Suasana kawasan Alun-alun Kota Bandung lebih lengang di saat pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan pengawasan ketat petugas Satpol PP, Senin (11/1). | Edi Yusuf/Republika
12 Jan 2021, 03:05 WIB

Menimbang Efek Pengetatan dan Vaksinasi

Langkah pengendalian Covid-19 karena manusia yang melakukannya tidak konsisten.

Pemerintah memulai vaksinasi Covid-19, bila sesuai jadwal, pada Rabu esok. Simbolisme vaksinasi akan dilakukan dengan menyuntik Presiden Joko Widodo dan sejumlah pihak perwakilan, terutama perwakilan dari tenaga kesehatan. Vaksinasi dilakukan di tengah pengetatan sosial kembali di sejumlah daerah. Ini menyusul lonjakan angka kasus harian Covid-19 yang makin tak terkendali sejak awal tahun. 

Situasi kasus harian dan tingkat positivitas di Indonesia memang memburuk. Angka kasus harian sudah menembus 10 ribu kasus per hari. Baik angka pusat maupun di daerah menyajikan realitas yang cukup mengerikan ini. Kasus harian yang tak terkendali ini menuju total kasus satu juta, yang diprediksi akan tercapai pada Februari pekan pertama atau pekan kedua.

Satu tahun Covid-19 di negara ini situasinya justru makin mengerikan. Terlebih kita melihat negara tetangga bisa mengatasi atau membendung penyebaran penyakit menular ini. Indonesia justru makin meluas.

 
Kasus harian yang tak terkendali ini menuju total kasus satu juta, yang diprediksi akan tercapai pada Februari pekan pertama atau pekan kedua.
 
 

Tingkat positivitas pun sama mengkhawatirkannya. Dari jumlah orang yang dites dan dari sampel yang diambil rumah sakit, satu dari tiga orang atau satu dari empat orang yang diperiksa dipastikan positif. 

Terkait

Jadilah kita melihat sejumlah daerah menyediakan rumah sakit lapangan. Antrean pasien masuk ruang gawat darurat makin panjang. Kini ditambah dengan berebut alat ventilator bagi pasien yang butuh perawatan lanjutan. Pada saat yang sama, jumlah dokter dan perawat yang bertugas sudah maksimal. Mereka sudah bekerja lebih dari maksimal.

Pemerintah bisa saja berdalih bahwa jumlah pasien sembuh di Indonesia cukup tinggi. Saat ini jumlah pasien sembuh per hari bisa rerata 4.000 sampai 5.000 orang. Namun, kita melihat kasus harian yang jumlahnya dua kali lipat dari itu. Jumlah pasien yang masuk lebih cepat daripada jumlah pasien yang sembuh. 

Apakah pengetatan sosial, yang kini berlaku, bisa menahan lonjakan kasus itu? Secara semu, bisa. Ini sudah terjadi beberapa kali. Pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau apa pun namanya, yang beberapa kali dilakukan pemerintah, sempat menunjukkan penurunan kasus harian. 

 
Langkah pengendalian Covid-19 selalu gagal bukan karena tidak sangkil dan mangkus, melainkan karena manusia yang melakukannya tidak konsisten.
 
 

Namun, penurunan kasus di tengah PSBB itu berlangsung singkat. Dan umumnya, terjadi karena jumlah orang yang dites dan sampel yang diterima justru berkurang! PSBB usai, justru kasus harian makin melonjak. Tidak pernah ada data yang menunjukkan laju kasus pasca-PSBB berbalik arah. Karena nyatanya, kasus harian Covid-19 di Indonesia terus bertambah besar.

Artinya apa? Kita bisa berandai, dengan melihat fakta tahun lalu, bahwa PSBB yang berlaku dalam dua pekan ini tidak akan sukses menahan laju penyebaran Covid-19. Lalu, apakah ini kebijakan yang sia-sia? Tentu tidak. 

Bila PSBB itu tidak dilakukan dengan sebuah kebijakan pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid-19 yang lebih baik dari tahun lalu. Tetapi, bila kebijakannya tetap sama, yakni kencang pada saat PSBB dan kendor setelah lepas dari PSBB, ini seperti mengulang-ulang saja.

Langkah pengendalian Covid-19 selalu gagal bukan karena tidak sangkil dan mangkus, melainkan karena manusia yang melakukannya tidak konsisten. Publik tidak konsisten dan makin abai. Pemerintah tidak konsisten karena, entah apa alasannya, apakah perekonomian atau ada alasan lain.

 
Tapi realitasnya, kita belum akan melihat suatu tren penurunan kasus harian secara signifikan dalam satu sampai tiga bulan ke depan.
 
 

Apakah vaksinasi bisa menolong dalam waktu cepat? Kita berharap, iya! Namun, hasil dari sejumlah negara yang melakukan vaksinasi lebih dulu sejak Desember, belum ada laporan komprehensif yang memperlihatkan adanya penurunan drastis kasus harian. Penurunan kasus lebih terutama karena pengendalian dan pembatasan sosial di masing-masing negara.

Dalam kasus Indonesia, vaksinasi awal ditujukan bagi tenaga kesehatan dan sejumlah pihak yang bertugas di garis depan, seperti aparat. Dengan porsi populasi yang amat besar, meskipun vaksinasi berlangsung masif di awal, vaksinasi awal ini efeknya amat terbatas. 

Tapi realitasnya, kita belum akan melihat suatu tren penurunan kasus harian secara signifikan dalam satu sampai tiga bulan ke depan. Kecuali pemerintah tiba-tiba amat serius menegakkan pembatasan sosial serta disiplin, dan warga patuh. 


×