Pekerja memeriksa kondisi kesehatan ayam ternak di Desa Bojong Cae, Lebak, Banten, beberapa waktu lalu. Para peternak yang tergabung dalam asosiasi Pinsar dan Gopan sepakat untuk menaikkan harga ayam hidup. | MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS/ANTARA FOTO

Ekonomi

Peternak Sepakat Naikkan Harga Ayam

Kementan dan Kemendag bekerja sama menyiapkan kebijakan untuk melindungi peternak.

BOGOR -- Para peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) dan Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) sepakat untuk menaikkan harga ayam hidup. Kenaikan itu disepakati demi menghindari potensi kerugian peternak yang telah dialami dalam dua tahun terakhir.

"Setiap hari naik Rp 500 per kg dan kita arahkan ke Rp 19 ribu per kg setelah itu baru kita atur lagi semuanya," kata Ketua Umum Pinsar Singgih Januratmoko dalam Rapat Koordinasi Perunggasan Nasional di Bogor, Jawa Barat, Selasa (2/2).

Pada Selasa (2/2), harga ayam untuk bobot 1,6 kg hingga 1,8 kg dihargai sekitar Rp 17 ribu per kg di Jawa. Peternak sepakat untuk menaikkan harga ayam hidup sebesar Rp 1.000 per kilogram (kg) mulai Rabu (3/2) dan selanjutnya dinaikkan Rp 500 per kg untuk hari-hari berikutnya. Kenaikan harga secara bertahap terus dilakukan hingga harga menyentuh Rp 19 ribu per kg sesuai dengan biaya produksi.

 

 

Tetap kita harapkan supply dan demand diatur terus sampai kondisi membaik dan ekonomi pulih.

 

SINGGIH JANURATMOKO, Ketua Umum Pinsar
 

Ia mengatakan, peran pemerintah dibutuhkan dalam menjaga kondisi permintaan dan penawaran perunggasan. Pengawasan harus terus dilakukan hingga situasi normal sehingga harga yang terbentuk juga sesuai dengan harapan para peternak.

Singgih menilai, situasi perekonomian yang melemah saat ini turut mempengaruhi terhadap rendahnya permintaan daging ayam. Oleh karena itu, upaya perbaikan harga unggas dilakukan secara bertahap.

"Tetap kita harapkan supply dan demand diatur terus sampai kondisi membaik dan ekonomi pulih," ujarnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Achmad Dawami menuturkan, pembentukan harga merupakan suatu proses bisnis. Oleh karena itu, semua pihak tidak hanya fokus pada harga yang ada namun juga memperhatikan proses pembentukan harga.

Ia menilai, langkah pemerintah dalam memangkas produksi ayam yang dimiliki para perusahaan pembibitan unggas sudah tepat. Oleh karena itu, setiap perkembangan dari implementasi kebijakan harus diawasi bersama.

"Semua harus konsisten karena bisnis adalah kalkulasi," katanya.

photo
Peternak berada di kandang ayam yang sengaja dikosongkan karena merugi di Desa Badal, Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/aww. - (ANTARA FOTO)

Pemerintah berjanji siap membantu para peternak ayam yang tengah dihadapkan pada masalah anjloknya harga. Kementerian Pertanian menyatakan akan bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan agar kebijakan untuk melindungi peternak bisa diterapkan secara optimal.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nasrullah mengatakan, pihaknya tengah melakukan perbaikan terhadap Peraturan Menteri Pertanian Nomor 53 Tahun 2018 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Nasrullah sebelumnya telah menjanjikan adanya kebijakan permanen di sektor unggas yang akan memfasilitasi para peternak maupun perusahaan pembibitan unggas terintegrasi.

"Kita lagi perbaiki, termasuk soal hilirisasinya, lalu pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas, dan rantai dingin, itu sudah kita perketat di penilaiannya," kata Nasrullah.

Ia mengatakan, Kementan akan meningkatkan transparansi mengenai data unggas nasional. Termasuk untuk kebijakan-kebijakan seperti surat edaran yang selama ini dilakukan untuk meminta perusahaan terintegrasi memangkas produksi unggas.

"Saya dengan Pak Syailendra (Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag) juga akan siap melaksanakan. Kami selalu kontak-kontakan karena ingin betul-betul selesaikan bersama. Kita harus kompak," ujarnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Syailendra mengatakan, masalah anjloknya harga diawali dengan kelebihan pasokan grand parent stock (GPS) atau indukan ayam galur murni.

"Jadi importasinya sangat besar dan saat ini diperparah dengan konsumsi yang sedang turun," ujarnya.

Karena itu, ia mengatakan, ke depan perlu adanya pengendalian impor GPS termasuk pengendalian dan pengawasan ketat pada saat proses produksi dalam negeri. Syailendra mengatakan, Kemendag akan mendukung Kementan dalam setiap kebijakan untuk meningkatkan harga ayam dalam jangka pendek. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat