Adiwarman Karim | Daan Yahya | Republika
14 Dec 2020, 03:00 WIB

Asa An Takrahu Syaian

Ngalah, bukan kalah. Asa an takrahu syaian wahuwa khairul lakum.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Setelah masa keemasan Harun al-Rasyid, ada dua kekuatan besar yang membuat rakyat terbelah, al-Amin dan al-Ma’mun. Abu al-Abbas Abdallah yang bergelar al-Ma’mun akhirnya dapat mengalahkan al-Amin.

Untuk memperkuat posisinya, al Ma’mun mengangkat sebagai wakilnya seorang ulama besar Ali bin Musa al-Ridha. Imam al-Ridha yang berusia 20 tahun lebih tua dari al- Ma’mun, tidak banyak tercatat perannya dalam pemerintahan al-Ma’mun. Sebaliknya, beliau berperan besar sebagai ulama yang sangat berpengaruh.

Perdagangan internasional antara pemerintahan al-Ma’mun dan Cina terjalin baik, jalur darat maupun jalur laut sampai ke Guangzhou. Persentuhan budaya Islam dan budaya-budaya lain semakin terbuka lebar dengan program penerjemahan berbagai buku ke dalam bahasa Arab. Ilmu pengetahuan berkembang pesat ditandai dengan perpustakaan terbesar di dunia saat itu, Baitul Hikmah.

Terkait

Untuk memperkuat posisinya, al-Ma’mun melakukan mihna, yaitu upaya persekusi, penahanan, bahkan pembunuhan bagi ulama yang berbeda pendapat. Pada saat itulah muncul kekuatan baru menentang al-Ma’mun yang dipimpin para ulama.

Yang paling lantang menentang al-Ma’mun adalah Imam Ahmad bin Hanbal pendiri mazhab Hanbali. Tak ayal lagi, Imam Ahmad pun dipersekusi dan dipenjarakan.

 
Keadaan umat Islam ketika itu terbelah. Seluruh rakyat merasakan sulitnya perekonomian.
 
 

Perekonomian saat itu dilanda resesi. Robert Allen dan Leander Heldring, peneliti Universitas New York dan peneliti Universitas Harvard, dalam risetnya "The Political Economy of Hydraulic States and the Financial Crisis of the Abbasid Caliphate" mencatat resesi di zaman al-Ma’mun tersebut.

Dari sisi produksi, rusaknya irigasi dan mundurnya musim tanam menurunkan hasil dari lumbung pertanian di provinsi al-Anbar. Dari sisi konsumsi, kegaduhan politik membatasi pergerakan orang dalam aktivitas ekonomi sehingga menurunkan daya beli. Dari sisi pendapatan negara, jizya dan kharaj juga menurun. Akhirnya, al-Ma’mun menurunkan pajak agar menambah daya beli masyarakat.

Keadaan umat Islam ketika itu terbelah. Seluruh rakyat merasakan sulitnya perekonomian. Sebagian rakyat yang merasa tertekan rasa keadilannya bersuara lantang. Sebagian rakyat terganggu rasa nyamannya dengan kegaduhan itu. Sebagian besar rakyat diam dengan harapan besar kembalinya rasa keadilan dan kenyamanan.

Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 mendatang berada di kisaran 4,8 persen hingga 5,8 persen. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan versi pemerintah, yakni di kisaran 4,5 persen hingga 5,5 persen. Optimisme ini didasarkan asumsi adanya perbaikan ekonomi global dan stimulus fiskal oleh pemerintah. Bila ini terjadi, satu masalah teratasi.

Dalam pertumbuhan itu, peran ekonomi syariah akan semakin penting. Islamic Finance Development Indicator yang diterbitkan Refinitiv mencatat kemajuan besar Indonesia selama tahun 2020 sehingga menduduki peringkat kedua dunia. Menilik dari angka-angka penilaiannya, Indonesia menjadi calon kuat peringkat pertama pada 2021. Energi umat yang demikian besar memang memerlukan kanal penyaluran yang tepat, yaitu ekonomi syariah.

 
Menilik dari angka-angka penilaiannya, Indonesia menjadi calon kuat peringkat pertama pada 2021.
 
 

Persoalan berikutnya yang sangat krusial adalah rasa keadilan dan rasa kenyamanan. Skenario pertama adalah rasa nyaman tanpa rasa adil. Skenario kedua adalah rasa adil yang mengusik rasa nyaman. Skenario ketiga adalah rasa aman dan rasa adil.

Dalam ilmu ekonomi, dua hal yang berkontestasi untuk menjadi pemenang telah lama dikaji oleh William Baumol, profesor Universitas New York, dalam risetnya "Contestable Markets: An Uprising in the Theory of Industry Structure". Rasa adil dan rasa aman dalam dua skenario pertama bersifat kontestasi, sedangkan skenario ketiga tidak bersifat kontestasi.

Jeremy Bulow, Geanakopolos, dan Klemperer, masing-masing peneliti Universitas Stanford, Universitas Yale, Universitas Oxford, dalam riset mereka "Multimarket Oligopoly: Strategic Substitutes and Complements" merumuskan cara agar dua hal yang berkontestasi itu dapat menjadi substitusi strategis yang saling mengalahkan atau menjadi komplemen strategis yang saling melengkapi.

Contestable game harus diubah menjadi uncontestable game. Pertama, biaya kontestasi sangat tinggi. Kedua, biaya kegagalan dalam kontestasi sangat tinggi. Ketiga, hasil dari kontestasi lebih rendah karena produksi dengan dua mesin lebih tinggi daripada satu mesin. Menolak adu kuat, bukan takut. Ngalah, bukan kalah. Asa an takrahu syaian wahuwa khairul lakum.

Yuanyuan Wen, peneliti Beijing Normal University dan tim risetnya, dalam riset mereka "Analytical approach to win-win game analysis for Chinese and Japanese" menemukan hal menarik dalam memberikan bantuan pembangunan kepada negara-negara Afrika. Mereka menyimpulkan strategi winner-take-all berbiaya mahal, tidak berkelanjutan, dan hasilnya tidak optimal. Mereka menyarankan strategi kerja sama yang lebih efektif, tidak tumpang tindih, saling melengkapi.

Marc van Wegberg dan Arjen van Witteloostuijn, para peneliti Universitas Limburg, dalam riset mereka "Credible Entry Threats into Contestable Markets" menunjukkan besarnya upaya yang harus dilakukan untuk menciptakan ancaman yang serius bagi pesaing baru dan menyimpulkan strategi hit and run tidak efektif. Yang muncul hanyalah saling curiga. Dialog sangat krusial dalam membangun rasa saling percaya dalam memainkan strategi kerja sama.

Engle-Warnick dan Robert Slonim, peneliti Universitas Mc Gill dan peneliti Universitas Case Western Reserve, dalam risetnya "Learning to trust in indefinitely repeated games" menjelaskan permainan yang selalu berulang merupakan sarana untuk belajar saling percaya. Sebagai satu bangsa tentu kita akan memainkan indefinitely repeated game. Secara berkelanjutan kita akan menghadapi masalah dan menyelesaikannya.

Peneliti yang sama dalam risetnya "The evolution of strategies in a repeated trust game" menjelaskan memang perlu waktu untuk menimbulkan rasa saling percaya. Dan bangsa Indonesia telah 75 tahun merdeka. Kalau dihitung dari Sumpah Pemuda 1928, bahkan telah 92 tahun. Ini saatnya belajar saling percaya.

 
Kalau dihitung dari Sumpah Pemuda 1928, bahkan telah 92 tahun. Ini saatnya belajar saling percaya.
 
 

Memang selalu ada sebagian kecil elite yang ingin menang sendiri karena melihat short term payoffs. Namun sebagian besar rakyat akan memilih saling percaya bekerja sama karena melihat long term payoffs-nya.

Anna Drebera, Drew Fudenbergb, dan David Rand, masing-masing peneliti Stockholm School of Economics, Universitas Harvard, Universitas Yale, dalam riset mereka "Who Cooperates in Repeated Games" menjelaskan adanya elite yang ingin menang sendiri. Mereka akan terkucilkan dalam kerja sama yang terjalin. Asa an takrahu syaian wahuwa khairul lakum.

Imam al-Ridha akhirnya mengingatkan kepada al-Ma’mun, "Wahai Amirul Mukminin! Takutlah kepada Allah akan umat Rasulullah Muhammad SAW, dan apa yang diamanahkan Allah Yang Maha Kuasa kepadamu. Engkau telah menyia-nyiakan urusan kaum Muslimin."


×