Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

X-Kisah

13 Dec 2020, 02:00 WIB

Ahoi, Halo, Hola

Halo berterima di berbagai negara, seperti allo di Prancis. Bahkan, hola untuk menyeru tahan sebentar.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Pembantaian di Poso oleh kelompok teroris di pekan terakhir November lalu mengingatkan pada peristiwa perampokan di pekan terakhir Mei 1950. Kelompok perampok dengan 25- 30 anggota bersenjata berat pagi-pagi merampok keluarga Surabaya.Mereka datang menggunakan truk, delapan perampok bersenjata revolver dan besi masuk lewat pintu belakang.Sisanya berjaga di luar.

Mantan perwira Angkatan Laut yang mendengar teriakan permintaan tolong datang hendak membantu, tetapi langsung ditembak di perut oleh perampok yang berjaga di luar rumah.Tuan rumah yang sudah bangun saat perampok memasuki rumah, memang berteriak meminta tolong.

Namun, balasannya adalah pukulan besi bertubi-tubi ke anggota badannya, termasuk kepala. Perawat yang mencoba melarikan diri keluar rumah juga tak luput dari pukulan besi.

Kepada anak laki-laki keluarga itu yang belum bangun, ditodongkan revolver lalu disapa selamat pagi untuk membangunkannya. Begitu melek yang ia lihat adalah moncong- moncong revolver. Salam selamat pagi yang membuat anak itu tak berdaya.

Paruh kedua tahun 1980-an, salam selamat pagi membuat heboh Indonesia. Di kurun itu, gairah menggunakan salam khas Islam sedang menjadi gerakan yang menggelora, menggantikan salam nasional, semacam selamat pagi --salam resmi yang dipakai di kelas-kelas sekolah.

 
Paruh kedua tahun 1980-an, salam selamat pagi membuat heboh Indonesia.
 
 

Adalah Gus Dur yang menyebut, bahwa orang-orang yang sudah membaca syahadat, tapi tidak shalat dan tak fasih mengucap salam cara Islam, tetap Muslim. Jadi, menurut Gus Dur, mereka itu yang hanya bisa mengucap salam selama pagi, kulonuwun, dan sebagainya, tetap Muslim dan salam selamat pagi dan lain-lain, itu sama juga artinya dengan salam assalamualaikum.

Publik pun lalu heboh, menilai Gus Dur hendak mengganti salam Islam dengan salam lokal. Yang protes merasa tak bisa menerima salam Islam diganti dengan salam lokal karena maknanya jauh berdeda.

Goenawan Mohamad pada April 1969 merasa masygul ada kelompok mahasiswa mengucap salam yang absurd. Goenawan menyinggung salam itu di tulisannya Imada dan Image yang dimuat di Berita Imada: "...anak-anak muda berbaret hitam kuning di jalanan di antara pelbagai warna baret lain yang terkadang berteriak Ahoi! tanpa seorang pun tahu maksudnya..."

Ahoi memang menjadi salam khas Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada). Goenawan bukan anggota Imada, melainkan berteman dekat dengan banyak anggota Imada. Ada Pia Alisjahbana, Marsilam Simanjuntak, Sjahrir. Belakangan ada Jajang Pamuntjak, Rocky Gerung, Gadis Arivia, Tompi, dan lain-lain.

"Saya mulai bersinggungan kegiatan dengan kelompok mahasiswa itu mulai akhir 1980-an. Saya juga tak memahami artinya ketika pertama kali mendengarnya. Sama halnya ketika juga tak paham arti halo yang diteriakkan petugas stasiun kereta di tahun 1970-an setelah mengangkat gagang telepon. Anak-anak kecil yang menyaksikannya dari balik kaca jendela terpingkal-pingkal karena petugas itu kemudian bicara sendiri lalu terbahak-bahak sendiri."

Alexander Graham Bell, penemu teknologi telepon pada 1876, yang memulai penggunaan salam ahoi. Ketika hubungan telepon tersambung, Graham Bell menyapa lawan bicaranya dua kali berturutan: Ahoi, Ahoi. "Bagi kita, ini mungkin hal yang absurd untuk ukuran hari ini," tulis Leslie Dunton-Downer di buku The English is Coming.

photo
Alexander Graham Bell - (DOK Wikipedia)

Graham Bell menggunakan salam ahoi karena pada awalnya bingung tentang cara tepat untuk menyapa orang yang tak terlihat fisik dan tak diketahui lokasi keberadaannya. Ahoi dinilai sebagai salam pembuka yang baik untuk kondisi itu. Sangat aneh, ketika membuka pembicaraan dengan apa kabar di gagang telepon untuk menyapa orang yang tidak diketahui fisik dan keberadaannya.

Setahun setelah penemuan teknologi telepon, yaitu 1877, Thomas Alva Edison menulis surat kepada rekannya, menyarankan penggunaan salam halo sebagai penanda bahwa panggilan telepon telah tersambung. Namun, usul ini tak bersambut.

Salam halo bukan Edison yang mengawali. Jauh sebelumnya, pada 1827, koran US Telegraph di Washington DC sudah menulis: "Halo, sez Joe Laughton." Halo berkaitan dengan kata halon yang berasal dari bahasa Jerman kuno. Artinya mengambil.

Dalam praktiknya, semacam berseru untuk menyambut tukang perahu di perairan. Dalam konteks ini, salam ahoi dari Graham Bell memiliki relevansi dengan halo, memanggil orang yang keberadaannya mungkin di seberang lautan.

Di Konvensi Perusahaan Telekomunikasi Nasional Pertama pada 1880 di New York, Ketua Konvensi menyebut, pidato terbaik di pertemuan ini hanya satu kata: "Halo." Tepuk tangan pun membahana.

Halo berterima di berbagai negara dengan segala variasinya, seperti allo di Prancis. Bahkan, hola untuk menyeru tahan sebentar. Di Indonesia, halo bahkan menjadi lagu: "Halo-Halo Bandung" selain juga telah menjadi sapaan sehari-hari tak hanya di pesawat telepon, tetapi juga di perjumpaan fisik.


×