang mulai melakukan PTM. Dari hasil evaluasi itu, masih ada sekolah yang melanggar prokes.

"Contoh kasus yang banyak terjadi, guru dan siswa tidak memakai masker. Adapun jika memakai masker, tetapi tidak sesuai prokes karena hanya dipakai di dagu saja," kata Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri, Rabu (7/4).

Pelanggaran lainnya, yaitu tidak menjaga jarak. Iman mengatakan, guru menilai hal ini karena faktor anak-anak lama tidak berjumpa akhirnya lupa untuk menjaga jarak.

Saat ini, beberapa daerah sudah melakukan PTM, antara lain, adalah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana mengatakan, jika saat masa uji coba PTM terdapat kasus positif Covid-19, maka gedung sekolah terkait akan ditutup sementara. "Satuan pendidikan dibuka kembali, setelah pihak berwenang menyatakan sekolah dalam kondisi aman dari paparan Covid-19," jelas Nahdiana.

Nahdiana menyampaikan, pemantauan dan evaluasi akan dilakukan secara rutin oleh pengawas sekolah, unsur Suku Dinas Kesehatan, Satgas Covid-19 tingkat kelurahan dan kecamatan serta dinas pendidikan. Pengawasan itu meliputi aspek pelaksanaan prokes dan pembelajaran sesuai aturan.

Salah satu aturan yang harus ditaati adalah pembatasan durasi jam belajar siswa di sekolah. "Durasi belajar yang terbatas antara 3-4 jam dalam satu hari," ujarnya.  


×