Gugus Tugas RW 003 Kelurahan Pondok Labu merapikan tempat tidur yang akan digunakan untuk isolasi mandiri di Gedung Sasana Krida Karang Taruna, di Jalan Bango III , Pondok Labu, Jakarta, Senin (18/1). | Prayogi/Republika.
19 Jan 2021, 03:05 WIB

Satgas: Sistem Kesehatan Tertekan Kasus Covid-19

Daerah diminta menyiapkan balai desa sebagai shelter perawatan pasien Covid-19 tanpa gejala.

JAKARTA — Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro menyampaikan, sistem kesehatan di Indonesia saat ini sangat tertekan karena lonjakan pasien positif Covid-19. Dalam beberapa hari terakhir ini, penambahan kasus positif di sejumlah daerah tercatat sangat drastis, bahkan mencatatkan rekornya selama pandemi, yakni mencapai lebih dari 14 ribu kasus dalam sehari. 

Kondisi ini menyebabkan petugas kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan di daerah makin kewalahan. Reisa mengaku, petugas kesehatan mengalami kelelahan setelah selama hampir satu tahun menangani pasien Covid-19 yang terus membeludak. Di sisi lain, petugas kesehatan juga masih harus bekerja keras memberikan pelayanan kepada pasien selain Covid-19.

“Saat ini ada tekanan yang sangat besar pada rumah sakit dan tenaga kesehatan. Sistem kesehatan kita tertekan hebat. Kemampuan kita menyembuhkan pasien Covid-19 terganggu dengan adanya penambahan tinggi pasien baru setiap harinya,” ujar Reisa saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (18/1).

Terkait

Kasubdit Tracing Satgas Penanganan Covid-19 Kusmedi Priharto menuturkan, masa rawat pasien Covid yang panjang membuat tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) penuh. Kondisi ini membuat masyarakat kebingungan mencari tempat perawatan.

Meskipun, berdasarkan data, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 cukup tinggi di Indonesia, yakni 85 persen. Artinya, hanya 10-15 persen pasien Covid yang membutuhkan perawatan.

"Namun, perawatan pasien itu membutuhkan waktu antara 10 hari, bahkan ada yang memakan dua bulan hingga tiga bulan," kata Priharto, Senin.

Padahal, biasanya orang yang sakit dan menjalani perawatan medis cukup hanya selama dua atau tiga hari dirawat kemudian pulang. "Namun, lamanya perawatan ini membuat keterisian tempat tidur di rumah sakit betul-betul penuh karena harus menunggu pasien pulang," ujar Priharto.

Tingkat keterisian

Hingga Senin (18/1), ketersediaan tempat tidur untuk pasien Covid-19 di sejumlah daerah menipis. Bahkan, beberapa daerah terpaksa mengalihkan pasien positif Covid-19 yang tidak bergejala bukan di rumah sakit.

Di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, misalnya, saat ini tempat tidur hanya tersisa 1.035 dari kapasitas 5.994. Artinya, tingkat keterisian tempat tidur sudah mencapai 82,73 persen.

Koordinator Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran Mayjen TNI Tugas Ratmono mengaku, pihaknya mengubah kebijakan dengan hanya merawat pasien bergejala sedang di Wisma Atlet Kemayoran. Sedangkan, pasien tanpa gejala diarahkan ke tower 8 dan 9 yang berada di Pademangan, Jakarta Utara.

"Jadi, Wisma Atlet Kemayoran khusus untuk yang bergejala, sementara yang tanpa gejala atau ringan di tower 8 dan 9 di Pademangan. Sedangkan, pasien yang bergejala berat disiapkan ke rumah sakit rujukan Covid-19 di DKI Jakarta," ujarnya.

Di Provinsi Yogyakarta, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta agar pasien Covid-19 yang tidak bergejala atau dengan gejala ringan ditempatkan di shelter di balai desa maupun balai kelurahan. Kebijakan ini diambil untuk mengurangi terisinya kapasitas rumah sakit rujukan penanganan Covid-19.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Satuan Tugas Covid-19 (satuantugascovid19)

Ia meminta pemerintah kabupaten/kota memaksimalkan shelter untuk pasien Covid-19. "Kabupaten/kota juga diharapkan mampu memaksimalkan tempat untuk isolasi mandiri dengan mengupayakan melalui anggaran darurat yang dimiliki," ujarnya.

Di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Satgas Penanganan Covid-19 mengaku keterisian tempat tidur pasien sudah mencapai 90.72 persen atau sudah terisi 1.193 unit. Tempat tidur yang masih tersisa hanya sebanyak 122 unit.

"Keterisian kamar tidur RS itu di angka 90,72 persen. Sebanyak 1.193 tempat tidur terisi, masih ada 122 tempat tidur kosong. Kita menginginkan tidak terpakai," ujar Ketua Satgas Harian Penanganan Covid-19 Kota Bandung, Ema Sumarna, Senin.


×