Calon penumpang mencetak tiket di Stasiun Senin, Jakarta, Ahad (13/12). | ANTARA FOTO/Galih Pradipta
14 Dec 2020, 03:00 WIB

Sleman Gagas Pekan Tenang Pascalibur

Data menunjukkan ada lonjakan penambahan kasus Covid-19 di dua pekan setelah libur.

SLEMAN – Aktivitas liburan diprediksi masih akan tinggi meski cuti bersama telah dipangkas pada akhir tahun ini. Untuk mengantisipasi agar penyebaran Covid-19 tidak kian masif, Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mewacanakan untuk memberlakukan pekan tenang di daerah setempat selama sepekan pascalibur.

“Pekan tenang Covid-19 saat ini masih kami matangkan. Rencana pekan tenang Covid-19 akan diberlakukan mulai 4 Januari 2021 hingga satu pekan ke depan,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Joko Hastaryo di Sleman, Ahad (13/12).

Menurut dia, konsep pekan tenang ini yakni masyarakat tinggal di rumah saja dan tidak bepergian ke mana-mana seusai masa libur pada akhir tahun hinggal awal tahun 2021. Selama pekan tenang ini, yang total bekerja penuh hanya tenaga kesehatan atau tenaga medis dan petugas pelayanan publik maupun aparat TNI dan Polri.

Sedangkan, untuk pegawai pemerintah daerah, kata dia, diupayakan agar bisa kerja dari rumah, begitu juga dengan pegawai swasta. Skema seperti ini juga dilakukan pada awal pandemi Covid-19. Joko berharap masyarakat dapat mematuhinya sehingga selama satu pekan pada awal tahun masyarakat cukup di rumah saja.

Terkait

Pemerintah pusat diketahui telah memangkas cuti bersama dari 11 hari menjadi delapan hari. Tanggal 28-30 Desember yang semula ditetapkan sebagai hari cuti bersama dihapuskan. Pegawai tetap diminta bekerja seperti biasa pada tanggal tersebut. Namun, pada hari Kamis, tanggal 24 Desember dan 31 Desember, cuti bersama tetap berlaku.

Artinya, ada empat hari libur secara berturut-turut di libur Hari Natal jika ditambah libur akhir pekan. Pola yang sama juga terjadi pada pekan berikutnya atau saat libur awal tahun baru. Meski libur cuti bersama dipangkas, lokasi-lokasi wisata masih mungkin diserbu masyarakat.

Belajar dari pengalaman yang terjadi pada tiga periode libur panjang sebelumnya selama masa pandemi, fakta dan data menunjukkan ada lonjakan pertambahan kasus Covid-19 di dua pekan setelahnya. Artinya, liburan yang memunculkan kerumunan tak dapat dimungkiri menambah kasus Covid-19 secara signifikan.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga mengeluarkan dua surat edaran (SE) sekaligus menjelang libur panjang akhir tahun ini. SE ini disebut sebagai langkah antisipasi mencegah penyebaran Covid-19. “Kepada seluruh warga Surabaya untuk tidak melakukan perjalanan liburan ke luar Kota Surabaya,” kata Wali Kota. 

Masing-masing SE itu tertanggal 10 Desember 2020 dengan tujuan dan nomor surat yang berbeda. Pada SE pertama ditujukan kepada penanggung jawab/pemberi kerja/pengelola tempat kerja/usaha. Risma mengimbau seluruh pekerja/karyawan untuk tidak melakukan perjalanan liburan ke luar Kota Surabaya serta tetap berkumpul bersama keluarga di tempat tinggal masing-masing.

Bagi pekerja atau karyawan setelah melakukan perjalanan ke luar Kota Surabaya lebih dari tiga hari, yang bersangkutan diwajibkan menunjukkan hasil tes usap negatif pada saat datang ke Surabaya. Apabila belum memiliki hasil tes usap maka dapat melakukan tes di puskesmas atau ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Jalan Gayungsari Barat Nomor 124, Surabaya.

“Tidak dipungut biaya bagi pekerja/karyawan yang ber-KTP Surabaya, sedangkan untuk yang ber-KTP luar Kota Surabaya dikenakan biaya Rp 125 ribu per orang,” ujar Risma.

Sedangkan, SE kedua ditujukan kepada ketua RW/RT, pemilik/pengelola kos, pengelola hotel, pengelola apartemen, pengembang/pengelola perumahan. “Kami mengimbau kepada warga/penghuni untuk tidak melakukan perjalanan liburan ke luar Kota Surabaya serta tetap berkumpul dan/atau melakukan kegiatan bersama keluarga di lingkungan tempat tinggal masing-masing,” kata Risma.

Sumber : Antara


×