Petugas gabungan mengevakuasi korban yang tertimbun longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Ahad (10/1). Longsor yang disebabkan oleh kondisi tanah tidak stabil dan curah hujan tinggi pada Sabtu (9/1) mengakibatkan sekitar 14 | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
11 Jan 2021, 03:15 WIB

Relokasi Kawasan Longsor Cimanggung Jadi Keharusan

Setidaknya 13 orang meninggal dalam longsor Cimanggung. Diduga masih ada yang tertimbun longsor.

SUMEDANG – Longsor yang terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada Sabtu (9/1) sore, menewaskan 13 orang warga setempat. Dari hasil evaluasi, relokasi warga harus dilakukan karena daerah tersebut rawan longsor dan tidak layak dijadikan permukiman.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta warga setempat bersedia direlokasi. Pilihan itu harus diambil karena daerah tersebut telah diputuskan masuk zona merah. “Masyarakat harus ikhlas melepaskan rumah dan tanahnya untuk direlokasi di tempat yang baru,” kata Doni saat meninjau lokasi di Sumedang, Ahad (10/1).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menemani Doni Monardo saat meninjau lokasi longsor juga meminta warga setempat rela untuk direlokasi. Ia mengatakan, sebuah lahan tidak serta merta bisa dijadikan permukiman, apalagi jika daerah tersebut berada di dataran yang tidak stabil.

photo
Petugas gabungan mengevakuasi korban yang tertimbun longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Ahad (10/1). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

“Ini salah satu contoh terhadap lahan yang rawan untuk ditinggali,” ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil. Selain itu, Emil meminta pengembang permukiman bisa membangun kawasan hunian dengan memperhatikan aspek kelaikan dan kemanan, karena tidak semua lahan layak ditinggali dan tidak bisa dipaksakan.

Terkait

Longsor melanda sebuah perumahan di tebing sebuah bukit Dusun Bojong Kondang, Desa Cihanjuang, pada Sabtu (9/1) sekitar pukul 17.00 WIB. Dalam longsor pertama, belasan rumah warga tertimbuh longsor. Sekitar pukul 19.30 WIB  terjadi longsor susulan atau kedua. Saat longsor susulan inilah banyak warga bersama petugas yang tengah mengevakuasi menjadi korban tertimbun longsor.

Saat longsor susulan, banyak warga sekitar yang ikut membantu evakuasi dan hanya sekadar menonton. Setidaknya belasan orang meninggal dunia dan masih ada yang sedang dalam pencarian yang diduga tertimbun longsor. 150 orang warga desa yang selamat sudah dievakuasi ke posko pengungsian.

photo
Petugas SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban tanah longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Ahad (10/1). - (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Kepala Kantor SAR Bandung, Deden Ridwansyah, 11 orang yang tertimbun dalam keadaan meninggal dunia sebelumnya telah ditemukan pukul 01.22 dini hari, Ahad (10/1). Tim SAR Gabungan kemudian menemukan tambahan dua jenazah berjenis kelamin laki-laki korban longsor pada Ahad siang.

Hingga perkembangan terakhir yang diterima Republika, ditemukannya total sudah 13 jenazah yang berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.

Menurut Deden, total warga yang tertimbun 22 orang, di antaranya 3 orang selamat dan 6 orang masih dilakukan pencarian.

Longsor susulan

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan petugas evakuasi terhadap potensi longsor susulan di bekas longsor di Desa Cihanjuang. Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Kasbani mengingatkan telah terbangun jalur longsor dan curah hujan yang masih tinggi di lokasi.

Oleh karena itu, pihaknya merekomendasikan beberapa hal untuk menghindari korban jiwa dan kerugian harta benda yang lebih besar. “Warga, aparat maupun tim yang bertugas untuk evakuasi harus mengantisipasi potensi longsoran susulan mengingat daerah tersebut masih rawan longsor serta curah hujan yang tinggi,” ujar dia.

photo
Longsor yang disebabkan oleh kondisi tanah tidak stabil dan curah hujan tinggi pada Sabtu (9/1) mengakibatkan sekitar 14 rumah rusak berat dan 13 orang meninggal dunia serta belasan orang lainnya masih dalam pencarian - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Dia melanjutkan, masyarakat di sekitar lokasi bencana atau bahaya memang harus mengungsi atau diungsikan ke tempat yang lebih aman. Selain itu, jika terjadi hujan maka sebaiknya aktivitas di sekitar lokasi bencana dihentikan dan warga diungsikan untuk sementara.

Relawan Dompet Dhuafa (DD) Jawa Barat bersama tim penyelamat gabungan Basarnas dan BNPB terus melakukan evakuasi korban di titik longsor dengan alat berat. Semua itu dilakukan dengan terus berkoordinasi bersama Basarnas dan BNPB untuk memastikan keselamatan bersama dan efektivitas dalam evakuasi.

“Sejauh ini tim Dompet Dhuafa Jabar terus berkoordinasi dengan Basarnas dan BNPB dalam evakuasi korban yang tertimbun longsor,” kata Pimpinan Dompet Dhuafa Jabar, Andriansyah.

Kementerian Sosial (Kemensos) juga mengirimkan bantuan sebesar Rp 1,05 miliar kepada korban tanah longsor di Desa Cihanjuang. Total bantuan tersebut terdiri dari bantuan logistik tanggap darurat sebesar Rp 888 juta, beras reguler dengan harga Rp 31,8 juta, santunan ahli waris untuk 11 orang sebesar Rp 15 juta per orang dengan total Rp 165 juta.

Kepala Badan Pendidikan Penelitian dan Penyuluhan Sosial, Syahabudin, mengatakan, akan mengerahkan Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk membantu proses evakuasi korban. “Fokus pemerintah dalam bencana ini untuk memastikan kebutuhan kesehatan dan kebutuhan sehari-hari para korban selamat bisa terpenuhi,” kata Syahabudin.

Sumber : Meiliza Laveda


×