Seorang perempuan berdiri di atas gedung yang luluh lantak akibat serangan udara di Idlib, Suriah, Maret 2020 lalu. | AP

Kisah Mancanegara

18 Dec 2020, 02:00 WIB

Ia Memilih Bertahan di Suriah

Dokter berusia 58 tahun ini memilih tetap bertahan di Suriah.

OLEH YEYEN ROSTIYANI

Dr Adnan Jasem punya banyak alasan untuk meninggalkan Suriah, negeri yang tercabik perang saudara. Ia pernah terkena ledakan bom yang mengoyak kedua kakinya, empat tahun lalu.

Jasem juga mendapatkan tawaran pekerjaan di luar negeri. Namun, dokter berusia 58 tahun ini memilih bertahan di Suriah. Ia ingin berpegang pada komitmennya untuk merawat para pasien di tanah airnya. Tak heran jika ia kemudian tampil di garis depan ketika kasus-kasus perdana Covid-19 muncul di Suriah, musim panas lalu.

Pada 6 September, Jasem mulai merasa tidak enak badan. Hanya dalam hitungan empat hari, ia pun berpulang.

"Sungguh tragis," ujar sepupu Jasem, Dr Ziad Alissa, yang tinggal di Paris, Prancis. 

Alissa sempat menghubungi rekan sejawatnya, para dokter, agar Jasem mendapatkan ventilator. Namun, upaya itu terlambat.

photo
Dr Adnan Jasem - (Kenan Aljasem via AP)

"Ia amat peduli pada banyak orang dan telah menyelamatkan begitu banyak nyawa, namun kami justru tidak menyelamatkannya," kata Alissa, direktur Union of Medical Care and Relief Organizations (UOSSM) cabang Prancis. Organisasi ini didirikan para dokter Suriah pada 2012 untuk mengupayakan perawatan, perlengkapan, dan bantuan lainnya gratis kepada rumah sakit dan klinik di Suriah.

Istri Jasem seorang dokter kandungan yang bertugas di kawasan Deir el-Zour, Suriah. Jasem dan istrinya memiliki empat anak.

Perang saudara di Suriah dipantik oleh gelombang unjuk rasa yang dikenal sebagai Arab Spring pada 2011. Aksi itu ternyata berujung dengan bentrokan senjata, berlanjut dengan keterlibatan pihak-pihak asing di Suriah hingga kini. Sekitar setengah juta orang tewas dalam perang ini. 

Hidup mereka terus di bawah ancaman. Sebagai dokter, mereka kerap dicurigai pihak manapun yang berkuasa di wilayah mereka, baik militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ataupun pasukan pemerintah. Menurut UOSSM, tahun lalu, ada 85 fasilitas medis di Suriah Utara diserang.

Jasem dan keluarganya berkali-kali dihantam musibah akibat serangan. Salah satunya terjadi empat tahun lalu, saat bom menghantam rumahnya. Ia sedang bergegas bersama keluarganya, menuju ruang bawah tanah. Namun, ia terkena serangan dan kedua kakinya cedera. Ia menjalani operasi agar bisa berjalan kembali. 

Jasem mendapat tawaran bekerja dari sejumlah rekan dokter yang tinggal di luar negeri. Salah satunya, tawaran menjadi dokter di Turki tempat ia bisa hidup bersama keluarganya.

Namun, kata dia, jawaban Jasem selalu sama, "Jika tidak ada dokter di sini, maka siapa yang akan menolong orang-orang ini?"

Jasem bekerja di unit perawatan intensif sejak 2017 di rumah sakit di al-Bab, Suriah barat laut. Sistem kesehatan Suriah sudah tertatih-tatih ketika kasus virus korona muncul pertama kali. Mereka menghadapi kelangkaan mulai dari masker, sarung tangan, pakaian medis, disinfektan, hingga sabun.  

Ketika Jasem pulang dalam keadaan sakit, ia meminta keluarganya agar tidak khawatir. Ia meyakinkan bahwa dirinya akan sehat kembali dengan beristirahat dan melakukan karantina.

Namun, kemudian harus dirujuk ke ruang perawatan intensif, tempat ia biasa merawat para pasiennya. Ia hanya menghabiskan waktu semalam di sana, sebelum napas terakhirnya berembus. 

"Ia bertahan meski ada bahaya, takut, serangan, dan pengeboman. Ia tahu orang membutuhkannya. Itulah yang membuatnya manusia luar biasa. Dokter-dokter semacam ini sangat langka," ujar Alissa.

Jasem pernah bermimpi bisa mendirikan rumah sakit gratis di Suriah. Kini, keluarganya berharap bisa mewujudkan mimpi itu. 

Istri Jasem, Dr Ruba Alsayed, akan bertahan menjadi dokter di Suriah. Ia akan membesarkan putranya sendirian. Salah satu putranya yang berusia 18 tahun juga ingin menjadi dokter. Ia ingin sekolah kedokteran di Eropa kemudian kembali ke Suriah, melanjutkan tugas ayahnya. 

Jasem banyak menginspirasi, kata Alissa. Alissa sendiri rutin pulang ke Suriah untuk bekerja menjadi dokter sukarelawan.  "Ia mencintai negeri ini, mencintai rumahnya. Lebih dari semua itu, ia suka membantu warganya," kata Alissa.

Sumber : Associated Press


×