Mahasiswa mengangkut bantuan penanganan Covid-19 di Pondok Pesantren Al Irsyad, Tegal, Senin (11/1). Bantuan sembako, alat kesehatan masker, vitamin, dan tablet disinfektan dari mahasiswa UPS dan PMI tersebut sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 d | ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
18 Jan 2021, 03:00 WIB

88 Santri di Cilacap Terpapar Covid-19

RMI NU berharap para ulama dan pengajar pesantren memperoleh prioritas vaksin Covid-19.

CILACAP – Klaster pesantren kembali terjadi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Setelah sebelumnya ratusan santri dari tiga pesantren terpapar Covid-19, kini puluhan santri di pondok pesantren yang ada di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, dinyatakan positif.

“Sejauh ini, ada 88 santri yang terpapar Covid 19,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap Pramesti Griana Dewi, Ahad (17/1).

Menurut Dewi, hasil tes sebanyak 88 santri yang positif Covid 19 ini, diketahui dari hasil tes yang dilakukan terhadap 147 santri. Sementara 54 santri lainnya dinyatakan negatif, dan lima orang masih menunggu hasil tes. Selain itu, kata dia, ada 10 santri yang harus melakukan uji usap ulang untuk memastikan hasilnya.

Dewi menyebutkan, setelah diperoleh hasil tersebut, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran kasus tersebut. Antara lain dengan penyemprotan disinfektan di lingkungan pesantren, dan juga menempatkan santri yang positif di ruang isolasi.

Terkait

Camat Majenang Iskandar Zulkarnain mengatakan, sebagian besar santri yang terpapar Covid-19 tidak menunjukkan gejala. Meski demikian, untuk menghindari penyebaran penyakit tersebut pada santri lain dan masyarakat sekitar, dilakukan tindakan isolasi pada santri yang menunjukkan hasil positif.

“Petugas kesehatan sudah memilah-milah, mana santri yang mengalami gejala dan harus dirawat di rumah sakit, dan juga santri yang tidak menunjukkan gejala,” katanya.

Dia menyatakan, santri dengan hasil positif Covid-19 yang tidak bergejala, diisolasi di asrama santri di pesantren bersangkutan. Untuk itu, Ketua Gugus Tugas Covid-19 pesantren dan instansi terkait melakukan pemantauan terhadap kondisi para santri.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih mengatakan sampai saat ini kasus Covid-19 di Indonesia belum terkendali. Hal ini dilihat dari angka kasus tersebut semakin meningkat setiap harinya.

Daeng melanjutkan, sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan Covid-19. Lalu, protokol kesehatan secara budaya belum bisa membendung dan malah membuat kasus semakin tinggi. Sehingga yang diandalkan untuk mengatasi Covid-19 sekarang hanyalah vaksin.

Dia menambahkan, sampai saat ini pemerintah belum bisa mengendalikan angka kasus Covid-19. Masyarakat yang diimbau pun susah diatur karena budaya Indonesia yang terbiasa bersosialisasi. Ia menyarankan pejabat maupun masyarakat harus bekerja sama dalam hal ini untuk menurunkan angka kasus Covid-19.

“Pejabat publik yang mengambil keputusan harus banyak baca jurnal ilmiah untuk mengatasi Covid-19 ini. Lalu, masyarakat pun sama harus mengakses informasi dari sumber yang terpercaya,” kata dia.

Vaksinasi

Ketua Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH. Abdul Gaffar Rozin berharap para ulama dan pengajar pesantren memperoleh prioritas dalam pemberian vaksin Covid-19. Ia berharap vaksinasi dapat dilakukan kepada para ulama dan ustaz setelah vaksinasi terhadap tenaga medis selesai.

"Kami berharap para kiai dan asatiz yang berisiko mendapatkan prioritas vaksin sebagai pelayanan publik, semoga setelah nakes," kata kiai Rozin kepada Republika, Kamis (14/1). 

photo
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berfoto bersama sejumlah pejabat, tokoh keagamaan dan perwakilan provesi yang mengikuti vaksinasi Covid-19, di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Kota Bandung, Kamis (14/1). - (Edi Yusuf/Republika)

Hal ini mengingat banyaknya santri dan pengurus pesantren yang sempat terinfeksi Covid-19. Gus Rozin mengatakan RMI NU juga terus mendorong setiap pesantren terus mentaati protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Gus Rozin mengatakan saat ini pihaknya memberdayakan satgas pesantren dengan pendampingan RMI NU.

Selain itu RMI NU dan Perhimpunan Dokter NU juga menyiagakan 90 dokter sukarelawan untuk mendampingi pesantren san menerima konsultasi kesehatan santri dan pengurus pesantren  baik secara langsung maupun daring. "Sampai saat ini sudah 260 kyai-nyai wafat selama pandemi. Tentu tidak semua diakibatkan covid, tapi angka ini sungguh tinggi sekali," katanya.

Sementara itu meski vaksin Covid-19 sudah didistribusikan, Gus Rozin berharap para santri di lingkungan pesantren tetap menerapkan protokol kesehatan hingga beberapa bulan ke depan.

"Walaupun vaksin sudah didistribusikan, tetapi RMI tidak boleh berharap para santri akan divaksin dalam waktu dekat. Kami masih mengedepankan penguatan protokol setidaknya sampai 8-12 bulan ke depan. Tapi kami berharap para kyai dan asatidz yang beresiko mendapatkan prioritas vaksin," katanya.


×