Skizofrenia | nypost.com

Sehat

18 Sep 2019, 19:48 WIB

Pengobatan Alami untuk Skizofrenia

Brokoli selama bertahun-tahun dipuji sebagai asupan untuk terapi kanker dan sumber vitamin C, kalsium, dan vitamin B

Brokoli selama bertahun-tahun dipuji sebagai asupan untuk terapi kanker dan sumber vitamin C, kalsium, dan vitamin B. Penelitian terbaru kini menunjukkan sayuran ini bisa dipilih sebagai salah satu cara yang aman untuk mengontrol dan mengelola skizofrenia.

Peneliti Johns Hopkins Medicine mengatakan, senyawa yang dikandung dalam brokoli dapat membantu menyesuaikan ketidakseimbangan kimiawi di dalam otak yang dikaitkan dengan penyakit skizofrenia. Kandungan kimia sulforaphaneyang tinggi dari sayuran ini berpotensi digunakan sebagai alternatif obat antipsikotik. Obat-obat psikotik ini memiliki efek samping yang sering kali menyakitkan atau berbahaya bagi pasien.

"Ada kemungkinan penelitian pada masa depan dapat menunjukkan sulforaphanemenjadi suplemen yang aman untuk orang yang berisiko terhadap skizofrenia. Ini sebagai cara untuk mencegah, menunda, atau menumpulkan timbulnya gejala," kata Direktur Johns Hopkins Schizophrenia Center Akira Sawa, dikutip dari NYPost.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada Januari lalu di jurnal JAMA Psychiatry, peneliti mengukur wilayah otak dari 81 orang yang baru-baru ini menderita episode psikosis pertama. Rata-rata pasien memiliki empat persen lebih sedikit bahan kimia glutamat di daerah-daerah tertentu di otak jika dibandingkan dengan orang sehat.

Dalam sebuah studi terpisah yang diterbitkan pada April lalu di Molecular Neuropsychiatry, peneliti mengambil dua kapsul ekstraksi sulforaphaneyang dikonsumsi setiap hari selama sepekan. Hasilnya, asupan tersebut meningkatkan tingkat glutathionerata-rata dari partisipan sekitar 30 persen.
Hasilnya signifikan bagi partisipan. Namun, tim peneliti melaporkan ada efek sampinya walaupun ringan, seperti buang gas dan beberapa kasus gangguan perut.

Efek samping itu sangat berbeda dengan risiko pengobatan bagi pasien skizofrenia saat ini. Biasanya pasien akan mengalami gerakan tidak sadar atau getar dan peningkatan risiko kardiovaskular yang terkait dengan terapi pengobatan.

Para ilmuwan mengatakan, meski diperlukan lebih banyak penelitian, mereka terdorong oleh temuan tersebut. "Untuk orang-orang yang cenderung terkena penyakit jantung, kita tahu perubahan dalam diet dan olahraga dapat membantu mencegah penyakit itu. Namun, belum ada hal yang seperti itu untuk gangguan mental yang parah," kata Direktur Skizofrenia dan Psikosis Johns Hopkins Thomas Sedlak.

Sedlak berharap suatu hari ilmuwan akan membuat pengobatan yang tepat untuk beberapa penyakit mental.
Bahkan, mereka menginginkan penyakit tersebut dapat dicegah kemunculannya sampai batas tertentu.
(ed:dewi mardiani)


×