Anak belajar di rumah (ilustrasi) | Pixabay
28 Dec 2020, 09:35 WIB

Cara Membantu Anak Lebih Mudah Belajar

Penting juga untuk mendengarkan pendapat dan ide anak.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi opsi bersekolah yang lebih aman di masa pandemi Covid-19. Akan tetapi, tak mudah bagi anak, guru, dan juga orang tua untuk beradaptasi dengan metode ini.

Untuk bisa belajar dengan baik, anak memerlukan fungsi eksekutif yang baik pula. Fungsi eksekutif merupakan serangkaian proses dalam otak yang berpusat pada dorsolateral prefrontal cortex. Area ini bertanggung jawab terhadap berbagai keterampilan dan kemampuan anak untuk menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas mental tertentu.

Tugas atau aktivitas mental ini mencakup memori kerja, organisasi emosi dan perilaku, fleksibilitas mental, analisis dan penyelesaian masalah, serta selektif dan fokus atensi. Dalam hal belajar, anak dengan fungsi eksekutif yang baik akan mampu untuk berkonsentrasi, tidak mudah marah atau frustrasi ketika pelajaran terasa susah, serta memiliki inisiatif yang baik. "Misalnya, 'Oh, saya harus belajar dan membaca dulu, jadi nanti bisa jawab kalau ditanya," ujar psikiater anak dan remaja Prof Dr dr Tjhin Wiguna SpKJ(K) dalam sebuah ajang pertemuan virtual.

Berdasarkan penelitian, fungsi eksekutif terutama memori kerja berperan penting dalam memprediksi kemampuan belajar anak. Anak-anak yang memiliki gangguan dalam memori kerja rata-rata mengalami kesulitan tiga kali lebih besar untuk mempelajari matematika dibandingkan anak-anak tanpa gangguan memori kerja.

Terkait

Memori kerja berkaitan dengan kemampuan untuk menyimpan dan memanipulasi berbagai informasi untuk waktu yang singkat. Sebagai contoh, memori kerja berperan untuk memungkinkan anak membayangkan rumus apa yang diperlukan saat mengerjakan soal ujian. Contoh lainnya adalah memungkinkan anak untuk tahu arah mana yang harus diambil ketika berjalan dari rumah menuju sekolah.

Dalam situasi PJJ, memori kerja bertanggung jawab dalam memproses informasi yang anak dapatkan dari pembelajaran daring. Informasi ini lalu diolah sehingga anak bisa mendapatkan pemahaman yang baik dari informasi tersebut. "Apalagi di masa PJJ ini, semua dilakukan secara daring, mendengarkan pelajaran, membaca, dan menyampaikan apa yang mereka pelajari, itu tidak lepas dari memori kerja," tambah Tjhin.

Manajer pemasaran Dairy Nestle Indonesia Johanlie Aliffin mengatakan salah satu hambatan yang mungkin dihadapi anak selama proses PJJ adalah sulit mempertahankan fokus. Kondisi ini bisa membuat materi pembelajaran yang disampaikan tidak terserap dengan baik.  "Dampak paling terasa adalah capaian prestasi menurun," ujar Johanlie dalam acara yang sama.

 

Lebih optimal

Untuk mendukung proses belajar anak, orang tua perlu membantu agar anak memiliki fungsi eksekutif yang baik. Fungsi eksekutif yang baik bisa didapatkan bila otak anak berkembang dengan baik pula.

Seperti diketahui, 60 persen otak manusia terdiri dari lemak. Lemak yang paling banyak terdapat dalam otak adalah DHA. Berdasarkan penelitian, DHA paling banyak terdapat dalam otak bagian depan di mana area tersebut merupakan pusat bagi fungsi eksekutif. "Berarti di daerah-daerah tersebut membutuhkan DHA yang lebih banyak," jelas Tjhin.

Dengan kadar DHA yang cukup, membran sel otak bisa bekerja secara optimal dan menyalurkan impuls-impuls listrik dengan lebih cepat. Artinya, anak bisa belajar dan memahami suatu informasi dengan lebih cepat. Stimulus yang diterima oleh anak melalui berbagai indranya akan lebih cepat diterima otak, diproses, disimpan, lalu digunakan kembali pada saat diperlukan.

Sayangnya, penelitian juga mengungkapkan bahwa pola makan anak-anak cenderung kekurangan kadar DHA. Padahal, kadar DHA dalam darah yang rendah pada anak berkorelasi dengan kurang baiknya kemampuan membaca dan kemampuan memori kerja anak.

Anak-anak memerlukan asupan DHA sekitar 150-200 mg per hari. Asupan DHA bisa didapatkan dari makanan sehari-hari seperti ikan salmon dan makarel. Ikan sungai, lanjut Tjhin, juga memiliki kadar DHA yang tinggi.

Akan tetapi, mungkin akan sulit untuk bisa memenuhi semua kebutuhan ini hanya dari makanan saja. Oleh karena itu, suplementasi dari susu maupun suplemen bisa membantu mencukupi kebutuhan DHA anak. "Baik alami (dari makanan) maupun suplementasi di dalam susu atau suplemenasi sendiri, itu merupakan hal yang penting untuk mencukupi kebutuhan DHA," jelas Tjhin.

Selain dari nutrisi, fungsi eksekutif anak juga perlu didukung melalui stimulasi. Dalam menjalani PJJ misalnya, anak bisa mengalami kelelahan bila terus dihadapkan pada gawai. Terlebih di masa PJJ, anak tidak bisa mengobrol dan main dengan teman. Agar anak tetap bisa mempertahankan fokus, orang tua perlu memberi kesemaptan anak untuk bergerak dan melakukan aktivitas lain juga. "Sekali-sekali bawa anak ke lapangan, main sepeda misalnya, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan," tukas Tjhin.

photo
Anak belajar sambil bermain (ilustrasi) - (Giath Taha/Reuters)

 

Hadirkan Rasa Aman dan Nyaman

Pemerhati pendidikan anak Damar Wijayanti SIP Dipl Edu Montessori memaparkan ada dua kebutuhan yang juga harus dipenuhi agar fungsi eksekutif anak berjalan optimal. Dua kebutuhan tersebut adalah rasa aman dan nyaman.

Untuk memberi rasa aman, ada tiga hal yang bisa dilakukan orang tua. Salah satunya adalah hindari memberikan ancaman kepada anak. Sebagai contoh, mengancam tidak akan memberikan jam main bila anak tidak belajar.

Hal kedua adalah menghindari menghukum anak. Misalnya, menahan mainan anak karena anak tidak belajar. Orang tua juga perlu menghindari memburu-buru anak saat akan menjalani PJJ di rumah. Misalnya, orang tua berulang kali berkata "Ayo cepat, lima menit lagi mau mulai" atau sejenisnya. "Anak akan merasa terancam, sehingga fungsi eksekutif tidak optimal," ungkap Damar.

Sedangkan terkait rasa nyaman, Damar mengatakan hal ini berhubungan dengan rasa diterima dan dicintai oleh orang tua dan sekitarnya. Setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman anak.

Yang pertama, orang tua perlu membuat anak merasa dicintai apa adanya. Kedua, buat anak merasa diterima oleh keluarga dan //peer group// atau teman sepermainannya.

Selain itu, beri waktu yang cukup banyak bagi anak untuk bermain dan berinteraksi dengan teman sebayanya. Dalam situasi pandemi, hal ini tentu harus mempertimbangkan batasan protokol kesehatan.

Orang tua juga perlu memberikan waktu kepada anak untuk melakukan hal yang membuat dia senang sebelum menjalani PJJ. Dengan berada dalam kondisi bahagia, anak akan lebih fokus untuk belajar. "Misalnya, 30 menit sebelum sekolah (dari rumah) boleh bermain apa, baru siap-siap sekolah, itu biar nyaman, supaya ketika kelas daring anak bisa melakukan fungsi eksekutif dengan optimal," lanjut Damar.

Agar fungsi eksekutif anak bisa lebih optimal, anak juga perlu mendapaktan variasi pembelajaran. Orang tua bisa berkreasi dengan apa pun yang ada di rumah untuk membantu anak belajar. Misalnya, menggunakan magnet di kulkas dapur untuk belajar matematika.

Penting juga untuk mendengarkan pendapat dan ide anak mengenai apa saja yang ingin dia pelajari dan bagaimana cara dia mempelajarinya. Jangan lupa untuk tanyakan kepada anak apakah dia membutuhkan bejalar bersama dengan teman sebayanya.

Bila anak memerlukan itu, orang tua dapat membantu memfasiltiasi kebutuhan tersebut. Misalnya, dengan menghubungi teman-teman terdekat anak melalui telepon video agar mereka bisa saling berkomunikasi dan belajar bersama dari rumah masing-masing. "PJJ ini sebetulnya meningkatkan kreativitas kita juga, bagaimana ktia menarik minat anak untuk belajar daring tanpa meninggalkan unsur bermain," ujar Damar.

  PJJ ini sebetulnya meningkatkan kreativitas kita juga, bagaimana ktia menarik minat anak untuk belajar daring tanpa meninggalkan unsur bermain.

Damar Wijayanti SIP Dipl Edu Montessori
 


×