Ilustrasi beternak sapi di Jakarta | ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
02 Mar 2021, 09:12 WIB

Beternak Sapi di Jakarta Bukan Mustahil

Beternak sapi merupakan budaya masyarakat Betawi.

Usaha beternak sapi perah dan sapi potong di Jakarta bukanlah sebuah hal yang mustahil. Fathurrahman adalah contoh peternak yang menekuni usaha peternakan sapi di Pengadegan Utara III, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (Jaksel).

Jika ditelusuri, peternakan sapi di Jaksel ternyata sudah berlangsung sejak zaman Kolonial Belanda. Usaha ini dijalankan turun-temurun oleh masyarakat Betawi hingga kini.

Awal mulanya, sapi jenis Frisia atau Holstein (FH) didatangkan dari Belanda untuk kebutuhan gizi dan protein bangsa Kompeni. Lambat laun, peternak lokal Batavia mulai memelihara hewan pemamah biak  tersebut.

Dari satu ekor hingga puluhan ekor, kini populasi sapi perah dan sapi potong di Jaksel mencapai lebih 2.000 ekor. Jejak peternakan sapi di tengah kota Jaksel  tersimpan baik dalam organisasi Perhimpunan Peternak Sapi Perah dan Sapi Potong (PPSP-SP) Jakarta.

Terkait

Ketua PPSP-SP Jaksel, Fathurrahman, menjelaskan, sejarah peternakan sapi di Jaksel terus bertahan hingga dikembangkan oleh generasi ketiga. Salah satunya, cicit dari ulama terkenal asal Kuningan Jakarta, KH Guru Mughni, yang masjidnya berdiri megah di Jalan Gatot Subroto. Guru Mughni adalah pendakwah yang mengajarkan Islam kepada masyarakat Betawi pada abad ke-20. Di antara muridnya adalah KH Noer Ali yang memimpin Hizbullah di Bekasi, KH Abdullah Syafi'ie yang dikenal sebagai singa podium di Jakarta dan mendirikan Pesantren as-Syafi'iyyah Jatiwaringin Bekasi, dan banyak lagi ulama Betawi.

Menurut Fathurrahman, dulunya peternakan sapi di Jaksel terpusat di kawasan Kuningan, Kecamatan Setiabudi. Setelah kemerdekaan RI pada 1945, kawasan tersebut dikenal sebagai kampung susu sapi.

Banyak masyarakat menggantungkan hidup lewat pertanian dan peternakan. Fathurrahman menuturkan, pada 1958 dibentuk Koperasi Perusahaan Daerah Ibu Kota sebagai wadah komunikasi para peternak. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto tepatnya tahun 1978, para peternak di kawasan Kuningan mendapat bantuan sapi perah dari Australia.

Setelah 28 tahun bertahan di Kuningan, sambung dia, pada 1986 peternak sapi di Kuningan harus berpindah setelah Gubernur DKI Letjen (Purn) Soeprapto mendapat perintah dari Presiden Soeharto untuk merelokasi peternak.

Maka, terbitlah Surat Keputusan Nomor 300 Tahun 1986 tentang penetapan relokasi usaha peternakan sapi perah dari Kuningan sebagai kawasan kampung susu sapi ke wilayah Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

"Alasannya karena Kuningan dibangun kawasan antarbangsa, baik kedutaan dan perumahan dibangun di sana," kata Fathurahman ketika ditemui di lokasi peternakan sapi miliknya, belum lama ini.

Kini kawasan Kuningan dikenal sebagai segitiga emas Jakarta dan menjadi kantor, tempat tinggal para pejabat negara, dan duta besar negara tetangga. PSSP-SP Jakarta mencatat, hingga 2017, masih ada satu peternak sapi perah yang bertahan di Kuningan, yaitu milik H Nurdin, yang berlokasi di Gang Kembang, Kuningan Timur.

Namun, Fathurahman melanjutkan, kini peternakan tersebut ditutup oleh pemiliknya karena tidak ada penerusnya. Sejak saat itu cerita Kampung Susu Sapi Kuningan hanya menjadi kenangan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dinas KPKP Prov. DKI Jakarta (dkpkp.jakarta)

Fathurahman mengaku, meneruskan usaha ternak sapi perah dari ayahnya mulai 2005. Adapun ayahnya juga meneruskan usaha ternak sapi dari kakeknya sejak tahun 1960- an. Dia menerangkan, sang kakek awalnya beternak sapi di kawasan Kuningan. Setelah terkena relokasi pemerintah, usaha peternakan pindah ke Pengadegan Utara III, RT 006, RW 007, Nomor 20 A, Kecamatan Pancoran.

Keuntungan beternak sapi di perkotaan adalah pemasaran langsung dilakukan oleh peternak, berbeda di perdesaan melalui koperasi. Peternak bisa menentukan harga langsung dan pembeli langsung datang ke peternak, tidak perlau menggunakan perantara.

Namun, Fathurahman mengalami kendala terkait pakan. Dia pun rutin mencari rumput liar di pinggiran sungai dan tanah-tanah kosong yang ada di Jakarta. Bahkan, kalau tidak cukup, ia wajib mencari rumput liar dan segar sampai ke Depok, Bogor, dan Bekasi. Berbekal satu mobil pick-up, Fathurahman mencari rumput liar dan hijau untuk 22 ekor sapi perah dan sapi potong miliknya.

Selain pakan hijau-hijauan, sapi perah dan sapi potong juga membutuhkan konsentrat. Bahan kosentrat didapat dari mengambil limbah sayuran yang ada di pasar. Seperti ampas tahu tempe dan bonggol jagung. "Sehari dibutuhkan lima karung berat 50 kilogram berisi ampas tahu, ampas tempe, dan hijauan untuk memberi makan 22 ekor sapi miliknya,” kata Fathurahman.

 
Sehari dibutuhkan lima karung berat 50 kilogram berisi ampas tahu, ampas tempe, dan hijauan untuk memberi makan 22 ekor sapi miliknya.
 
 

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Jaksel, Hasudungan Sidabalok, mengatakan, keberadaan peternakan sapi di wilayahnya masih potensial untuk dikembangkan. Tercatat, ada sekitar 45 orang peternak sapi perah dan 47 peternak sapi potong dengan populasi sapi sekitar 2.000 ekor (data 2018-2019) yang tersebar di 10 kecamatan Jaksel.

Kecamatan Pancoran dan Mampang Prapatan menjadi lokasi terbanyak jumlah peternak sapi perah dan sapi potong, masing-masing 34 orang dan 35 orang. Sisanya tersebar di Kecamatan Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Pesanggrahan, Pasar Minggu, dan Jagakarsa.

Hasudungan menuturkan, tantangan peternakan sapi di perkotaan adalah populasinya tidak bisa sebanyak di perdesaan. Selain itu, kotoran hewan ruminansia tersebut masih menjadi kendala bagi masyarakat sekitar.

Anggota DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino mengatakan, peternakan sapi di perkotaan masih memiliki prospek untuk terus berkembang. Dengan catatan, peternak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan mau berinovasi dengan memanfaatkan teknologi.


×