Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut kedatangan 100 ribu dosis vaksin Covid-19 produksi Pfizer di Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv, Rabu (9/12). | EPA-EFE/ABIR SULTAN

Internasional

10 Dec 2020, 03:00 WIB

Aliansi: Negara Miskin tak Kebagian Vaksin

Kanada memborong vaksin lima kali lipat dari jumlah populasinya. 

 

LONDON -- Negara miskin berisiko tak kebagian vaksin Covid-19. Lembaga koalisi kampanye vaksinasi yaitu People's Vaccine Alliance mengatakan, 67 negara miskin hanya bisa memvaksinasi satu dari setiap 10 orang. Artinya, 90 persen populasi mereka tak mendapat akses vaksin.

Hasil analisis aliansi tersebut menunjukkan, negara-negara kaya memborong jatah vaksin. Bahkan di sejumlah negara, mereka memiliki pasokan vaksin yang bisa dipakai beberapa kali lipat dari seluruh populasi negaranya. 

"Kanada, misalnya, telah memesan vaksin yang cukup untuk melindungi setiap warga Kanada lima kali," ujar aliansi tersebut yang dikutip BBC, Rabu (9/12). 

Sedangkan Korsel telah membeli vaksin yang bisa mencukupi kebutuhan 88 persen populasinya. Sedangkan Filipina kini hanya bisa mendapatkan 2,6 juta dosis vaksin yang akan diantarkan tahun depan. Artinya, jatah itu hanya untuk 1,3 juta orang dari populasi sekitar 110 juta jiwa. 

Laman Aljazirah menyebutkan lima dari 67 negara yang mendapat perhatian aliansi adalah Kenya, Myanmar, Nigeria, Pakistan, dan Ukraina. Saat ini mereka telah menghadapi hampir 1,5 juta kasus Covid-19.

Saat ini, lapor BBC, negara kaya di dunia mewakili 14 persen dari populasi global. Namun, mereka telah membeli hingga 53 persen dari semua vaksin yang menjanjikan efektivitasnya. Selain Kanada, mereka yang termasuk kelompok ini adalah Uni Eropa, Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, Swiss, Australia, Hong Kong, Makau, Selandia Baru, Israel, dan Kuwait. 

Aliansi tersebut terdiri jaringan sejumlah lembaga termasuk Amnesty International (AI), Oxfam, dan Global Justice Now. Menurut mereka, saat ini tidak ada jalan lain selain mendesak produsen vaksin membagi teknologi mereka. Tujuannya adalah untuk memastikan produksi yang memadai.

"Memborong vaksin berarti merusak upaya global untuk memastikan bahwa setiap orang, di mana pun mereka berada, dilindungi dari Covid-19," ujar Steve Cockburn, kepala bidang ekonomi dan keadilan sosial di AI.

"Negara-negara kaya memiliki  kewajiban hak asasi manusia yang jelas, tidak sekadar menahan diri dari tindakan yang mengancam akses kepada vaksin, namun juga harus bekerja sama dan menyediakan bantuan kepada negara yang membutuhkannya," kata Cockburn yang dikutip Aljazirah.

Ancaman tak kebagian vaksin tetap dihadapi negara miskin meski sejumlah produsen vaksin berjanji mendistribusikan produk mereka. Oxford-AstraZeneca misalnya, akan menyediakan 64 persen produksi vaksin mereka untuk negara berkembang. 

Langkah global pun telah diambil agar distribusi vaksin bisa berlaku adil. Salah satunya dilakukan Covax, sebuah inisiatif vaksin antara Badan Kesehatan Dunia (WHO), Gavi, dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). 

Covax berhasil mengamankan 700 juta dosis vaksin untuk 92 negara dengan populasi berpenghasilan rendah. "Tak seorang pun yang terhalangi untuk mendapatkan vaksin penyelamat hidup karena semata negara tempat tinggal mereka atau karena jumlah uang di kantong mereka," ujar Anna Marriott, kepala bidang kebijakan kesejatan di Oxfam.

"Kecuali ada perubahan dramatis, maka miliaran orang di seluruh dunia tidak akan menerima vaksin yang aman dan efektif untuk melindungi dari Covid-19 dalam beberapa tahun ke depan," kata Marriott menambahkan. 

Kekurangan dry ice

Meski memiliki cukup dosis vaksin, AS memiliki tantangan lain yaitu distribusi vaksin. Saat ini mereka kesulitan mendapatkan pasokan dry ice atau es kering untuk menyimpan vaksin ultra dingin produksi Pfizer. Vaksin tersebut memang harus disimpan pada suhu di bawah 70 deraat celsius atau mirip dengan musim dingin di Kutub Utara. 

Sejumlah negara bagian AS kini memburu pasokan es kering, misalnya Washington, New Mexico, Mississippi, Louisiana, dan  Indiana. Tantangan itu terasa karena wilayah AS yang luas dan tersebar. 

Pfizer mengirimkan vaksin dalam kotak sebesar tempat pizza yang dilengkapi dengan es kering cadangan agar bisa bertahan lima hari. Kotak tersebut diisi kurang dari 1.000 dosis vaksin. 

Sumber : Reuters/Associated Press


×