Staf khusus Presiden Joko Widodo yang baru dari kalangan milenial (kiri ke kanan) CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, CEO dan Founder Creativepreneur Putri In | WAHYU PUTRO A/ANTARA FOTO
24 Jan 2021, 08:44 WIB

Generasi Milenial, Z, dan Pembangunan Indonesia

generasi milenial banyak berperan dalam pembangunan bangsa

NANANG SUMANANG, Guru Sekolah Indonesia Davao

It doesn’t really matter what we expected from life, but what life expected from us (Viktor E Frankl)

Mengawali tahun 2021 ini, banyak sekali berita duka mewarnai pemberitaan di media massa maupun media sosial. Angka penyebaran dan korban COVID-19 yang terus bertambah sejak 2020 dengan cepat, kematian saudara-saudara kita tercinta, baik karena Covid-19 maupun karena lainnya, wafatnya para pemuka agama, penolakan vaksinisasi oleh beberapa anggota masyarakat, influenser yang tidak memberikan contoh dalam melakukan protokol kesehatan setelah divaksin.

Bencana alam tahun 2020 belum usai ditangani dengan baik seperti di Banten, sekarang berita duka bertambah lagi dengan kecelakaan pesawat di wilayah kepulaun Seribu, bencana alam di Sumedang, Puncak, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara dan di beberapa tempat lainnya, semuanya membawa perenungan sendiri bagi kita sebagai manusia.

Terkait

Pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dan mantan menteri perdagangan, Thomas Lembong, yang menyatakan perekonomian tahun 2021 masih tetap berat dan dibayangi ketidak-pastian menyiratkan adanya tantangan besar bangsa ini. Tantangan tersebut adalah masalah kesehatan, krisis sosial karena banyak masyarakat yang hilang mata pencaharian, dan krisis sektor usaha yang berimbas kepada sektor keuangan tentunya. Ini belum ditambah dengan biaya pemulihan bencana alam.

Catatan FAO (Organisasi Pangan se Dunia) pada Hari Pangan se Dunia tahun 2020 tercatat lebih dari 2 milyar orang tidak mempunyai akses rutin pangan yang aman, bergizi dan cukup. Sekitar 135 juta di 55 negara mengalami kelaparan akut. Populasi global diperkirakan hampir mencapai 10 miliar pada tahun 2050.

Sebesar 14 persen pangan dunia hilang/rusak sebelum sampai ke konsumen. Produk pangan yang instensif plus perubahan iklim telah menghilangkan keanekaragaman hayati. Pola makan yang salah dan gaya hidup pasif menyebabkan angka obesitas tinggi.

Sekalipun Jokowimenggaris bawahi akibat pandemic COVID-19 yang bisa mengakibatkan krisis pangan saat membuka rapat terbatas (13/4/2020), beliau jugatetap meniupkan harapan membaiknya perekonomian Indonesia pada tahun 2021, seperti dilakukan pada sambutan Dies Natalis Universitas Brawijaya (5/1/2021).

Selain tantangan yang disebutkan Sri Mulyani, tantangan sangatberat yang dihadapi bangsa ini adalah perilaku korupsi yang mendarah daging, yang dilakukan oleh para pejabat, jelas-jelas menghianati harapan Presiden. Penegakan hukum yang berkeadilan harus dilaksanakan sebagai pilar utama mewujudkan harapan Presiden. Informasi dan data yang valid sebagai “senjata” mengambil kebijakan dan evaluasi program kinerja harus tersedia dengan baik dan mudah, bukan data abal-abal atau opini sesat dari para buzzer yang suka memecah belah bangsa.

Misi dan Visi pemerintah 2020-2025 adalah; Terwujudnya Indonesiamaju yang berdaulat, mandiri, berkepribadian, berlandaskan gotong royong, dimana penjabarannya antara lain adalah; peningkatan kualitas manusia Indonesia, pembangunan merata dan berkeadilan, mencapai lingkungan hidup berkelanjutan, dan sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Misi visi ini tidak mudah tercapai apabila data kependudukan dalam arti yang luas tidak valid, berkuaitas dan seragam” ujar Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhajir Effendipada Sosialisasi Sustainable Deveopment Goal’s dan Rakor Teknis Sensus Penduduk Tahun 2020 bahwa (26/11/2020). Data ini dipergunakan untuk penyusunan perencanaan maupun pelaksanaan terpadu semua pihak.

Walaupun tidak ada kejelasan tentang pembatasan generasi secara mutlak, tetapi jelas bahwa di Indonesia orang-orang yang masih bekerja/ produktif saat ini masih terdiri dari empat generasi; the baby boomers generation, generasi X (Xers), generasi Y (Nexters/ millenial), dan generasi Z (Mobile Generation)

Tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah: Mental atau perilaku yang lebih mementingkan prestise daripada prestasi, data yang kurang valid dan seragam, pandemic COVID-19 yang menyebabkan ketidak pastian ekonomi dan pangan, dan secara umum tantangan ini akan dihadapi oleh generasi Milenial dan generasi Z ke depannya.

Kupperschmidt (2000) mengatakan yang dimaksud generasi adalah kelompok manusia yang memiliki kesamaan tahun kelahiran, umur, lokasi lahir dan tumbuh, pengalaman yang bersejarah pada jaman tersebut yang sangat mempengaruhi dalam pertumbuhan mereka.

Selain Kuuperschmidt, Jeffrie & Hunte (2004), Petterson (2007), Reynold (2008) membagi/ membatasi antar generasi sebagai berikut: 

Generasi Veteran atau generasi sunyi yaitu manusia yang lahir sekitar tahun 1925 hingga 1945.

Generasi selanjutnya adalah generasi Baby Boomers, yaitu orang-orang yang lahir setelah Perang Dunia ke-II, yaitu orang-orang yang lahir dalam rentang waktu 1940-1946 dan berakhir antara 1960-1964. 

Generasi X (Xers)  generasi yang lahir di awal-awal tahun 1960an hingga tahun 1979-1982. 

Selanjutnya adalah generasi millennial atau generasi Nexters yaitu mereka yang lahir antara tahun 1979-1982 dan berakhir tahun 1990an. 

Sementara generasi Z adalah generasi yang lahir setelah tahun 2000.

Secara umum bahwa masa depan Indonesia nantinya akan dipegang oleh generasi millennial dan generasi Z, dimana generasi millennial dan generasi Z yang merupakan awal memasuki dunia kerja 

Howe & Straus (2009) menggambarkan generasi milenial adalahgenerasi yang makmur, terpelajar, terdiri dari berbagai etnis. Mereka menjadi generasi pertama yang menjadi anggota dunia karena ketersediaan teknologi, dan kesempatan untuk melintasi perbatasan dan bepergian ke seluruh dunia. Selanjutnya Howe & Straus membuat karakteristik dari generasi millennial ini sebagai berikut; berorientasi pada tim, istimewa karena mempunyai skill yang berbeda-beda, orientasinya berprestasi, suka bekerja di bawah tekanan untuk menghasilkan yang terbaik, percaya diri, dan merasa nyaman.

Tapscott (2008) dalam studinya Investigasi strategis generasi Net (Internet) mencirikan generasi ini sebagai berikut; berkolaborasi, kebebasan bekerja, personal, bekerja dengan cepat, berintegrasi, butuh hiburan untuk bersenang-senang, adanya pengawasan agar semuanya berjalan dengan baik dan inovasi. 

Sementara generasi Z atau genersai I (internet) adalah geerasi yang baru memasuki usia kerja, generasi yang banyak berhubungan dalam dunia maya karena sangat akrab dengan smartphone. Ciri dari generasi ini lebih suka pada kegiatan sosial, lebih suka bekerja pada perusahaan-perusahaan start-up, multi tasking, senang dengan teknologi informatika dan pandai mengoperasikannya, peduli terhadap lingkungan, pintar dan cepat menangkap informasi.

Secara sosiologis, menurut teori Hagen yang diperkenalkan oleh Everret E. Hagen bahwa untuk menggerakan masyarakat berkembang adalah dengan merubah tata sosial budayanya. Kemajuan ekonomi merupakan fungsi dari perubahan kombinasi sosiologis, antropologis dan psikologis masyarakatnya. Perubahan ini menjadi faktor penentu dinamika perekonomian masyarakat Indonesia yang otonom. Contoh perubahan tersebut adalah masalah perilaku, kelembagaan dan kebiasaan masyarakatnya. 

Teori Hagen kemudian dilengkapi oleh Teori Dualisme Boeke, seorang pemikir Belanda yang mengadakan penelitian di negara-negara bekas jajahan Belanda. J.H. Boeke mengatakan apabila masyarakat terlalu terpaku pada tata sosial budaya yang ada, maka usaha menggerakkan stagnasi ekonomi tidak akan berhasil. Dia mencontohkan adanya perbedaan kebutuhan yang bersifat ekonomis dengan kebutuhan yang bersifat sosial.

Menurutnya, pola pemenuhan kebutuhan masyarakat Barat didasarkan pada pertimbangan ekonomi rasional (pertimbangan ekonomis). Sebaliknya pemenuhan kebutuhan masyarakat di negara-negara bekas jajahan, didasarkan pada kebutuhan non-ekonomis, yang umumnya adalah untuk mempertahankan gengsi (prestige) di mata masyarakat sosialnya.

Maka untuk menghadapi tantangan masa depan barangkali yang bisa dilakukan oleh generasi millennial dan generasi Z adalah:

Mengadakan perubahan mental, sikap, sosiologis, antropologis dan psikologis dari generasi yang prestise menuju generasi prestasi. Dimana korupsi menjadi sesuatu aib yang sangat memalukan. Penegakan hukum yang berkeadilan menjadi kunci keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Korupsi bansos Covid-19, pemalsuan Surat Keterangan Covid-19, perusak lingkungan harus ditindak sangat tegas hingga ke akar-akarnya.

Sebagai negara maritim, agraris, serta multicultural, dimana hasil pertanian dan kelautan serta keanekaragaman budaya bisa di data dengan baik, dibuat program dan evaluasi kerja berdasarkan teknologi informasi untuk mengembangkan sector pertanian, kelautan dan kebudayaan. Dari penyebaran data yang valid, membuat sistim pangan yang tangguh terhadap ketidakstabilan dan guncangan iklim.

Mempromosikan lebih banyak praktek cerdas iklim dan ramah lingkungan untuk melestarikan sumber daya alam. Membantu petani berinovasi dan digitalisasi persiapan, proses dan hasil pertanian/ laut. Bersama-sama pemerintah mempraktikan solidaritas global atau bekerjasama secara global untuk menghindari dampak yang merugikan para petani dan nelayan kecil. 


×