Petugas PMI Kabupaten Sumedang menuju titik penemuan jenazah korban bencana tanah longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (12/1). | ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
13 Jan 2021, 03:00 WIB

Korban Meninggal Longsor Sumedang Bertambah

Peneliti ungkap potensi longsor susulan di Desa Cihanjuang, Sumedang.

SUMEDANG—Korban meninggal akibat longsor di Dusun Bojong Kondang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat terus bertambah. Satu korban berjenis kelamin laki-laki kembali ditemukan tim SAR pada Selasa (12/1) sekitar pukul 09.55 WIB.

Kapolsek Cimanggung, Kompol Herdis Suhardiman menuturkan, setelah dilakukan identifikasi, korban meninggal yang terakhir ditemukan ialah Kusnandar (57 tahun) warga Dusun Bojong Kondang, Desa Cihanjuang. Herdis menuturkan, jenazah korban kemudian diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan. ''Setelah teridentifikasi jenazah langsung diserahkan ke keluarga dan dimakamkan,'' ujar dia, Selasa (12/1).

Saat ini, upaya pencarian masih terus dilakukan dengan melibatkan ratusan petugas dan relawan. ''Jumlah personel terus ditambah untuk membantu proses pencarian dan evakuasi. Bahkan ada tambahan relawan yang membawa anjing pelacak untuk membantu pencarian,” kata dia.

Penemuan jenazah pada Selasa pagi menambah daftar penemuan dua jenazah pada Senin (11/1). Kepala Kantor SAR Bandung Deden Ridwansyah mengatakan tim SAR menemukan tiga korban pada waktu yang berbeda.

Terkait

Pada Senin (11/1) pukul 21.05 WIB, pihaknya menemukan korban berjenis kelamin perempuan, dan pada pukul 22.40 WIB tim SAR kembali menemukan korban berjenis kelamin laki-laki.

photo
Petugas meminta keluarga korban bencana tanah longsor untuk meninggalkan lokasi bencana di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (12/1). Untuk mempercepat proses evakuasi pencarian korban longsor, petugas melarang warga dan keluarga korban untuk mendekati lokasi bencana. - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Deden mengatakan, dengan penambahan penemuan korban itu, kini total korban meninggal dunia berjumlah 16 orang. Lalu hingga kini masih ada 23 orang yang hilang dan dilakukan pencarian. "(Data) berkembang dan berubah sewaktu-waktu, tergantung laporan dari masyarakat atau keluarga korban," kata Deden, Selasa. 

Dalam proses pencarian, tim SAR menggunakan dua unit alat berat, dan peralatan lainnya, termasuk alat pelindung diri untuk mengevakuasi korban. "Total kekuatan personel unsur SAR yang terdaftar di posko sejumlah 1.108 orang," kata Deden.

Pada Selasa sore, Tim SAR Gabungan menghentikan sementara pencarian terhadap korban yang diduga masih tertimbun longsor akibat hujan deras. Deden mengatakan, jika sudah reda dan memungkinkan maka pencarian oleh tim SAR gabungan dapat dilanjutkan.

Ia mengatakan, tim SAR gabungan telah melakukan pencarian sejak pukul 08.00 WIB dengan membagi menjadi tiga sektor. Yaitu, sektor satu di lokasi hajatan warga, sektor dua di mesjid An-Nur dan sektor tiga di lapangan voli. Diduga pada tiga sektor tersebut terdapat banyak korban yang masih tertimbun material longsor.

photo
Petugas PMI Kabupaten Sumedang mengevakuasi jenazah korban bencana tanah longsor kedalam mobil ambulans di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (12/1). - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Deden mengatakan total jumlah korban longsor sebanyak 64 orang terdiri dari korban meninggal dunia sebanyak 16 orang, selamat sebanyak 25 orang dan dalam pencarian sebanyak 23 orang. Namun, daftar orang dicari bertambah satu orang setelah keluarga melaporkan ke tim.

Potensi longsor susulan

Sementara, Dosen Fakultas Teknik Geologi Unpad Dicky Muslim, mengatakan, dilihat dari jenis tanah dan retakannya ditambah dengan curah hujan yang tinggi, dikhawatirkan akan terjadi longsor susulan di Desa Cihanjuang. Ini terlihat dari masih adanya pergerakan tanah di sekitar mahkota longsor.

Selain itu, ditambah dengan adanya kemungkinan terjadi infiltrasi di saluran air yang berada pada sisi utara perumahan. Riset tim Unpad menemukan, wilayah yang terjadi longsor tersebut memiliki kontur lahan yang curam. “Tadinya wilayah ini bekas tambang batu dan tanah urugan, lalu kemudian diratakan dan dijadikan perumahan,” ujar Dicky, Selasa (12/1). 

photo
Foto udara bencana tanah longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (12/1). Tim SAR gabungan masih mencari sedikitnya 24 korban hilang yang telah terdata akibat bencana tanah longsor yang terjadi pada Sabtu (9/1) lalu. - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Secara geologi, kata dia, struktur tanah dan batuan di wilayah Perumahan SBG Desa Cihanjuang termasuk ke dalam bagian batuan vulkanik Qyu. Batuan vulkanik Qyu merupakan produk batuan vulkanik muda yang belum bisa dipisahkan, sehingga masih bercampur antara lapisan keras dengan yang halus.

Karena termasuk batuan vulkanik muda, lapisan tanah dan batuan ini cukup rentan. Dicky mengatakan, di wilayah utara dari perumahan SBG ada bekas galian tambang yang dibangun menjadi kawasan perumahan. Berdasarkan penuturan warga sekitar, di lokasi tersebut ada air terjun.

Secara geologi, keberadaan air terjun tersebut menandakan adanya sesar atau patahan di wilayah tersebut. “Sehingga kalau ada hujan besar, gempa, akan ada pembebanan berlebih yang kemungkinan akan terjadi longsor,” katanya.

Longsor Cihanjuang:

Meninggal: 16 orang

Selamat: 25 orang

Hilang: 23 orang

Total: 64 orang

Sumber: Tim SAR Bandung

Banjir Solok Selatan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat mencatat 1.554 jiwa dari 485 kepala keluarga terdampak banjir. Meskipun, menurut Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Solok Selatan, Romi Aprijal banjir mulai surut pada Selasa (12/1).

“Sekarang air sudah surut di semua titik banjir. Total rumah yang terendam akibat luapan sungai Batang Suliti dan Batang Pangian sebanyak 463 unit yang tersebar di dua kecamatan,” kata Romi Aprijal di Padang Aro, Selasa (12/1).

photo
Banjir genangi warga Kota Solok sejak Selasa (12/1) dini hari WIB. - (Febrian Fachri/Republika)

Dia menjelaskan untuk luapan Sungai Batang Pangian warga yang terdampak di jorong Taratak dan jorong Pasa Sungai Sungkai, Kecamatan Sangir Balai Janggo dengan ketinggian air 30-100 centimeter. Untuk Jorong Pasar Sungai Sungkai rumah yang terendam sebanyak 45 unit dengan 47 kepala keluarga serta 185 jiwa. Sedangkan di Jorong Taratak Sungai Sungkai rumah yang terendam 40 unit yang terdiri dari 37 kepala keluarga dengan 144 jiwa.

Sedangkan luapan Batang Suliti dengan ketinggian air 50-100 centimeter mengakibatkan 350 unit rumah di Nagari Pasar Muara Labuh terendam yang terdapat 375 kepala keluarga dengan 1.125 jiwa. Selanjutnya di Nagari Pasir Talang Selatan, Kecamatan Sungai Pagu yang terendam 28 rumah dengan 28 kepala keluarga dan 100 Jiwa.

Dia mengatakan air luapan sungai Batang Pangian dan Batang Suliti mulai memasuki permukiman warga pada Selasa pukul 01.30 WIB. Kedua sungai tersebut meluap akibat curah hujan yang tinggi sejak Senin dan mengakibatkan air sungai melebihi kapasitas sehingga meluap yang mengakibatkan banjir genangan atau banjir luapan.

photo
Banjir genangi warga Kota Solok sejak Selasa (12/1) dini hari WIB. - (Febrian Fachri/Republika)

Masih di Solok Selatan, pantauan Republika hingga Selasa siang, warga di sejumlah titik Kota Solok masih berupaya membersihkan rumah mereka dari genangan air. Ada yang membersihkan dengan menimba, menyapu sampai harus dibantu alat pompa air milik Damkar Kota Solok.

"Airnya mulai naik jam 2 dini hari tadi. Kalau hujan udah sejak kemarin," kata salah seorang warga kelurahan IX Korong, Kecamatan Lubuk Sikarah, Jusmardi kepada Republika, Selasa (12/1).

Jurmardi mengatakan ini adalah banjir terbesar dialami warga Kota Solok. Di mana ketinggian air mencapai 40 senti meter. Banjir merupakan luapan air Sungai Batang Lembang yang hanya berjarak hanya beberapa meter dari rumah warga. Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Barat, Erman Rahman mengatakan, di Kota Solok banjir menggenangi Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjuang Harapan.

"Pantauan tim di lapangan, korban jiwa alhamdulillah nihil," ujar Erman. 

Banjir juga menerjang wilayah Pamekasan, Jawa Timur dan Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Di Pamekasan, banjir memutus jembatan penghubung dua kecamatan. Sedangkan di Tapin, banjir menggenangi ratusan rumah yang dihuni 255 jiwa.


×