Umat muslim berdoa usai Shalat Idul Fitri 1441 H di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ahad (24/5). Umat Islam harus merayakan Idul Fitri penuh keterbatasan pada 2020 ini. | Wihdan Hidayat/ Republika

Tajuk

Entropi 2020

Seberapa besar dampak pandemi Covid-19 di entropi yang kecil?

Genap sudah setahun berlalu. Tinggal menghitung mundur, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, tahun 2020 pun berganti: 2021 menyambut di depan. Umur bumi pun menua dengan penambahan tahun ini. Setua peradaban manusia itu sendiri.

Berbeda dengan empat tahun sebelumnya, jumlah hari pada 2020 adalah 366 hari. Pada 2015 hingga 2019, jumlah hari di masing-masing tahun tersebut adalah 365 hari. Oleh karena itu, tahun 2020 disebut sebagai tahun kabisat. Tahun ketika jumlah harinya 366 hari. Perbedaan ini bermakna bahwa waktu untuk menghabiskan 2020 lebih lama ketimbang empat tahun sebelumnya.

Banyak kenangan manis ataupun pahit selama tahun kembar--istilah yang mengacu pada keberadaan dua angka 20. Namun, kalau dipersentasekan, bisa jadi lebih banyak kenangan pahit ketimbang kenangan manis selama tahun 2020. Mengapa demikian?

Perencanaan matang dengan strategi detail yang dirumuskan pada 2019 ambyar begitu pandemi Covid-19 menerjang Indonesia. Awal Maret 2020 menandai peningkatan entropi kehidupan sosial masyarakat. Entropi merupakan ukuran derajat ketidakteraturan suatu sistem termodinamika. Makin rendah entropinya, derajat ketidakteraturannya makin kecil. Makin tinggi entropinya, tingkat ketidakteraturannya makin besar.

 
Namun, kalau dipersentasekan, bisa jadi lebih banyak kenangan pahit ketimbang kenangan manis selama tahun 2020.
 
 

Pandemi Covid-19 membuat tingkat entropi sosial masyarakat makin rendah. Perilaku kehidupan masyarakat dibuat makin tertata, makin beku, disusun dalam aturan yang rigid. Kehidupan sosial masyarakat tidak bisa lagi liar tanpa rambu-rambu protokol kesehatan: menjaga jarak, memakai masker, rajin mencuci tangan.

Kerumunan massa sebelum era pandemi adalah hal biasa. Bahkan, kerumunan massa sesekali diidentikkan dengan bergairahnya aktivitas perekonomian. Makin ramai pasar, makin padat pusat perbelanjaan, itu berarti transaksi perdagangan mengalir kencang. Jual-beli menghidupkan roda perekonomian warga.

Namun, pada era pandemi Covid-19, kerumunan massa justru menjadi pusat bagi penyebaran virus. Apalagi, kerumunan massa itu tidak diatur, tak berjarak satu sama lainnya. Bisa dipastikan jika kerumunan massa itu memadat, potensi terjadinya penularan virus Covid-19 semakin cepat. Pada era pandemi, kerumunan massa mesti diatur.

Dalam gedung dengan ukuran yang sama, jika sebelum pandemi bisa diisi 100 orang, kini hanya boleh terisi 50 orang, misalnya. Satu pesawat bisa mengangkut 230 penumpang, saat ini hanya boleh memuat 150 penumpang. Bus antarkota yang bisa membawa 60 penumpang, saat pandemi hanya dibolehkan mengangkut 30 penumpang. Dan seterusnya.

Pandemi Covid-19 membuat tingkat ketidakteraturan kehidupan masyarakat makin rendah. Masyarakat makin tertata dalam aturan kehidupan tertentu. Namun, tingkat ketidakteraturan yang rendah ini memungkinkan terjadinya kebekuan. Kebekuan akan membuat kehidupan menjadi monoton, tidak ada terobosan, minim inovasi. Kebekuan menjadikan pergerakan masyarakat terbatasi yang pada akhirnya, menekan aktivitas perekonomian.

 
Sepanjang 366 hari selama 2020 kita telah jalani. Kita bisa rasakan entropi itu makin kecil. Tingkat ketidakteraturan makin rendah. 
 
 

Tentu dampak pandemi yang membuat entropi mengecil seperti ini yang tidak kita inginkan. Pandemi memang membuat entropi kehidupan sosial masyarakat menjadi kecil, tetapi bukan berarti menuju titik beku.

Sepanjang 366 hari selama 2020 kita telah jalani. Kita bisa rasakan entropi itu makin kecil. Tingkat ketidakteraturan makin rendah. Dampak akibat entropi yang kecil ini dirasakan di semua sektor kehidupan. Yang paling terasa adalah dari sisi kesehatan dan ekonomi. Dua sektor yang paling terpukul sebagai dampak pandemi.

Namun, seberapa besar dampak itu dan seberapa kuat kita mampu bertahan di entropi yang kecil? Mari kita sama-sama berhitung. Sudah berapa banyak amal kebajikan yang kita sumbangkan selama 366 hari yang lalu. Juga sudah berapa besar amal kerusakan yang kita perbuat.

Semua yang hidup akan mengalami kematian. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Tentu kita berharap catatan kebaikan yang tertera dalam tinta emas sejarah. Bukan catatan gelap yang kita tinggalkan.

Pandemi Covid-19 tetap akan menjadi tantangan terberat pada tahun depan. Semoga amalan selama 2020 yang kita evaluasi menjadi langkah tertata, yang akan menjadi catatan kebaikan pada 2021 mendatang! 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat