Petugas rumah sakit dan keluarga terpaksa memakamkan sendiri jenazah positif Covid-19 dengan APD seadanya di Pemakaman khusus Covid-19 Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Kota Bandung, Rabu (27/1). | Edi Yusuf/Republika

Nasional

29 Jan 2021, 03:00 WIB

Kematian Harian Kian Mengkhawatirkan

Tren kematian harian kasus positif Covid-19 terus menanjak dan mencatatkan rekor.

JAKARTA -- Kasus kematian harian akibat Covid-19 kian mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari terakhir, tren kematian terus menanjak dan mencatatkan rekor pada Kamis (28/1). Angka kematian yang tinggi ini seiring makin banyaknya kasus aktif dan kapasitas rumah sakit rujukan Covid-19 yang berada di titik kritis.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melaporkan sebanyak 476 orang tercatat meninggal dunia dalam 24 jam terakhir. Jumlah ini menjadikan kumulatif kasus meninggal hingga Kamis (28/1) telah mencapai 29.331 orang. Rekor kematian ini dikhawatirkan terus terjadi ke depan, mengingat penuhnya kapasitas rumah sakit.

Pada Rabu (27/1), satgas mencatat terdapat sebanyak 387 orang meninggal dunia. Kemudian pada Selasa (26/1) sebanyak 336 orang meninggal dan pada Senin (25/1) kasus kematian harian sebanyak 297 orang.

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah saat ini fokus untuk menurunkan angka kasus aktif atau jumlah orang yang masih dalam perawatan karena Covid-19. Berdasarkan data satgas per 24 Januari, terdapat sebanyak 162.617 atau 16,44 persen kasus aktif Covid-19 di Indonesia.

Wiku menilai, angka persentase kasus aktif tersebut dapat menjadi ancaman. Sebab, jika penularan virus tidak dikendalikan dengan baik, akan makin banyak penduduk yang tertular. Hal yang dikhawatirkan, akan makin banyak pasien Covid-19 yang meninggal jika tidak tertangani dengan baik.

“Kita harus benar-benar menganggap serius penanganan kasus aktif agar angka kesembuhan kasus Covid-19 dapat meningkat dan menurunkan angka kematian,” kata Wiku saat konferensi pers, Kamis (28/1).

Wiku mengatakan, para pasien yang masih dalam perawatan pun harus mendapatkan penanganan maksimal sehingga dapat segera sembuh. Ia menyebut, jumlah tempat tidur baik isolasi maupun ICU di rumah sakit rujukan Covid-19 tercatat sekitar 81 ribu atau hanya setengah dari jumlah kasus yang ada saat ini.

Kondisi terbatasnya tempat tidur di fasilitas kesehatan ini juga ditambah dengan terbatasnya tenaga kesehatan. Sehingga pelayanan perawatan kepada para pasien pun menjadi tak maksimal.

photo
Sejumlah petugas mengenakan alat pelindung diri (APD) menggotong peti berisi jenazah dengan protokol Covid-19 saat akan dimakamkan di TPU Cikadut, Jalan Cikadut, Mandalajati, Kota Bandung, Selasa (26/1). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah telah menambah kapasitas tempat tidur dan tenaga kesehatan. Meskipun begitu, jika angka kasus positif terus bertambah, fasilitas kesehatan yang ada tetap tak akan mampu menampung para pasien.

Wiku pun menegaskan, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini adalah menekan angka penularan di masyarakat. Masyarakat harus terus mematuhi protokol kesehatan dengan ketat.

“Protokol kesehatan tidak hanya menyelamatkan nyawa, tapi juga dapat membantu kita untuk bisa beraktivitas produktif dan aman di tengah pandemi,” kata dia.

Menurut Guru Besar Antropologi (Purna Bakti) Universitas Indonesia Yunita T Winarto, diperlukan kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia yang kian mengkhawatirkan ini. Pandemi ini, dia menyebut, merupakan masalah bersama sehingga perlu perubahan pola pikir, perubahan cara bersikap, dan kesediaan untuk melaksanakan protokol kesehatan.

photo
Perkembangan Covid-19 Kematian per Hari hingga 28 Januari 2021 - (covid19.go.id)

“Namun, itu sangat tidak mudah. Kami sebagai antropolog, ilmu sosial, memahami betul bahwa perlu strategi budaya untuk mengubah perilaku. Kolaborasi lintas disiplin ini amat diperlukan,” kata dia.

Yunita mengatakan, penjelasan substansi harus dari ahli kesehatan masyarakat atau kedokteran. Sebab, untuk mengubah perilaku memang perlu memahami karakteristik virusnya, bagaimana manusia sebagai inang, hingga bagaimana virus itu bisa menular antarmanusia. Media sosial, dia melanjutkan, telah gencar menayangkan sosialisasi protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun hingga edukasi menjelaskan virus ini.

Namun, ia mengingatkan, kebudayaan memiliki dua karakteristik. Pertama, karakteristik budaya yang mudah berubah, misalnya, ketika menggunakan teknologi seperti telepon seluler. Kedua, budaya yang tidak mudah berubah termasuk perubahan perilaku seusai Covid-19. Virus ini, menurut Yunita, telah membuat terjadi gegar budaya yang perlu membentuk perilaku yang baru.

Budaya baru ini kemudian harus diinternalisasi dalam kehidupan. Untuk menginternalisasikannya dan mengubah perilaku, kata Yunita, butuh pranata budaya, ganjaran, dan sanksi. ';

×