Kandidat presiden AS Joe Biden berbicara dengan pimpinan Islamic Center of America Sheikh Ahmad Hammoud dalam rangkaian kampanye di Dearborn Michigan, pada Juli 2020. | Tim Kampanye Joe Biden/Facebook
22 Jan 2021, 03:00 WIB

Biden dan Muslim

Kebijakan Biden mudah-mudahan bukan untuk sekadar menarik simpati negara-negara Muslim.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, membatalkan sejumlah kebijakan kunci Donald Trump. Pembatalan tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah Biden dilantik menjadi presiden ke-46 Amerika Serikat. Ada beberapa kebijakan penting yang dibatalkan oleh Biden, salah satunya di bidang imigrasi. Biden menghentikan pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko.

Kebijakan yang tak kalah pentingnya adalah mencabut larangan Trump terhadap warga negara mayoritas Muslim untuk memasuki wilayah AS.

Kebijakan mencabut larangan bagi warga negara mayoritas Muslim untuk masuk negara Amerika Serikat, seakan menjadi angin segar bagi umat Islam. Sejak kebijakan tersebut diterapkan, banyak warga Muslim yang ingin masuk ke Amerika menjadi terhambat. Tidak sedikit di antara warga Muslim di Amerika Serikat, yang terpaksa harus terpisah sementara dengan kerabatnya karena kebijakan larangan tersebut.

 
Sejak kebijakan tersebut diterapkan, banyak warga Muslim yang ingin masuk ke Amerika menjadi terhambat.
 
 

Kini, warga dari negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim akan kembali leluasa untuk masuk ke Amerika Serikat. Pembatasan tersebut sangat disambut oleh umat Muslim di seluruh negara. Terutama mereka yang memiliki kerabat di Negeri Paman Sam, para mahasiswa yang melanjutkan kuliah, atau para pekerja dan pengusaha yang selama ini harus bolak-balik ke Amerika Serikat. 

Terkait

Kita berharap, rasa ‘permusuhan’ yang diembuskan oleh Presiden Donlad Trump terhadap umat Islam selama ini benar-benar berakhir. Amerika menjadi negara terbuka dari berbagai latar bekalang. Baik itu etnis, ras, maupun dari sisi agama. Tidak ada lagi diskriminasi, khususnya bagi umat Muslim.

Kebijakan Biden tersebut mudah-mudahan bukan untuk sekadar menarik simpati negara-negara Muslim di seluruh dunia. Pada awal pemerintahan, Biden memberi kesan seakan sangat bersahabat dengan negara-negara Muslim. 

Kita mungkin masih ingat, bagaimana Presiden AS Barack Obama dalam pidatonya terkait Islam pada Juni 2009 atau sekitar tujuh bulan setelah dilantik. Di Universitas Kairo, Presiden AS Barack Obama menyampaikan pidato yang ditujukan bagi seluruh dunia Islam. Alquran pun dikutipnya dalam pidato yang memikat tersebut.

 
Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat yang juga memerintahkan militer berperang di negara-negara Muslim. 
 
 

Ia menyatakan dukungan bagi awal baru hubungan antara dunia Islam dan AS. Obama kala itu memohon agar semua pihak kembali ke nilai-nilai yang sama dan tanggung jawab bersama. Ia mengakui, prestasi warga Muslim di seluruh dunia serta di AS sendiri. Obama menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan retorika penuh konfrontasi dari pendahulunya, George W Bush.

Namun, dalam dua periode masa kepresidenannya, Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat yang juga memerintahkan militer berperang di negara-negara Muslim. Pada pengujung 2016, menurut laporan Reuters, sekitar 5.200 tentara AS ditempatkan di Irak. Pasukan tersebut untuk mendukung pemerintah Irak melawan ISIS.

Pada Desember 2016, AS mengirim 200 pasukan khusus untuk Suriah, melengkapi 300 pasukan yang sudah ada sebelumnya. Obama juga menyetujui serangan terhadap kelompok teroris di Libya, Pakistan, Somalia, dan Yaman. Pada 2016, AS melepaskan 26.171 bom, menurut laporan The Guardian.

Biden belum dua hari memimpin Amerika Serikat. Kita berharap, sikap baiknya terhadap Islam bukan hanya menarik simpatik negara-negara berpenduduk Muslim pada awal pemerintahannya. Apabila Biden tidak mampu menahan napsunya untuk memerangi negara-negara berpenduduk Muslim, bisa jadi Biden tidak lebih baik dari Trump.

Trump memang menabuh genderang ‘perang’. Tapi itu terkait dengan perang dagang. Trump juga tercatat sebagai presiden Amerika Serikat, yang tidak pernah berperang dalam 40 tahun terakhir. 


×