Suasana Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (12/1/2021). Kementerian Perdagangan menargetkan neraca perdagangan di 2021 akan mengalami surplus US$ 1 miliar, ekspor riil barang dan jasa tumbuh 4,2 persen, ekspor nonmigas tumbuh 6,3 persen d | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Ekonomi

15 Jan 2021, 11:07 WIB

Di Tengah Pandemi Covid-19, Ekspor RI Catat Rekor

Pertumbuhan ekspor terjadi pada industri pengolahan. Kontribusinya 78,10 persen terhadap total ekspor bulan lalu.

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor bulanan pada Desember 2020 mencatatkan rekor tertinggi selama tujuh tahun terakhir. Pemulihan beberapa mitra dagang, seperti Amerika Serikat (AS), menyebabkan adanya peningkatan permintaan dan nilai komoditas ekspor Indonesia.

Dalam rilis terbarunya, BPS menyebutkan, kinerja ekspor pada bulan lalu mencapai 16,54 miliar dolar AS. Nilai itu naik 8,39 persen dibandingkan November 2020 yang sebesar 15,26 miliar dolar AS. Dibandingkan Desember 2019 yang sebesar 14,43 miliar dolar AS, ekspor bulan lalu juga mencatatkan pertumbuhan 14,63 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, nilai ekspor bulanan pada Desember 2020 itu merupakan yang tertinggi sejak Desember 2013. "Pada waktu itu, nilainya 16,97 miliar dolar AS," katanya dalam konferensi pers secara virtual pada Jumat (15/1).

Kinerja ekspor yang positif ini menjadi faktor utama neraca perdagangan Indonesia pada bulan lalu mencatatkan surplus 2,1 miliar dolar AS.

Pertumbuhan ekspor terutama terjadi pada industri pengolahan yang memberikan kontribusi 78,10 persen terhadap total ekspor bulan lalu. Kenaikannya adalah 6,79 persen dibandingkan November 2020 dan 19,14 persen dibandingkan Desember 2019.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Pusat Statistik (bps_statistics)

Berdasarkan negara, peningkatan terbesar ekspor nonmigas terutama untuk pengiriman ke AS. Kenaikannya mencapai 265,9 juta dolar AS dibandingkan November 2020. Salah satu komoditas dengan kontribusi besar adalah pakaian dan aksesorisnya dalam bentuk rajutan yang mengalami peningkatan 59,9 juta dolar AS.

Selain itu, pakaian dan aksesorisnya bukan rajutan serta lemak dan minyak hewan nabati juga mencatatkan kenaikan masing-masing 42,7 juta dolar AS dan 31,5 juta dolar AS.

Dari sisi nilai, mesin dan perlengkapan elektrik menjadi komoditas yang mencatatkan kenaikan ekspor paling signifikan. Pertumbuhannya 12,70 persen dibandingkan November 2020, menjadi 977 juta dolar AS pada Desember

Sementara itu, dari sisi volume, kendaraan dan bagiannya mengalami kenaikan ekspor tertinggi. Pertumbuhannya 32,97 persen, menjadi 107,1 ribu ton dari 80,5 ribu ton pada November 2020.

Suhariyanto menekankan, perbaikan kinerja ekspor ke depannya akan sangat tergantung pada penanganan kesehatan di Indonesia maupun negara tujuan utama. Vaksinasi diharapkan dapat memperbaiki krisis kesehatan saat ini yang bisa mendorong pemulihan kegiatan perekonomian, sehingga ekspor meningkat.

"Dengan naiknya permintaan berbagai komoditas dari negara tujuan utama, juga peningkatan harga komoditas dan penanganan kesehatan di banyak negara, kita harap ekspor ke depan lebih menggembirakan," tuturnya.

Neraca perdagangan

Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2020 mencatatkan surplus 2,10 miliar dolar AS. Realisasi ini berbeda dari pola tahun-tahun sebelumnya yang biasa mengalami defisit.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, biasanya, kinerja impor dan ekspor mengalami penurunan pada akhir tahun mengingat banyak hari libur. "Tapi, pattern Desember 2020 ini terbalik dan tentunya sangat menggembirakan," ucapnya dalam konferensi pers secara virtual pada Jumat (15/1).

Surplus pada bulan lalu terutama dikarenakan adanya perbaikan kinerja ekspor yang mengalami pertumbuhan 14,63 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 16,54 miliar dolar AS. Pertumbuhan positif terjadi pada seluruh sektor, kecuali migas yang mengalami kontraksi 10,10 persen.

Industri pengolahan yang berkontribusi hingga 78,10 persen terhadap ekspor Desember 2020 mengalami surplus tertinggi, yakni 19,14 persen, menjadi 12,92 miliar dolar AS. Sektor pertanian juga mencatatkan pertumbuhan positif 16,61 persen, menjadi 430 juta dolar AS.

"Kalau dilihat komoditasnya, penyebab utama surplus 2,1 miliar dolar AS adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja," tutur Suhariyanto.

photo
Data BPS mengenai perkembangan ekspor Desember 2020 - (BPS.go.id)

Di sisi lain, nilai impor turun tipis, 0,47 persen, menjadi 14,44 miliar dolar AS. Kontraksi hanya terjadi pada bahan baku/ penolong. Meski turun tipis 2,02 persen, kontribusi yang mencapai 70,60 persen terhadap total impor menyebabkan penurunan impor pada barang ini memberikan dampak signifikan.

Selama Desember, neraca perdagangan nonmigas Indonesia masih mengalami surplus dengan banyak negara. Di antaranya, Amerika Serikat (AS) dengan surplus 1,2 miliar dolar AS dan India yang surplus 866 juta dolar AS.

Sebaliknya, neraca perdagangan nonmigas Indonesia mencatatkan defisit dengan Cina. Pada bulan lalu, defisitnya mencapai 1,1 miliar dolar AS karena adanya peningkatan impor dari Cina sebesar 550 juta dolar AS. "Kita juga defisit dengan Australia 260 juta dolar AS dan Brasil 203 juta dolar AS," kata Suhariyanto.


×