Sejarawan dan peneliti, Taufik Abdullah. | Republika/Agung
04 Jan 2021, 03:00 WIB

Kesetiaan Taufik Abdullah Jadi Peneliti LIPI

Pada miladnya yang ke-85, sebuah buku didedikasikan khusus untuk Taufik Abdullah.

OLEH INAS WIDYANURATIKAH

Sejarawan sekaligus ilmuwan sosial kebanggaan Indonesia, Taufik Abdullah, dikenal sebagai sosok yang mampu menjaga konsistensi dirinya sebagai akademisi unggul. Sosoknya disebut menginspirasi banyak orang, termasuk ilmuwan-ilmuwan hebat lain.

Pada ulang tahunnya yang ke-85, sebuah buku didedikasikan khusus untuk Taufik Abdullah. Buku berjudul 85 Tahun Taufik Abdullah: Perspektif Intelektual dan Pandangan Publik ini menggambarkan peran-peran sang sejarawan yang dinilai penting dalam dunia keilmuan di Indonesia.

"Pak Taufik ini mampu mempertahankan diri untuk terus berada di level ke atas kesarjanaan sejak tahun 60-an atau 70-an sampai tahun 2021 ini," kata peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ahmad Najib Burhani saat peluncuran buku 85 Tahun Taufik Abdullah, Ahad (3/1).

Terkait

Ia mengatakan, pengakuan dan kesaksian yang ditulis akademisi, wartawan, dan tokoh masyarakat dalam buku tersebut membuktikan tentang kebesaran Taufik Abdullah. Menurut dia, buku tersebut memberi gambaran secara umum tentang mantan ketua LIPI tersebut.

Ahmad menambahkan, salah satu hal yang menarik yang digambarkan dalam buku ini yakni soal sikap Taufik Abdullah yang berkaitan dengan Minangkabau. Ia menjelaskan, semua orang tidak akan meragukan pengetahuan Taufik mengenai Minangkabau. Pengetahuan yang dimilikinya mendorong Taufik Abdullah untuk menolak kebijakan membuat Sumatra Barat menjadi Daerah Istimewa Minangkabau.

photo
Politikus Fadli Zon (kanan) didampingi Sejarawan Taufik Abdullah (tengah) dan penulis buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah Batara R Hutagalung (kiri) memberikan paparan saat bedah buku di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/8/2019). - (ANTARA FOTO)

"Menurut dia, yang membuat Minangkabau besar bukan dengan berpikir sempit dan lokal, justru berpikir nasional dan global," tutur Ahmad. Selain identik dengan ilmu sejarah, Ahmad mengatakan, salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dari sosok Taufik Abdullah adalah kesetiaannya kepada LIPI.

Sebagai ilmuwan besar yang dilahirkan LIPI, Ahmad menilai Taufik adalah sosok yang setia. "Sudah berada di LIPI sebelum berangkat ke Amerika Serikat, dan satu-satunya kepala LIPI yang berlatar belakang sosial humaniora," kata dia.

Peneliti LIPI lainnya, Ninuk Kleden, memandang Taufik Abdullah sebagai sosok yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Hal itu karena begitu banyak hal yang pernah dilakukan pria kelahiran Bukittinggi, 3 Januari 1936, ini.

"Keilmuan, sudah tentu tidak dapat ditolak. Apa itu sejarah, sosiologi, antropologi, kebahasaan, humaniora. Pada umumnya, semua ini bisa kita masuki," kata Ninuk.

Tidak hanya dari segi keilmuan yang dimiliki, Ninuk juga menyebut pembicaraan mengenai Taufik Abdullah juga harus menyertakan sisi kepemimpinannya, baik ketika memimpin orang lain atau memimpin dirinya sendiri. Ia mengatakan, sudut pandangnya adalah mengenai kepemimpinan sebagai koordinator kelompok studi, sebagai kepala LIPI, dan bahkan sebagai anggota kelompok penelitian.

Ninuk mengakui, meski tidak berperan sebagai ketua dalam suatu penelitian, Taufik selalu menyertai rekan-rekan penelitinya. "Semua ini bisa kita bicarakan sebagai kenangan, sebagai anggota kelompok, jadi bukan koordinator atau ketua. Pak Taufik selalu menyertai kami," kata dia lagi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid menuturkan, awal mengenal Taufik adalah melalui tulisan-tulisannya yang dibaca semasa berkuliah di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia.

"Bagi saya, perjalanan Pak Taufik sebagai intelektual itu mencerminkan ini. Idenya orisinal. Mungkin bagi sebagian orang ditangkap sebagai arogansi, tapi, bagi saya, ini sikap yang siap menghadapi kritik dan tekanan," kata Hilmar. 


×