Ilustrasi Masjid Sheikh Zayed. Duplikat masjid ini akan dibangun di Solo Jawa Tengah. | EPA
08 Mar 2021, 08:42 WIB

Duplikat Masjid Sheikh Zayed Mulai Dibangun

Peletakan batu pertama duplikat Masjid Sheikh Zayed dilaksanakan perwakilan dari masing-masing negara.

SOLO — Pembangunan replika Masjid Raya Sheikh Zayed (The Sheikh Zayed Grand Mosque) di Indonesia mulai dilaksanakan pada Sabtu (6/3). Tempat ibadah kaum Muslimin itu dirancang semirip mungkin dengan Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Nama masjid terbesar di seluruh UEA itu diambil dari sang bapak bangsa negara tersebut, Syekh Zayed bin Sultan al-Nahyan. Peletakan batu pertama (ground breaking) duplikat Masjid Sheikh Zayed dilaksanakan perwakilan dari masing-masing negara.

UEA direpresentasikan antara lain oleh Menteri Energi dan Infrastruktur UEA Suhail Mohammed Al Mazroui serta Kepala Otoritas Umum Urusan Islam dan Wakaf Muhammed Matar Al Kaabi. Sementara, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mewakili Pemerintah Indonesia. Turut hadir dalam acara ini ialah Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.

Replika Masjid Raya Sheikh Zayed dibangun di atas lahan seluas 2,9 hektare di daerah Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah. Lokasi lahan tersebut dahulunya merupakan depo Pertamina. Pembangunan masjid ini merupakan hibah dari Putra Mahkota UEA Mohammed bin Zayed al-Nahyan kepada Presiden Joko Widodo.

Terkait

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Erick Thohir (erickthohir)

Anggaran pendirian rumah ibadah ini diperkirakan menelan dana hingga 20 juta dolar AS atau setara Rp 300 miliar. Seluruhnya berasal dari Pemerintah UEA.

Suhail Mohammed Al Mazroui mengucapkan selamat kepada bangsa Indonesia atas dimulainya pembangunan Masjid Sheikh Zayed “kedua” ini. Pendirian masjid tersebut merupakan simbol persahabatan antarkedua negara, khususnya dalam bidang keislaman.

Ia berharap, masjid yang dibangun di Solo ini dapat mencerminkan ketinggian seni arsitektur Islam. Dengan demikian, bangunan tersebut berpotensi menjadi destinasi wisata religi yang menarik banyak pengunjung.

“Kami berusaha agar masjid ini mendekati sama persis dengan masjid yang ada di Abu Dhabi. Masjid itu merupakan simbol dari arsitektur yang begitu istimewa. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga menjadi destinasi wisata,” kata Menteri Suhail di acara tersebut.

Menurut dia, para pemimpin dan rakyat UEA sangat menghormati Indonesia. Ia mengaku optimistis dengan Presiden Joko Widodo sebagai pemimpin negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Suhail mengungkapkan, ada jalan dan masjid yang sengaja dinamakan Joko Widodo di UEA sebagai penghormatan kepada pemimpin RI.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Solo dan para menteri yang telah membantu memudahkan proses pembangunan masjid ini. Dan, kita berdoa semoga diberikan kemudahan dalam segala sesuatu,” katanya.

Menag Yaqut Cholil Qoumas mengharapkan, pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayid di Solo berjalan lancar. Dengan demikian, tempat ibadah ini dapat membawa maslahat besar bagi seluruh masyarakat Solo, Jawa Tengah, dan Indonesia pada umumnya. Ia pun memuji UEA sebagai negara di Timur Tengah yang terkenal merawat dan menerapkan prinsip-prinsip toleransi.

“Masjid ini akan menjadi salah satu mercusuar syiar Islam di nusantara dan simbol moderasi umat beragama. Masjid ini merupakan monumen persahabatan kedua negara. Kita akan bersama-sama mengembangkan toleransi, moderasi dalam beragama,” kata Menag.


×