Generasi Z melek finansial (ilustrasi) | Freepik
30 Mar 2021, 09:38 WIB

Generasi Z Jago Keuangan, Mengapa Tidak?

Kemudahan akses informasi menjadi syarat utama untuk tahu dunia keuangan.

Aufar Putra (22 tahun) sibuk berselancar di dunia maya. Kali ini bukan market place yang menjadi sasarannya. Dia memilih untuk mencari berbagai informasi tentang cara investasi secara daring dan berbagai aplikasi pendukungnya.

Setelah lama mencari, dia akhirnya menemukan aplikasi yang tepat. "Sepertinya ini cocok untuk investasi reksadana awalku," ujarnya saat dihubungi pekan lalu.

Mahasiswa jurusan manajemen semester akhir ini mengaku ingin lebih cermat mengelola penghasilan yang diperolehnya dari berbagai ajang yang sempat diikuti. Dia tidak ingin hasil keringatnya itu terbuang percuma hanya untuk membeli banyak produk idaman. ‘’Pokoknya harus ada yang diinvestasikan,’’ kata dia. 

Langkah serupa malah sudah lebih dulu dilakukan oleh Putri Ashri, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Depok, Jawa Barat. Dia sempat menginvestasikan uang hasil usahanya di sebuah lembaga keuangan daring. Uniknya, dia juga sempat menghentikan investasinya itu karena dinilai imbal hasilnya kurang memuaskan. ‘’Lambat banget geraknya,’’ kata perempuan berusia 20 tahun itu.

Terkait

Akhirnya dia pun memutuskan untuk memindahkan investasinya ke instrumen keuangan lain yang dinilai lebih agresif dan tinggi imbal hasilnya. Di sisi lain, Putri juga makin gencar mempromosikan usaha hijab yang dikelolanya dalam beberapa tahun terakhir. Bermodal promosi di media sosial, dia sudah merasakan keuntungan yang lumayan. ‘’Jadi, bisa beli macam-macam barang kebutuhan sendiri, bebas belanja,’’ ujarnya sambil tersenyum lebar.

photo
Generasi Z melek finansial (ilustrasi) - (Pixabay)

Generasi Z atau kerap disebut sebagai Gen Z seperti Aufar dan Putri boleh dibilang akrab dengan dunia maya sehingga tidak aneh bila muncul istilah iGeneration, generasi net atau generasi internet untuk mereka. Sejak kecil, mereka akrab dengan beragam gawai canggih yang lekat dengan kesehariannya. Segala informasi yang dibutuhkan pun lebih banyak diperoleh dari dunia maya dan hasil berselancar di sana dibandingkan dengan media konvensional.

Maka, Gen Z pun cenderung lebih cepat memperoleh berbagai informasi termasuk dalam urusan keuangan. Bila dibandingkan generasi sebelumnya, Gen Z boleh dikatakan lebih melek keuangan. ‘’Orang tua saya malah belum paham urusan investasi, saham, reksadana dan sebagainya ketika seumuran saya,’’ kata Putri.

Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie menyarankan bahwa memulai investasi harus sudah dilakukan sejak dini karena memiliki banyak keuntungan. Menurut dia, memulai investasi sejak dini sangat penting dilakukan terutama saat usia 20 tahunan untuk aset di masa depan.

"Investasi itu enggak pernah ada ruginya. Kalau enggak dipakai sekarang atau mungkin dipakai untuk hal lain. Misalnya tadi cita-cita mau apa, tapi akhirnya beralih untuk hal lain. Jadi aset yang terkumpul di masa depan," kata dia.

Dalam memilih produk investasi, menurut Prita, bisa dilakukan dengan beragam pilihan seperti melalui reksadana pasar uang dan emas. Namun, dia juga mengingatkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sebelum memilih produk investasi yang akan digunakan.

 

 
 Memulai investasi sejak dini sangat penting dilakukan terutama saat usia 20 tahunan untuk aset di masa depan.
Prita Hapsari Ghozie 
 

 

 

Lakukan Sesuai Kemampuan

Generasi Z yang masih kuliah saat ini tentu akan memasuki dunia kerja dalam beberapa tahun mendatang. Untuk itu ekonom dan peneliti Institute of Economic and Development (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara membagikan kiat bagi mereka yang siap masuk ke dunia kerja agar dapat mengelola keuangan lebih baik. Apa sajakah itu?

1. Buat daftar atau prioritas dalam pembelian barang

Dia menyarankan agar tahu batasan dalam transaksi sesuai dengan kemampuan.

2. Utamakan membeli barang yang menunjang produktivitas kerja

Menurut Bhima, salah satu barang yang menunjang produktivitas kerja adalah laptop. Melalui laptop, pengguna bisa mengembangkan kreativitas dan inovasi seperti melakukan hobi tersendiri, dan tak menutup ide-ide baru. Bahkan, bisa saja pengguna mengembangkan hobi dan ide tersebut sebagai sebuah usaha kecil-kecilan hingga perusahaan rintisan (start-up).

3. Tidak takut berinvestasi

Syaratnya, sudah memahami informasi produk sekaligus risikonya.

4. Sisihkan uang pemasukan untuk ditabung

5. Siapkan dana juga untuk digunakan memulai usaha

6. Memahami nilai tambah dan jangka panjang dari pengeluaran atau transaksi yang dilakukan

7. Mulai membuat perencanaan keuangan jangka panjang

"Kalau bisa, sekarang ini harus mulai bikin perencanaan keuangan sampai tahun 2022. Selain karena pandemi yang masih belum jelas kapan selesainya, ada juga situasi ke depan termasuk perang dagang, politik global, harga komoditas yang juga tak bisa diprediksi. Istilahnya, ini prepare for the worst. Buat pos-pos dana, dan paham apa yang mau dibeli dan tidak, serta harus sesuai kebutuhan," ujarnya melanjutkan.

 


×