Rumah Zakat meluncurkan waqf.id secara virtual, Senin (25/1). Peluncuran itu guna menukung upaya pemerintah dalam memasifkan Gerakan Nasional Wakaf Uang. | isimewa

Laporan Utama

07 Feb 2021, 11:49 WIB

Maksimalkan Potensi Wakaf Uang Milenial

Pemerintah harus dapat memastikan pengelolaan wakaf uang dilakukan dengan amanah.

Potensi generasi milenial dalam mengembangkan wakaf uang di Indonesia dinilai sangat besar. Direktur Keuangan Sosial Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNKES), Ahmad Juwaini, menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020, tercatat jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270,20 juta jiwa.

Sebanyak 25,87 persen atau sekitar 69,900 juta orang adalah penduduk dari kelompok generasi milenial. Sementara itu, sebanyak 85 persen kelompok generasi milenial adalah Muslim. Total jumlah generasi Muslim milenial ada sekitar 59,415 juta.

Istilah milenial berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Awal 2016 Ericsson mengeluarkan 10 Tren Consumer Lab untuk memprediksi beragam keinginan konsumen.

Laporan Ericsson lahir berdasarkan wawancara kepada 4.000 responden yang tersebar di 24 negara dunia. Dari 10 tren tersebut beberapa di antaranya, adalah adanya perhatian khusus terhadap  perilaku generasi millennial.

Dalam laporan tersebut Ericsson mencatat, produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat millennial. Sebab, pergeseran perilaku turut berubah beriringan dengan teknologi. beberapa prediksi yang disampaikan Ericsson berhasil terbukti. Salah satunya, perilaku Streaming Native yang kini kian populer.

Jumlah remaja yang mengonsumsi layanan streaming video kian tak terbendung. Ericsson mencatat, hingga 2011 silam hanya ada sekitar tujuh persen remaja berusia 16 - 19 tahun yang menonton video melalui Youtube.

Rata-rata mereka menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile sekitar tiga jam sehari. Angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen.

Waktu yang dialokasikan untuk menonton streaming juga meningkat tiga kali lipat. Fakta tersebut membuktikan, perilaku generasi millennial sudah tak bisa dilepaskan dari menonton video secara daring.

Teknologi juga membuat para generasi internet tersebut mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat.

Tren tersebut sudah terbukti disepanjang 2016 melalui beberapa peristiwa penting, seperti aksi teror bom. Masyarakat benar-benar mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi terkini dari sebuah peristiwa.

The Nielsen Global Survey of E-commerce juga melakukan penelitian terhadap pergeseran perilaku belanja para generasi internet. Penelitian dilakukan berdasar penetrasi internet di beberapa negara.

Nielsen melakukan riset terhadap 30 ribu responden yang memiliki akses internet memadai. Responden tersebut berasal dari 60 negara di Asia Pasifik, Eropa, Amerika Latin dan Utara, serta Timur Tengah.

Studi tersebut menggambarkan perilaku generasi akrab internet ini memilih jalur daring untuk meneliti dan membeli beragam produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nielsen mencatat, pertumbuhan penetrasi perangkat mobile di kota-kota besar Indonesia mencapai 88 persen.

Kepemilikan perangkat mobile menjadi salah satu faktor paling signifikan terhadap perilaku belanja daring. Berdasarkan riset Nielsen tersebut, Indonesia memiliki peringkat teratas secara global dalam hal penggunaan ponsel pintar untuk belanja daring. 

Sebanyak 61 persen konsumen memilih berbelanja menggunakan ponsel pintar, dan 38 persen lainnya memilih tablet atau perangkat mobile lain. Sementara, 58 persen konsumen lebih memilih menggunakan komputer.

Kemampuan wakaf milenial

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNKES) menjelaskan, bila diasumsikan 20 per sen kelompok Muslim milenial memiliki kemampuan berwakaf, tercatat potensi wakaf tunai yang terkumpul sebanyak Rp 1,18 triliun. "Kita asumsikan mereka memiliki kemampuan ber wakaf rata-rata 100 ribu rupiah per tahun, maka jumlah potensi wakaf dari kelompok milenial adalah sebesar 1,188 triliun per tahun," kata Ahmad Juwaini kepada Republika, belum lama ini.

Karena itu, Juwaini menegaskan, potensi besar generasi milenial dalam wakaf tunai pun perlu dimaksimalkan. Di antara strategi agar generasi milenial tertarik dan mudah untuk berwakaf uang adalah dengan memak simalkan perkembangan teknologi informasi. Yakni, dengan melakukan kampanye dan literasi wakaf uang melalui berbagai media sosial yang sangat dekat dengan kelompok milenial.

Dari hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata generasi milenial memeriksa ponsel 43 kali dalam sehari. Karena itu, Juwaini menyebut, para nazir harus optimal melakukan komunikasi ponsel sekaligus memiliki pasokan rutin yang segar untuk konten komunikasi wakaf uang melalui ponsel. Selain itu, dia menegaskan, perlu ada aplikasi di ponsel untuk pembayaran wakaf uang dari kelompok milenial secara mudah, akurat, aman, dan informatif.

"Generasi milenial umumnya mendasarkan keputusan mereka pada peers review. Itu sebabnya, para nazir harus mengembangkan story telling, testimoni, dan percakapan online yang trans paran menjadi sangat efektif dalam mempengaruhi keputusan berwakaf dari generasi milenial," kata dia.

photo
Rumah Zakat meluncurkan waqf.id secara virtual, Senin (25/1). Peluncuran itu guna menukung upaya pemerintah dalam memasifkan Gerakan Nasional Wakaf Uang. - (isimewa)

Pristowo Ariya Putra yang juga ketua remaja Masjid Sunda Kelapa mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memulai gerakan wakaf uang. Ariya yang juga sehari-harinya berkecim pung di dunia filantropi menilai wakaf uang tunai dapat memberikan manfaat besar bagi umat Islam.

"Alhamdulillah, kita sangat senang sekali pemerintah sudah mulai serius untuk pengelolaan dana wakaf ini, kita mendukung gerakan ini," kata dia.

Masih banyak masyarakat ter masuk generasi milenial yang belum mengetahui tentang wakaf uang. Karena itu, kata dia, perlu ada kerja sama untuk terus mengedukasi tentang wakaf uang. Menurut dia, Remaja Masjid Sunda Kelapa kerap menyelenggarakan kajianka jian bertemakan wakaf. Menurut Ariyo, hal tersebut sebagai upaya untuk mengenalkan lebih dalam tentang dunia wakaf kepada generasi milenial.

Hasil kajian tentang wakaf pun diunggah ke berbagai laman media sosial sehingga dapat menyebar luas ke para remaja Muslim di berbagai daerah. Dengan perkembangan infrastruktur informasi, dia menilai, semakin mudah untuk mengedukasi generasi milenial tentang wakaf tunai. Karena itu ia mengajak berbagai pihak juga memaksimalkan berbagai media sosial yang digandrungi generasi milenial untuk mengampanyekan gerakan wakaf uang.

"Merupakan salah satu aspek terpenting selain juga metode dalam penyebaran informasi, narasi, dan keterlibatan masyarakat dalam gerakan ini. Mudah-mudahan kami juga berharap bisa ikut andil mengimplemantasi gerakan ini dalam suatu program kegiatan sosial yang bersifat berkelanjutan dengan terus tumbuh dan berkembang sesuai sifat wakaf itu sendiri," kata dia.

Ketua Remaja Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Haedar, ikut menyambut baik gerakan wakaf uang yang diluncurkan pemerintah. Akan tetapi, dia menilai, pemerintah harus dapat memastikan pengelolaan wakaf uang dilakukan dengan amanah. "Asalkan pemerintah bisa menjamin, dengan melibatkan pengawasan dari umat yang ketat secara independen, mungkin hal itu dapat meningkatkan kepercayaan," kata dia.

Haedar mengatakan, remaja Masjid Jogokariyan sering menggelar kajian tentang wakaf. Menurut dia, wakaf bahkan menjadi hal yang diterapkan di Masjid Jogokariyan. Banyak aset wakaf yang dikelola tidak ha nya sebagai tempat ibadah melainkan sebagai sawah, gedung, maupun penginapan.

Haedar juga menilai penggunaan teknologi dapat memudahkan mengampanyekan wakaf tunai. Karena itu, generasi milenial pun perlu mendapat edukasi agar dapat menjadi pelaku wakaf dan mengampanyekan kepada yang lainnya.


×