Semasa hidupnya, Gus Dur pernah bercerita tentang orang gila, yaitu presiden Indonesia yang hebat-hebat. | ANTARA FOTO/Maulana Surya
02 Mar 2021, 12:14 WIB

Orang Gila Gus Dur, Foucault, dan Abu al-Qasim an-Naisaburi

Allah menceritakan bagaimana para nabi disebut orang gila

 

Saat memimpin Indonesia pada 1999-2001 KH Abdurrahman Wahid (1940-2009) kerap mengeluarkan lelucon yang membuat pemimpin dunia tertawa. Salah satunya adalah humor tentang orang gila atau presiden gila.

Hal itu dia sampaikan saat bertemu Presiden Kuba Fidel Castro (1926-2016). Ketika itu Gus Dur menceritakan, semua presiden Indonesia gila. Presiden Sukarno gila wanita. Presiden Suharto gila kuasa. Presiden Habibie gila ilmu dan teknologi. “Bagaimana dengan presiden Indonesia yang keempat?” tanya Castro.

“Oh itu saya ya...hehe... Kalau presiden yang keempat sih sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila,” kata Gus Dur disambut gelak tawa Castro dan orang-orang sekitarnya.

Terkait

Humor tentang ‘orang gila’ semacam ini ternyata bukan hal baru. Pada tahun 1980-an sudah ada buku yang menjelaskan tentang orang-orang yang dianggap gila. Penulisnya adalah filsuf asal Prancis, Michael Foucault (1926-1984) dalam bukunya yang berjudul Histoire de la folie à l'âge classique (Madness and Civilization/Kegilaan dan Peradaban). 

Melalui buku ini, Foucault membangun narasi bahwa ada kuasa pengetahuan yang mendikte kategori kegilaaan, sehingga kategorisasi itu tak selamanya objektif, sarat kepentingan kelanggengan kekuasaan , dan upaya menyingkirkan lawan. Kuasa adalah yang paling berperan menentukan seseorang gila atau tidak. Di dalam buku itu, Foucault menyebut tokoh-tokoh oposisi pemerintah dihabisi dengan fitnah gila. Kemudian dijebloskan ke rumah sakit gila atau penjara seperti Bastille. Buku ini menguatkan kekeliruan tersebut dengan menyatakan bahwa klaim tentang kegilaan merupakan produk kuasa struktural.

Subjektivitas penilaian tentang kegilaan itu ternyata seribu tahun lebih dulu dijelaskan dalam kitab Uqala al-Majanin. Buku ini mengubah cara pandang dan perlakuan seseorang terhadap orang-orang gila. Sebab, sebagaimana dicatat dalam poin ke-441 buku ini bahwa pada dasarnya semua manusia itu gila. Hanya kadar dan objek kegilaannya saja yang membedakan antara manusia satu dengan yang lain.

Kitab Uqala al-Majanin dikarang oleh Abu al-Qasim al-Hasan bin Muhammad bin al-Hasan bin bin Habib an-Naisaburi (wafat pada 406 H/1016 M). Sering disingkat menjadi Abu al-Qasim an-Naisaburi. Dia adalah penafsir Alquran dan imam qira’at, dan penghafal ayat-ayat Ilahi. Dia menguasai metode sanad tafsir dan ragam bacaan Alquran. Juga ilmu Ma’ani (estetika bahasa), Nahwu, Sharaf, juga riwayat tokoh dan peperangan. Kompetensi inilah yang digunakannya untuk menyusun Uqala al-Majanin, kitab klasik yang terus dikaji Muslim di berbagai belahan dunia.

Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyebut Abu al-Qasim sebagai mufassir terkenal dari Khurasan dan yang paling fasih di antara banyak mufassir dalam menyampaikan kebaikan dan kebenaran.

Banyak orang mengais ilmu darinya melalui majelis ilmu. Sepanjang hidupnya, dia banyak membuka pengajaran dan dakwah Islam di Khurasan dan Naisabur. Kepada orang berharta, dia akan mengimbau untuk mendermakan sebagian yang dimiliki untuk keberlangsungan dakwah ilmu. Kepada kaum dhuafa, dia akan mengajak orang-orang untuk memberikan bantuan. Dia memotivasi kaum dhuafa untuk bangkit dari keterpurukan dan meraih kebahagiaan.

Fikihnya mengikuti Mazhab Imam Syafi’i. Aliran teologinya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dia menggunakan nalar sebagai kekuatan untuk menafsirkan dan mempertajam khazanah keislaman. Kemudian dia terjun menjadi salik yang mengabdikan hidupnya untuk Allah semata, dan menjauhi kenikmatan duniawi 

Karya Abu al-Qasim ini di satu sisi membela orang-orang yang dianggap gila dengan menunjukkan ketidakgilaan mereka. Di sisi lain, kitab ini juga memberikan kritik tajam untuk kegilaan dan kedunguan. Dosen filsafat dan penerjemah buku ini, Zainul Maarif dalam kata pengantarnya menjelaskan bahwa anggapan gila pada seseorang tidak otomatis menujukkan bahwa yang ditunjuk adalah orang gila. Terkadang, orang yang dianggap gila justru orang yang benar dan baik. Hal itu bisa dibuktikan dengan melihat sejarah orang-orang besar di ranah agama, filsafat dan sains.

Di ranah agama misalnya, para pembaca dapat melihat kembali kisah para nabi dan rasul. Nabi Nuh dianggap gila, karena membangun kapal besar di perbukitan yang tinggi. Padahal orang-orang membangun kapal di wilayah pesisir. Bagi orang awam, ini adalah hal tidak wajar, gila. Namun kapal itulah yang menyelamatkan manusia dari banjir besar. Dalam Surah al-Qamar ayat 9-10, Allah langsung menceritakan bagaimana Nabi Nuh disebut gila oleh kaumnya.

Nabi Ayyub yang diserang penyakit kulit yang menjijikkan juga dianggap demikian. Sampai ada orang-orang di sekitarnya berkata, “Anda ini kan seorang nabi, mintalah kesembuhan kepada Allah sehingga ada kembali sehat.” Namun apa kata Nabi Ayyub? “Saya hidup enak puluhan tahun, masak baru diberi sakit beberapa tahun saja sudah mengeluh.”

Belum lagi kisah Nabi Ibrahim yang ‘kebal’ api, Ismail yang memancarkan air Zamzam, Musa yang membelah lautan dan berbicara langsung dengan Allah (adz-Dzariyat 38-39), dan Maryam yang melahirkan Ruhullah Nabi Isa. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kasih sayang Tuhan yang luar biasa, tapi oleh beberapa orang dianggap gila, karena melakukan hal yang di luar kebiasaan orang banyak.

Rasulullah pernah dicap gila pada masa awal mendakwahkan ajaran Islam: monoteisme, kemanusiaan, dan akhlak yang mulia. Ketika itu Sang Nabi berdakwah di tengah-tengah kaum Quraish.

Namun, kaum kafir Quraisy saat itu masih tetap mempertahankan keyakinan mereka kepada dewa-dewa, yang diwarnai dengan perbudakan, penistaan pada perempuan, perjudian, mabuk-mabukan dan segala tindakan buruk lainnya.

Saat Rasulullah mengenalkan ajaran Islam, Rasulullah pun dituduh sebagai orang gila yang menyesatkan warga Makkah dan diancam untuk dibunuh. Akhirnya Rasulullah hijrah ke Yatsrib, yang kini dikenal sebagai Kota Madinah.   

Di ranah filsafat, Socrates (470-399 SM) pernah dianggap gila oleh orang-orang Yunani. Bapak filsafat yang dikenal sangat bijaksana itu dianggap gila karena mempertanyakan hal-hal yang diterima begitu saja oleh orang Yunani.  

photo
Buku tentang orang gila karangan Abu al-Qasim an-Naisaburi. - (Erdy Nasrul/Republika)

Dengan pertanyaan itu, Socrates menyadarkan orang-orang agar tidak terpaku pada opini, melainkan mengarah kepada pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan (episteme). Atas langkahnya itu, penguasa Yunani pun menganggap Socrates menyesatkan masyarakat. 

Akibatnya, Socrates dihukum mati oleh penguasa Kota Athena. Filsuf itu memilih tidak melarikan diri. Dia justru menghabiskan hari-hari terakhirnya untuk berkumpul dengan teman-temannya sebelum akhirnya meminum racun dari algojo. 

Socrates tentu saja tidak gila. Justru orang-orang yang menghukumnya yang gila. Karena, pemikiran Socrates itu justru pada akhirnya dapat membawa perubahan yang besar terhadap perkembangan filsafat di Yunani.  

Selain itu, di ranah sains juga terdapat tokoh besar yang dianggap gila pada zamannya, yaitu Giorgano Bruno (1548-1600). Dia dianggap melenceng dari jalur intelektualitas dan agama karena mengampanyekan heliosentris.

Menurut dia, mataharilah yang diputari bumi, bukan sebaliknya. Pernyataan itupun bertentangan dengan keyakinan Gereja  yang menganggap bahwa bumilah yang dikelilingi matahari. 

Gereja pada abad pertengahan memegang kuasa mutlak. Dia adalah ‘tangan tuhan’ di bumi, sehingga siapa pun yang berseberangan dengannya akan dihabisi. Karena itu, Bruno  mendapatkan hukuman berat: dibakar hidup-hidup.

Tetapi pada akhirnya terbukti, bahwa pendapat Bruno justru benar. Sedangkan keyakinan Gereja salah. Karena itu, sebutan gila pada seseorang itu tak sepenuhnya benar. 

Kitab yang diterjemahkan oleh Zainul Maarif ini berusia 400 tahun lebih tua dari Kisah 1001 Malam dan ditulis dengan sangat hati-hati berdasarkan metode periwayatan yang ketat layaknya hadis. Namun, dalam buku terjemahan ini, rantai periwayatan tersebut sengaja dipangkas agar para pembaca fokus pada kisah yang disampaikan.

Alasan menjadi gila

Orang-orang cerdas dalam sejarah Islam memiliki alasan tersendiri sehingga disebut gila. Dalam buku terjemahan kitab Uqala al-Majanin  karya Abu al-Qasim an-Naisaburi dijelaskan, di antara alasan orang menjadi gila adalah karena takut kepada Allah. Bagaimana bisa?  

Seperti yang dikisahkan dalam buku ini, pada suatu malam, Abdul Azis bin Yahya an-Nakha’i pernah shalat di suatu masjid di masa pemerintahan Umar bin Khattab. Ketika itu, imam shalat membaca surat ar-Rahman ayat 46 yang artinya: “Dan bagi orang yang takut saat menghadap Allah akan mendapatkan dua surga.”  

Tiba-tiba imam itu menghentikan shalatnya dan berubah menjadi gila. Kemudian, imam itu mengembara tanpa tujuan hingga tidak diketahui jejaknya.  

photo
Peta buku kebijaksanaan orang gila - (Erdy Nasrul/Republika)

Selain itu, dalam kitab ini juga diceritakan pula orang-orang berakal yang berpura-pura gila. Kegilaan semacam ini mempunyai banyak macam. Di antara mereka ada yang sengaja berpura-berpura gila untuk menutupi keadaannya di hadapan manusia. 

“Kegilaan Bani Amir disebabkan oleh kecintaannya kepada Allah. Tapi dia menyembunyikan keadaan itu dengan menampakkan kegilaan,” kata seorang ulama yang bernama Abu al-Qasim.  

Di antara mereka juga ada orang-orang yang berpura-pura gila untuk memperbaiki hidupnya, sehingga bisa mendapatkan ketenangan. Shalih bin Ali an-Nashibaini bertanya kepada Zaid bin Said al-Abadi, “Mengapa engkau menyamarkan kondisimu dan pakaianmu?".

Zaid bin Said kemudian menjawab, “Aku melakukan banyak usaha, tapi aku mengalami kesulitan. Lantas aku pura-pura bodoh, ternyata, dengan begitu, aku dapat istirahat dengan tenang." 

Sebagian orang juga ada yang berpura-pura bodoh untuk menyelamatkan diri dari cobaan dan ujian. Kisah-kisah orang-orang yang berpura-pura karena alasan ini dijelaskan cukup panjang dalam kitab ini, sehingga para pembaca bisa memahaminya secara jernih dan bisa mengambil hikmahnya.   

Isi kitab

Pada permulaan buku ini, penulis menyampaikan berbagai informasi dan pengetahuan yang sangat berguna. Dia menjelaskan tentang batasan gila (al-junun), nilai waras dan akal sehat, dan bagaimana orang terdahulu menganggap para nabi sebagai orang gila. Padahal mereka adalah orang yang inspirasinya datang langsung dari Allah. 

Pengarang juga membahas asal mula makna gila secara kebahasaan, yang ternyata memiliki beraneka makna. Lantas, dia menyebutkan sinonim kata gila dalam bahasa Arab, seperti al-ma’tuh, al-maiq, dan al-muwaswas. Sekaligus menghadirkan beberapa perumpamaan tentang orang yang disebut bodoh dan dungu.

Ada juga pembahasan tentang beberapa makhluk yang dianggap bodoh, seperti anjing hutan dan burung magpie, serta beberapa nama sekelompok hewan tunggangan yang dianggap gila. 

Penerbit Rene Turos Indonesia melalui unitnya: Wali Pustaka menerjemahkan Uqala al-Majanin. Setelah dialihbahasakan, buku ini diterbitkan dengan judul Kitab Kebijaksanaan Orang-orang Gila. Buku ini dinilai penting untuk dibaca masyarakat Indonesia, karena isinya yang penuh hikmah. Di antara maksud penerbitan buku ini adalah agar orang tidak mudah menghakimi orang lain hanya karena penampilan. Lihatlah sisi lain setiap realita, dalami semuanya, sehingga mendapatkan gambaran yang utuh dan menyeluruh.


×