Jhony Allen Marbun. |
02 Mar 2021, 03:10 WIB

Jhoni Allen Serang Balik Demokrat

Jhoni menuding SBY merekayasa pelaksanaan Kongres Demokrat pada Maret 2020.

JAKARTA—Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Jhoni Allen Marbun akhirnya memberi pernyataan resmi melalui video terkait kisruh internal partai berlambang bintang mercy itu. Jhoni Allen menjadi salah satu kader yang dipecat Partai Demokrat setelah dinilai terlibat upaya pengambilalihan kepemimpin Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Jhoni Allen disebut ada dalam pertemuan sejumlah kader dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko untuk mendorong Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat. Dalam pernyataannya, Jhoni menegaskan, apa yang mereka upayakan bukan sebuah kudeta. Ia justru menuding kudeta pernah dilakukan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada kepemimpinan ketua umum Anas Urbaningrum.

Jhoni menuturkan, Anas terpilih sebagai ketua umum dalam Kongres ke-2 Demokrat di Bandung, Jawa Barat pada 2010. Saat itu, SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga Presiden RI disebut mengambil kekuasaan ketum dari Anas dengan cara membentuk presidium partai. Pengambilalihan kekuasaan dilakukan saat Anas tersandung masalah hukum.

photo
Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum (tengah) didampingi Wakil Ketua Umum I DPP Partai Demokrat, Jhoni Allen Marbun (kedua dari kanan) dalam deklarasi Pilkada Sumatra Utara pada 2013. FOTO ANTARA/Irsan Mulyadi/NZ/12 - (ANTARA)

"Namun belum status tersangka, SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dan juga Presiden RI mengambil kekuasaan," ujar Jhoni, dalam keterangan video, Senin (1/3).

Terkait

Setelah Anas ditetapkan sebagai tersangka, SBY menggelar kongres luar biasa (KLB) pada 2013. Saat itu, SBY meminta Jhoni Allen membujuk Marzuki Alie untuk tidak maju sebagai calon ketua umum.

SBY, sebut Jhoni, berjanji hanya meneruskan kepemimpinan Anas. Padahal, Marzuki adalah pemilih suara terbanyak kedua pada kongres yang digelar pada 2010.

Di sisi lain, Jhoni juga menuding SBY merekayasa pelaksanaan Kongres Demokrat pada Maret 2020 yang memutuskan memilih AHY sebagai ketua umum. "Kongres V, pada 15 Maret 2020, di Senayan, Jakarta. Kembali SBY merekayasa tata cara kongres tidak sesuai sebagaimana mestinya," ujar Jhoni.

Dalam kongres tersebut, SBY sebagai ketua umum periode sebelumnya tak melaporkan pertanggungjawabannya. Selain itu, tidak ada pembahasan dan tata tertib acara yang seharusnya membahas syarat dan tata cara pemilihan ketua umum.

SBY, kata Jhoni, merencanakan agar seluruh ketua DPD Partai Demokrat mendeklarasikan AHY sebagai ketua umum. Padahal pemilik hak suara yang dapat memilih ketua umum diusir dalam proses sebelumnya.

photo
Politisi Partai Demokrat Jhoni Allen Marbun menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan KPK beberapa waktu lalu. - (ANTARA FOTO)

Maka dari itu, ia menilai AHY tidak tepat memimpin Demokrat. Demokrat dinilaimya tak lebih seperti partai keluarga, dinasti Cikeas. "AHY selaku ketua umum tidak tahu cara turun gunung, sehingga Bapaknya SBY yang saya hormati menjadi turun gunung. Inilah yang saya sebut krisis kepemimpinan," ujar Jhoni.

Di lain pihak, Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menilai, isu KLB yang diminta beberapa pihak, termasuk Jhoni Allen hanya pepesan kosong belaka. Menurut Herzaky, pernyataan Jhoni Allen untuk kepengurusan Demokrat kini, juga hanya nyanyian sumbang orang yang sudah dipecat. “Jhoni Allen jangan baper (karena sudah dipecat)," ujar dia kepada Republika, Senin (1/3).

Dia menambahkan, apa yang masih dipersoalkan Jhoni Allen saat ini sudah tidak relevan. Mengingat Jhoni Allen yang sudah dipecat dan bukan anggota Partai Demokrat lagi. “Apa yang dia omongkan saat ini tidak ada hubungan lagi dengan Partai Demokrat," tegas Herzaky. 


×