News
Korban Tewas DBD Kian Banyak
Oleh Korban Tewas DBD Kian Banyak
JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Ke menkes) merilis penderita penyakit demam berdarah dengue yang meninggal dunia mulai 1 Januari 2019 sampai Kamis (31/1) sedikitnya 145 jiwa dan jumlah kasus men capai 15.132 orang. Data tersebut menunjukkan peningkatan korban meninggal sejak lansiran pada Rabu (30/1).
"Dari laporan 34 provinsi, jumlah kasus DBD sebanyak 15.132 orang dan 145 jiwa meninggal dunia. Provinsi yang mempunyai tren tinggi kasus suspectdengue adalah Jawa Timur (Jatim), kemudian Jawa Barat (Ja bar), Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara (Sulut), Lampung, dan DKI Jakarta," ujar Kepa la Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyara kat Kemenkes Wi dyawati saat ditemui di Kemenkes, Kamis (31/1).
Jumlah itu meningkat 12 kematian diban dingkan data hingga Selasa (29/1) sebanyak 133 jiwa.
Peningkatan angka kematian itu ter catat terjadi di Jawa Timur yang meningkat men jadi 52 jiwa dibandingkan 47 orang pada data sehari sebelumnya. Sementara di Jawa Barat, sehari sebelumnya kematian tercatat sebanyak 11 orang dan kini menjadi 14 jiwa. Di Kalimantan Barat, jumlah korban meninggal juga bertambah seorang. Lalu, kematian perdana tercatat satu di Bengkulu dan dua di Lam pung. Selain itu, angka kematian di pro vinsi-provinsi lain masih tetap seturut catatan Selasa (29/1).
"Makanya, kami terus edukasi kepada masyarakat Indonesia. Misalnya, panas selama tiga hari langsung dibawa ke pusat layanan kesehatan".Widyawati
Widyawati menga ta kan, kematian terba nyak dialami pasien pada usia 5-14 tahun se banyak 57,89 persen dari total angka kematian. Kemudian, menyusul di umur 15-44 tahun 19,3 persen, kurang dari satu ta hun 1,75 persen, satu sampai empat tahun 12,28 persen, dan lebih dari 44 tahun 8,77 persen.
Disinggung mengenai kematian yang terus bertambah, ia menyebut banyak kemungkinan, seperti kondisi penderita saat dibawa ke fasilitas kesehatan sudah syokatau mengalami penurunan kesadaran dan terlambat dirawat sehingga tak tertolong. "Makanya, kami terus edukasi kepada masyarakat Indonesia. Misalnya, panas selama tiga hari langsung dibawa ke pusat layanan kesehatan," kata dia.
Kemenkes juga telah mengeluarkan seruan kepada gubernur ten tang kesiapsiagaan pening katan kasus DBD, menggerak kan ma syarakat melakukan pemberan tasan sarang nyamuk (PSN)3M Plus dan mengaktifkan kelom pok kerja DBD di setiap kabupaten dan kota. Ia mengklaim, pihak rumah sakit juga menyatakan kepada Kemenkes soal kesiapan menerima pasien DBD. "Kalau pun ada antrean masuk RS, akan dirujuk," ujarnya.
Sejauh ini, kabupaten/kota yang melapor kasus DBD sebanyak 390 dari 33 provinsi. Dari jum lah itu, sebanyak 259 kabupa ten/kota mengalami peningkatan kasus DBD dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kasus terbanyak terjadi di Jatim sebanyak 3.074, kemudian di Jabar 2.204 kasus, di NTT 1.284 kasus, di Sulawesi Utara 1.092 ka sus, Lampung 1.071 kasus, Jateng 1.027 kasus, dan DKI Jakarta 662 kasus.
Soal jumlah yang menderita DBD, terbanyak pada rentang usia 5-14 tahun sebanyak 41,25 persen, kemudian usia 15-44 tahun pada 38,35 persen. Seiring dengan curah hujan di Indonesia yang meningkat, pihak Kemenkes belum bisa memprediksi kapan berakhirnya tren pening katan DBD. "Apalagi, curah hujan tak bisa diprediksi," kata dia.
Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi sebelumnya menyatakan, pemanasan global yang terjadi sejak tahun 2000- an telah mengacaukan puncak si klus penyakit DBD yang biasanya rutin terjadi setiap lima tahun sekali. "Kami punya data (ka sus DBD) sejak 1998 dan melihat setiap lima tahun terjadi pun cak siklus DBD. Tetapi, kenya taannya adanya perubahan iklim sejak awal 2000-an, seperti mencairnya es (di kutub) dan pemanasan global, telah memengaruhi semua, termasuk DBD,"ujarnya di Jakarta, Rabu (30/1).
Ia menyebutkan, puncak DBD pernah terjadi pada 2012, tetapi siklus itu kembali muncul empat tahun kemudian pada 2016. Artinya, dia melanjutkan, pola puncak siklus DBD tidak teratur. "Kini, kita tidak tahu apakah 2019 juga merupakan siklus terjadi puncak siklus DBD atau hanya peningkatan kasus biasa," ujarnya.
Sementara itu, peningkatan ka sus DBD juga terus tercatat di dae rah. Di Kota Bandung, jumlah kasus DBD melonjak tajam dalam dua hari belakangan. "Terjadi peningkatan di musim penghujan untuk peningkatan ini pada 28 (Januari) kemarin 137 lalu sekarang di 30 (Januari)sudah 224," kata Kepala Dinkes Kota Bandung Rita Verita di Kota Ban dung, Kamis (31/1).
Rita menyebutkan, jumlah ter sebut tersebar merata di seluruh wilayah Kota Bandung. Ra ta-rata kasus DBD ini 40 persen nya dialami oleh anak-anak usia sekolah, yakni 4-15 tahun.
Meski meningkat signifikan, ia mengatakan jumlah itu belum memicu kejadian luar biasa (KLB). Bahkan, dibandingkan data tahun lalu dengan waktu yang sama ada penurunan kasus. "Di Januari lebih tinggi tahun lalu. Lebih dari 200, sekitar 300- an. Makanya, waspada terus di musim hujan," ujarnya.
Menurut dia, waktu yang rawan gigitan nyamuk Aedes aegyptiyakni pada pagi dan sore hari. Dengan begitu, pada waktu- waktu tersebut diimbau untuk diwaspadai. "Menggigit puncaknya jam 8-10 pagi dan jam 3-5 sore," kata dia.
Ia meminta masyarakat untuk menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan rumah dan sekitarnya. Warga juga diimbau untuk giat me nguras bak mandinya, menutup tempat penampungan air, hingga mengubur benda-benda yang berpotensi menampung air. Kegiatan itu ditambah dengan mengoleskan losion atau menaman tanaman antinyamuk untuk memcegah gigitan.
Dinkes Kota Bandung, kata Rita, juga terus menyosialisasikan kewaspadaan DBD di lingkung an sekolah. Hal tersebut sehu bungan data bahwa sebagian besar yang terkena DBD adalah anak sekolah. Selain itu, setiap pus kesmas juga menyiapkam abate yang bisa didapatkan masyarakat secara gratis. Di wilayah yang ada kasus positif DBD, pem kot juga memfasilitasi foggingatau pengasapan.
"Justru, masyarakat harus pa ham. Fogginghanya mem bunuh nyamuk dewasa. Jentik, telur, larva tidak. Efekti vi tasnya juga cuma 24 jam. Ma ka nya, untuk foggingdifokuskan kalau sudah ada kasus positif. Paling penting adalah PSN-nya oleh warga," tuturnya.
Ia juga mengimbau kepada warga yang merasakan gejala- gejala DBD untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Tanda-tanda pasien yang terkena DBD, di antaranya demam dua-lima hari, perut mual, pegal-pegal di persendian, dan sakit kepala. Selain itu muncul bintik merah jika sudah mulai terjadi pendarahan. (ed: fitriyan zamzami )
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
