Pihak keluarga dibantu petugas pemakaman mengenakan alat pelindung diri (APD) saat memakamkan jenazah keluarga dengan protokol Covid-19 di TPU Cikadut, Jalan Cikadut, ota Bandung, Jumat (29/1). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA

Tajuk

02 Feb 2021, 03:00 WIB

Di Balik Angka Kematian Pasien Covid-19

Angka pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal, bahkan tertinggi di Asia dan Asia Tenggara.

Ada satu fakta serius yang tampaknya kurang disorot dalam perkembangan pagebluk Covid-19 di Tanah Air. Yakni, tingginya angka kematian pasien Covid-19. Ya, selain harus menghadapi angka psikologis satu juta kasus, angka kasus aktif tertinggi, dan ledakan kasus harian sebesar 10 ribuan per hari, negara ini menyimpan problem soal mengapa banyak pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Angka pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal dunia, bahkan tertinggi di Asia dan Asia Tenggara. Tercatat sampai dengan Senin (1/2/2021), jumlah kematian akibat Covid-19 sudah melewati 30 ribu orang. Seratusan orang meninggal per harinya.

Selain menimbulkan krisis fasilitas kesehatan, jumlah pasien Covid-19 yang meninggal juga membuat krisis lahan makam di sejumlah kota besar yang kasusnya tertinggi. Jenazah pasien Covid-19 di beberapa tempat, terpaksa dikubur tumpang dua atau tiga.

Memang, selain tren angka kematian yang tinggi, tren kesembuhan pasien Covid-19 di Indonesia juga tinggi. Karena dua fenomena, yang seharusnya tidak bertolak belakang inilah, yang harusnya menjadi salah satu sorotan dan keprihatinan pemerintah. Idealnya adalah: Jumlah pasien yang sembuh, jumlah orang meninggal dunia sedikit. Namun, realitasnya berkebalikan di sini.

 
Maka itu, tentu kita harus bertanya, apa faktor yang paling mendorong pasien Covid-19 makin banyak yang meninggal, atau tetap banyak yang meninggal di negara ini?
 
 

Maka itu, tentu kita harus bertanya, apa faktor yang paling mendorong pasien Covid-19 makin banyak yang meninggal, atau tetap banyak yang meninggal di negara ini? Apakah faktor kesehatan pasien? Atau faktor kesiapan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan? Apa yang harus pemerintah lakukan untuk menekan tren angka kematian ini?

Polemik soal data pasien Covid-19 meninggal dunia sudah muncul sejak tahun lalu. Pada awal-awal pagebluk, publik bahkan dihantui hoaks bahwa rumah sakit asal-asalan saja mengecap pasien yang meninggal dicap akibat Covid-19.

Kategorisasi meninggal dunia akibat apakah karena Covid-19 atau penyakit bawaannya pun, di rumah sakit masih simpang siur. Jadi, sorotan kita pertama-tama adalah pemerintah harus memperbaiki keterbukaan informasi di instansinya terlebih dulu.

Kedua, apakah pasien Covid-19 meninggal karena komplikasi penyakit bawaan yang dipicu oleh virus asal Wuhan, Cina, ini atau benar-benar karena Covid-19 itu sendiri. Kalau melihat tren besarnya jumlah pasien yang sembuh akibat Covid-19, bisalah kita menduga kekuatan imun manusia Indonesia cukup tangguh. 

 
Lonjakan pasien Covid-19 begitu pesat tak mampu diimbangi kesiapan infrastruktur kesehatan, dan tenaga kesehatan pun sudah kewalahan.
 
 

Namun di sisi lain, kalau benar penyakit bawaan ikut menyumbang sebagai pemicu kematian pasien Covid-19, sorotannya jatuh kepada sektor kesehatan publik. Ini bisa terlihat dari data BPJS Kesehatan ataupun yang dirilis Kemenkes. Bahwa pengidap penyakit serius di Indonesia, seperti jantung koroner, diabetes, ginjal, dan paru-paru menempati posisi tertinggi. Bisalah kita menilai kampanye perilaku hidup sehat masyarakat oleh Kemenkes, selama ini, belum efektif dijalankan.

Ketiga, pemerintah dalam pandangannya menilai, kematian pasien Covid-19 lebih dipicu oleh faktor teknis. Satgas Penanggulangan Covid 19, Ikatan Dokter Indonesia, dan Persatuan Perawat Indonesia menilai, faktor keterlambatan penanganan pasien Covid-19 ternyata sangat memengaruhi tingkat kematian pasien Covid-19. Artinya: Bila ditelusuri, dideteksi cepat, dan segera dirawat, pasien Covid-19 tidak seharusnya bertambah parah atau meninggal dunia. 

Lonjakan pasien Covid-19 begitu pesat tak mampu diimbangi kesiapan infrastruktur kesehatan, dan tenaga kesehatan pun sudah kewalahan. Dalam jangka pendek, inilah yang harus dibereskan pemerintah.

Kebijakan pencegahan meluasnya pagebluk amat menentukan tinggi rendahnya angka kematian pasien. Dalam kondisi sekarang, ketika pembatasan sosial tak mempan, harus ada kebijakan lebih tegas lagi selain 3M (menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker). 

Bukan lagi merilis istilah baru lainnya yang membingungkan, melainkan kita mendesak pemerintah pusat dan daerah benar-benar disiplin menegakkan aturan pembatasan sosial dan protokol kesehatan saat ini. Jangan sampai kita makin kewalahan mengerem laju kasus harian dan laju kasus kematian pasien Covid-19. ';

×