Memulai bisnis baru (ilustrasi) | Freepik

Perencanaan

08 Mar 2021, 09:54 WIB

Mau Investasi atau Bisnis?

Pandemi menjadi momen tepat untuk memulai bisnis .

Rian Ekky Pradipta boleh jadi lebih dikenal sebagai vokalis band D’Masiv. Akan tetapi, belakangan dia tak hanya dikenal sebagai musisi, namun juga sebagai pengusaha muda yang menggeluti sejumlah jenis bisnis, mulai dari hobinya di bidang olahraga hingga musik. Ia bahkan akan merambah investasi ke sektor properti.

Bahkan meski pandemi Covid 19 mengguncang bisnis musik karena pembatalan berbagai konser, ia justru bisa mengelola ladang investasi dan bisnisnya dengan lebih optimal.

Rian mengaku saat ini tengah menjalankan beberapa unit bisnis, seperti restoran, bisnis pakaian, studio musik, hingga manajemen bagi para content creator dengan jumlah total karyawan mencapai 30 orang.

Dia tidak sembarang dalam memilih jenis bisnis. Ia memilih jenis usaha atau investasi yang mendorong atau setidaknya membantu  kariernya di industri musik. Salah satu ide bisnis yang dianggap sebagai buah kejelian dalam melihat peluang adalah kafe dan clothing line yang sejalan dengan bisnis musik.

"Kenapa bikin studio musik, karena kita rekaman dan enggak perlu modal lagi. Terus kalau resto sebenarnya memanfaatkan saja. Kalau orang rekaman kan duduk dulu, ngopi dulu, jadi sebenarnya kita usaha yang dibutuhkan orang saja kayak sandang, pangan," ujarnya.

Dalam menjalankan bisnis dan investasi, pelantun "Jangan Menyerah" itu mengaku banyak belajar dari pengalaman rekan-rekannya yang lebih dulu terjun ke dunia tersebut.

Sedangkan untuk mengelola dan membagi waktu antara kesibukan bermusik dan bisnis, Rian juga sudah memiliki tim yang dipercaya mengontrol unit-unit investasinya.

Dari beberapa bidang yang dijalaninya itu, Rian mendapatkan hasil yang menguntungkan. Meski tidak menyebutkan nominal, namun dia tak menampik bahwa penghasilan dari menanamkan modal untuk usaha sudah cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga di masa pandemi.  "Ketolong sih. Untungnya aku sudah bangun ini dari tiga sampai empat tahun lalu. Jadi pas lagi kondisi begini ngebantu lah masih ada pemasukan," ujar Rian.

Hal serupa juga dilakukan Haykal Kamil yang menjalani hal baru di luar industri hiburan dalam beberapa tahun belakangan.

Adik Zaskia Adya Mecca itu telah berinvestasi di berbagai bidang usaha, misalnya gaya hidup halal mencakup bisnis busana muslim, produk kecantikan, dan creative agency yang memproduksi konten ramah muslim dan keluarga.

"Saya lebih senang memanggil diri saya creativepreneur karena buat saya kalau kita masuk ke capital market atau kita beli obligasi itu modal kita satu, yaitu berupa uang. Sedangkan saya berpendapat modal utama manusia adalah kreativitasnya. Bagaimana cara dia untuk bisa bertahan," kata Haykal Kamil.

Haykal mengatakan hal baru yang dijalaninya itu dikelola oleh orang-orang dekatnya, yakni keluarga. Meski demikian, dalam prakteknya Haykal juga menemukan bermacam tantangan dan kesulitan saat menjalankan bisnis.

Menurut dia, hal yang paling penting dalam sebuah pengelolaan bisnis adalah mencari orang yang tepat untuk mengerjakan sesuai dengan kebutuhan usaha yang dijalani. "Jadi memang harus kita bangun trust. Siapa, mengerjakan apa," ujarnya.

Sejak memulai pada 2015, investasi bisnis Haykal mampu memperkerjakan sekitar 50 orang karyawan dengan pemasukan yang dia sebut "lumayan".

Kendati demikian, dia tak menampik bahwa pandemi Covid 19 membawa dampak besar bagi bisnis yang dijalaninya. Haykal kehilangan 80 persen pemasukan dari bisnis pakaian yang digeluti akibat rekanan dari sejumlah department store membatalkan pesanan untuk produknya.

Hal itu tidak membuatnya patah semangat, sejumlah adaptasi baru pun dilakukannya agar bisnis yang dijalankan tetap dapat bertahan saat masa sulit pandemi seperti sekarang ini.

Ia kemudian mencoba mempromosikan produknya melalui wahana media daring yang selama ini ia rasa kurang digarap dengan maksimal. Hasilnya pun mulai dapat dirasakan. Penjualan produk dapat kembali berangsur membaik dibandingkan sebelumnya.

"Akhirnya saya bilang untuk fokus apa yang dilakukan sekarang, jangan mengeluh. Bersyukur kita pusing karena punya kerjaan, banyak orang lain pusing karena cari kerjaan," tuturnya.

Haykal menambahkan bahwa di masa pandemi ini target utamanya adalah bukan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dari bisnis yang dijalankan. Namun lebih dari itu, dia menargetkan agar bisnisnya itu membawa dampak positif bagi masyarakat terutama mereka yang terdampak akibat pandemi.

"Jadi keuntungannya beragam bahkan ada beberapa produk yang kita konsepnya yang penting bisa muter. Saya kasih target ke anak marketing saya yang penting margin bisa lima persen. Saya bilang kecil aja yang penting perputarannya, karena dengan begitu kan akhirnya makin banyak tenaga kerja terserap dan orang semakin terbantu," imbuhnya.

Agus Bakti termasuk milenial yang terpaksa banting setir menjadi wirausaha karena terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Selama hampir dua tahun terakhir, ia bekerja di sebuah pabrik otomotif di kawasan industri Cikampek.

Setelah diberhentikan dari pabrik, Bakti yang kini berusia 25 tahun itu memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Garut dan memulai bisnis  sendiri dengan modal dari hasil kerjanya. Ia memilih membuka bengkel kecil bersama saudaranya di kampung. "Saya memang senang ngoprek motor, ya perbengkelan lah. Jadi yang ada dipikiran saat di PHK ya bikin bengkel sendiri di kampung," kata Bakti kepada Republika.

Modal awal yang Bakti dan saudaranya pakai untuk membangun bengkel kurang lebih Rp 10 juta. Menurut Bakti modal itu sudah sangat cukup untuk membuka bengkel yang proper, sebab ia tidak perlu menyewa tempat. "Ya di rumah saudara itu. Kebetulan rumahnya cukup strategis, jadi nggak perlu sewa tempat, tinggal beli produk atau alat saja," jelas dia.

Sejauh ini, bengkel yang dibuka oleh Bakti dan saudaranya hanya melayani service motor ringan. Namun menurutnya, bengkel itu cukup menjawab kebutuhan masyarakat setempat. Karenanya omzet yang dia dapat juga sudah cukup dan berkelanjutan.

 

 

photo
Memulai bisnis baru (ilustrasi) - (Freepik)

 

Kenali Kemampuan dan Kebutuhan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan ajakan berinvestasi yang menawarkan keuntungan besar dalam waktu singkat atau menggunakan influencer dan figur publik.

OJK juga mengingatkan bahwa investasi ilegal itu juga terkadang memuat pernyataan-pernyataan dari tokoh publik tersebut sehingga seolah-olah ia memperkenalkan produk investasi yang ternyata "bodong". "Hati-hati, kalau mau bertanya legal atau ilegal tanyakan dulu ke OJK,” kata Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Tirta Segara.

Untuk berinvestasi secara aman, lanjut dia, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, di antaranya mengenali kebutuhan dan kemampuan. Selain itu dia mengimbau untuk mengenali produk dan lembaga jasa keuangan yang menawarkan atau mengajak berinvestasi.

Langkah aman lain yakni dengan mengenali manfaat dan risiko, tidak hanya dilihat keuntungan semata karena semua produk investasi memiliki tingkat risiko dari kecil hingga besar. “Untuk jangka panjang misalnya investasi emas itu naik terus tapi jangka pendek itu fluktuasi,” imbuhnya.

Perencana dan penasihat keuangan Aidil Akbar menilai di tengah krisis tidak banyak bisnis yang potensial dijalankan salah satunya bisnis makanan. Namun bagi kalian yang tertarik memulai bisnis kuliner, penting untuk memperhatikan kualitas rasa, segmentasi pasar, hingga harga yang dipatok, sebab kompetisi bisnis kuliner sangatlah ketat.

Secara umum, kata Aidil, bisnis yang potensial di tengah pandemi hanyalah produk sehari-hari dan kesehatan seperti hand sanitizer dan masker. Sementara peluang merintis bisnis pakaian, tas, sepatu atau lainnya tidak terlalu besar sebab masyarakat cenderung membeli produk-produk yang prioritas.

“Kalaupun beli pakaian atau tas, saya lihat masyarakat banyak yang membeli produk diskonan. Jadi perilaku konsumen di tengah krisis masih nahan-nahan, dan selama Covid-19 belum teratasi, tingkat kepercayaan konsumen enggak akan naik,” kata Aidil saat dihubungi Republika pada Kamis (25/2).

 

 
Jadi perilaku konsumen di tengah krisis masih nahan-nahan, dan selama Covid-19 belum teratasi, tingkat kepercayaan konsumen enggak akan naik.
Aidil Akbar, perencana keuangan
 

Di tengah krisis dan pandemi Covid-19 yang mengubah berbagai hal menjadi serba daring, Aidil menekankan pentingnya pemasaran digital yang baik. Meningkatkan visibilitas secara daring dengan memberikan informasi yang berkualitas bisa membantu membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen.

“Jika belum ada uang untuk bikin website, ya setidaknya di Instagram atau sosial media lainnya dibuat lebih bagus. Berikan konsumen pemahaman yang jelas tentang bisnis, produk, atau mungkin behind the scene-nya untuk membangun komunikasi dua arah. Di zaman sekarang kan konsumen enggak pada ‘buta’ ya belanjanya, sudah pada pintar,” kata Aidil.

Untuk urusan modal, Aidil juga meminta agar calon pebisnis untuk lebih berhati-hati. Darahnya bisnis adalah uang itu sendiri, karenanya agar bisnis terus berjalan, uang harus berputar. Menurut Aidil, konsep ini yang sering kali tidak dipahami oleh banyak pebisnis muda.

“Kalau kita lihat cara dagang Cina, mereka itu nggak mikir untung gede dari satu produk, tapi mereka mikir volume. Jadi tidak apa untung kecil tapi yang beli banyak, artinya itu uang muter kan? Daripada yang beli cuma sedikit, uangnya enggak akan muter, modal nyangkut di barang,” kata Aidil.

Ia juga tidak menyarankan calon pebisnis untuk meminjam uang sebelum arus kasnya berjalan dengan baik, setidaknya selama tiga bulan terakhir. Ia juga menyarankan agar pebisnis meminjam uang maksimal jumlah modal yang saat ini tersedia.

“Sebisa mungkin kalau mau pinjam di bawah keuntungan bersih dari bulan sebelumnya ya. Tapi kalau maksimalnya saya kira sesuai dengan tabungan Anda. Jadi jika punya keuntungan bersih Rp 10 juta, ya segitu juga nabungnya. Jadi jika bulan depan usaha gagal, bisa bayar utang pakai uang di tabungan. Nggak nyisain utang,” jelas dia.

 

Sumber : Antara


×