Ilustrasi para pemain Tottenham | EPA-EFE/Clive Rose

Olahraga

07 Jan 2021, 06:31 WIB

Tottenham Menuju Pengujung Paceklik Gelar

Sudah 13 tahun lamanya Tottenham tak pernah mengangkat trofi.

LONDON — “Sangat luar biasa untuk berada di final pertama.” Kalimat yang disampaikan bek Tottenham Hotspur Eric Dier itu menjadi ekspresi kebahagiaan atas kesuksesan meraih final pertama Piala Liga atau Piala Carabao.

Tiket final itu didapat setelah Tottenham mengalahkan Brentford 2-0 pada laga semifinal yang digelar di Stadion Tottenham Hotspur, Rabu (6/1) dini hari WIB. Kini, ambisi menatap final itu akan makin berlipat karena sudah 13 tahun lamanya skuad the Lilywhite tak pernah mengangkat trofi. Kali terakhir gelar didapat pada saat Tottenham mengalahkan Chelsea dalam turnamen yang sama pada 2008.

Untuk menuntaskan paceklik gelar di angka keramat 13 itu, tentunya masih harus menunggu siapa lawan yang akan dihadapi Tottenham di Stadion Wembley pada 25 April mendatang.

Namun, yang pasti, lawan yang bakal dihadapi di final Piala Liga bukanlah tim sembarangan. Sang penantang itu antara Manchester United atau Manchester City yang saat berita ini ditulis baru menjalani laga pada Kamis (7/1) dini hari WIB.

Walau tak memedulikan siapa lawan yang akan dihadapi, pelatih Tottenham Jose Mourinho seperti biasa langsung umbar kebahagiaan. Ambisinya pun menggelembung untuk dapat memutus puasa gelar yang telah lama diderita Tottenham.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Tottenham Hotspur (spursofficial)

"Tidak ada rahasia. Saya datang ke Inggris pada 2004 dan saya ingat pada periode itu saya harus mempelajari arti piala di sini dan saya selalu menganggapnya serius," kata Mourinho purnalaga dikutip Goal, Rabu (6/1).

Kegembiraan Mourinho ini memang patut untuk diluapkan. Hal itu mengingat pelatih asal Portugal ini memiliki rekam jejak yang sangat baik saat tampil di partai puncak Piala Liga ini. Tercatat, Mourinho telah memegang rekor 100 persen di final Piala Liga, dengan menyapu empat edisi final dengan kemenangan, yakni pada 2005, 2007, dan 2015 bersama Chelsea, serta 2017 bersama Manchester United.

Pada laga semifinal itu, Mourinho patut mengapresiasi seluruh penampilan anak asuhnya. Melawan tim beda kasta dari Divisi Championship, Brentford, Tottenham menunjukkan kemampuan terbaiknya. Gol pembuka Tottenham dicetak lewat sundulan Moussa Sissoko. Gol berikutnya disumbang oleh Son Heung-min. Laga tersebut juga diwarnai kartu merah yang diberikan kepada pemain Brentford, Josh Dasilva, setelah melanggar secara keras Pierre Emire-Hojbjreg.

Bagi Sissoko, kemenangan ini juga memberikannya kebahagiaan besar. Maklum saja, gol ke gawang Brentford ini telah mengakhiri kemandulannya dalam 36 penampilan bersama klub asal London ini. Kali terakhir ia mencetak gol untuk Tottenham terjadi pada saat melawan Burnley pada Desember 2019.

“Kami bermain menghadapi tim yang bagus, tetapi kami memang pantas mendapat kemenangan ini," kata Sissoko dikutip dari laman //BBC// seusai pertandingan.

Terkait calon lawan yang akan dihadapi di Wembey nanti, Sissoko sudah tak lagi peduli. Ia hanya bertekad untuk mengulangi kemenangan ini sekaligus mengangkat trofi bersama rekan-rekannya.

"Kami menuju Wembley dan akan menghadapi satu di antara Manchester United atau Manchester City. Rasanya kami sudah tak peduli siapa pun lawannya, kami akan siap," ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan Dier. Ia mengungkapkan rekan-rekannya sangat membutuhkan trofi, termasuk ambisi pribadinya yang sudah lama menantikan momentum mengangkat trofi juara.

“Ada banyak sepak bola yang harus dimainkan sebelumnya, tetapi (kemenangan) ini sangat luar biasa untuk berada di final pertama,” katanya.

Sementara itu, Pelatih Brentford Thomas Frank tetap bangga kepada timnya. Ia juga berharap pendukungnya akan tetap bangga setelah menyaksikan penampilan pemain di lapangan. Frank mengeklaim, pasukannya mampu mengimbangi permainan Tottenham.

Menurut Frank timnya merespons dengan baik serangan yang dilakukan Tottenham. Ia menganggap wajar dengan kekalahan tersebut. Pasalnya, dibutuhkan jarak yang tak terlalu jauh untuk memenangkan pertandingan melawan tim sekelas Tottenham.

“Jika ingin memenangkan pertandingan seperti ini, Anda membutuhkan margin dan kami tidak memiliki margin. Kemudian, mereka menunjukkan kelas mereka dengan gol kedua dan setelah itu permainan berakhir,” ujarnya menjelaskan.


×